Purity Online - The World For The Fallens

Purity Online - The World For The Fallens
Day 62: Kebebasan (Part 14)



"ROOOAAAAARRRGGHHH!!!"


Azadrasil tertawa jahat ketika Ryugai melesat dengan menunggangi phoenix ke arahnya sambil meraung penuh kemarahan. Seluruh ranting raksasanya yang amat tajam langsung dia panjangkan dan diarahkan ke Ryugai.


Ryugai tersenyum kecil, kemudian menghindar ke atas, memotong beberapa ranting, menggigit pedangnya di mulut, dan mengambil salah satu ranting raksasa. Azadrasil terkejut.


"Tak akan kubiarkan!!!" seru Azadrasil sembari melancarkan buah-buah ranjau miliknya ke arah Ryugai sekaligus melancarkan laser dari seluruh rantingnya.


"Phoenix!! Ke bawah!!" perintah Ryugai.


Ryugai melompat naik ke salah satu ranting, sedangkan phoenix yang ditungganginya terbang turun ke bawah secepat kilat, mengambil satu ranting yang jatuh, dan menggunakannya untuk melindungi punggung Ryugai. Dia menjadi mata kedua Ryugai. Ranting raksasa yang mereka genggam mereka putarkan 180 derajat sesuai dengan arah datangnya serangan untuk melindungi diri.


Sambil menahan semua laser, mereka melompat-lompat dari satu ranting ke ranting lain. Rudal kendali berbentuk buah-buah raksasa tersebut pun menabrak dan menghancurkan ranting-ranting Azadrasil satu-persatu. Lama kelamaan, semua persenjataan Azadrasil habis.


"Sial!!!"


Ryugai bergegas melompat kembali ke punggung phoenix milik Arai dan terbang bersama, kemudian menebas batang pohon raksasa milik Azadrasil. Pohon perkasa itu kehilangan keseimbangan dan akhirnya tumbang ke arah pasukan monster yang langsung lari kocar-kacir agar tidak mati tertimpa pohon, menimpa pesisir pantai hingga air laut bergolak hebat.


Warna putih bersih dari Azadrasil lenyap, digantikan oleh warna kecoklatan. Warna ungu dan hitam yang menyelimuti langit, laut, dan daratan di sekitar juga lenyap. Tampak bahwa langit sudah diwarnai oleh cahaya oranye senja dan matahari sudah mulai mendekati ufuk barat. Sang Senjata Pembalas Azadrasil kini tak jauh berbeda dari pohon raksasa yang sudah mati dan kering kerontang. Namun, kedua mata keemasan yang berada di tengah-tengah batang Azadrasil masih bersinar terang, seolah-olah belum mau menyerah dan belum mau mengaku kalah.


"Tidak ...."


"Tidak ..., ini masih belum selesai ...."


"Pertarungan ini masih belum selesai ...."


"Aku harus menjalankan ...."


"Perintah terakhir ... dari Master Greed ...."


"Aku ... tidak bisa kalah sekarang ..., karena Master Greed ... menyuruhku untuk memenangkan pertarungan ini .... Master Greed ... mengandalkanku!! Aku tak bisa ... mengaku kalah sekarang!!!"


"Masih belum ..., aku masih bisa-"


"Kenapa kau begitu bersikeras untuk melaksanakan perintahnya?" potong Ryugai.


"Kau tahu, dia hanya menganggapmu sebagai alat untuk memenuhi ambisi balas dendamnya. Dia hidup hanya untuk balas dendam, dan kau berjuang demi orang seperti dia? Hidupmu benar-benar menyedihkan, sama seperti mastermu."


"Tidak, manusia!!!" seru Azadrasil. "Kau salah!!! Kau salah besar!!! Kau tidak tahu apa-apa!!! Aku sama sekali tidak menyedihkan, dan Master Greed juga tidak menyedihkan!!! Dia tidak menganggapku sebagai alat!!! Dia ... adalah master terbaik!!!"


Air mata mulai mengalir keluar dari sepasang mata keemasan milik Azadrasil.


"Kau tahu, manusia. Dulu, aku sama sepertimu. Aku juga manusia. Tapi, aku menjalani hidup yang menyedihkan. Desaku habis dibantai oleh para monster. Aku berhasil selamat dan berusaha balas dendam. Di tengah ambisiku, aku bertemu dengan seorang gadis dan jatuh cinta kepadanya, tapi takdir berkata lain. Dia ... dicabik-cabik oleh Dire Wolf ... di hadapanku sendiri ...."


"Setelah itu, aku hidup dalam keputusasaan. Aku mengurungkan ambisiku untuk membalas dendam dan menangisi nasibku seumur hidupku. Akhirnya, aku meninggal pada umur 80 tahun. Sungguh mengejutkan, seorang pria menyedihkan seperti aku bisa hidup selama itu."


"Aku berharap ... bisa menjalani hidup yang lebih baik ..., tapi yang kudapatkan adalah wujud monster kayu. Aku ditakuti oleh semua orang, diusir, dibenci semuanya. Akhirnya ..., aku bertemu dengan orang yang senasib denganku ... yakni Master Greed ...."


"Dengan naif, aku mencoba mengalahkannya, tapi dia terlalu kuat. Aku pun akhirnya tunduk kepadanya. Dia kemudian memberiku kekuatan baru."


"Aku kira dia akan menjadikanku budaknya ..., tapi ... hari itu ...."


Azadrasil mengarahkan kedua mata emasnya ke atas, menatap langit senja. Kilasan memori dari masa lalu kembali berputar di benaknya bagai sebuah adegan film.


"Terima kasih banyak, Master." Azadrasil yang masih berwujud monster kayu tampak tengah berlutut dengan penuh hormat di hadapan Greed."Mulai sekarang ... aku adalah budakmu yang paling setia .... Suruhlah aku melakukan apapun yang kau mau. Kau suruh aku kerja tanpa dibayar sekalipun aku mau. Aku berhutang besar kepadamu."


Greed terkekeh geli, kemudian meraba puncak kepala Azadrasil. "Jangan bercanda. Kau tidak akan menjadi alat, budak, atau pelayanku. Itu semua tidak cocok denganmu. Kau akan menjadi ... rekan seperjuanganku!!"


"Be-Benarkah?!" Kedua mata Azadrasil membelalak lebar."Kau menobatkan makhluk rendahan sepertiku ... sebagai rekan seperjuangan?"


"Tentu saja," sahut Greed. "Nah, karena kau sudah mendapat kekuatan baru, kurasa sebaiknya kau juga mendapat nama baru. Hmm ... mari kita lihat .... Azadrasil? Bagaimana dengan Azadrasil? Azazel dan Yggdrasil. Kombinasi yang bagus, 'kan?"


"Itu cocok denganmu. Kau bagai pohon dunia raksasa Yggdrasil yang perkasa. Walau diterjang oleh berbagai cobaan duniawi, kau masih tetap berdiri kokoh dan tak merelakan akarmu yang tertanam di tanah dengan kuat tercabut."


"Aku berharap ... kau akan terus berjuang demi ras kita, ras monster ..., berjuang dengan penuh semangat dan gagah berani .... Layaknya pohon besar yang sudah dilanda badai dan angin topan, tapi masih belum mau menyerah. Layaknya Yggdrasil."


"Azadrasil .... Kau takkan menjadi alatku ..., atau budakku ..., atau peliharaanku ..., atau senjataku .... Kau ... akan menjadi ... rekanku ...."


"Aku harap ... kau mewujudkan nama itu ...."


"Ya, Master!!! Aku pasti akan mewujudkannya!!!"


"Aku ... menjalani hidup yang menyedihkan dan terkutuk .... Selama aku hidup ... aku belum pernah merasakan ... belas kasih ... ataupun kebahagiaan ... atau kebaikan .... Tapi ..., Master Greed ...."


Air mata mengalir semakin deras, membasahi batang pohon Azadrasil.


"Master Greed ... memperkenalkan kepadaku ...."


"Dunia yang penuh dengan kebaikan ..., relasi ..., dan kenangan ...."


"Karena itulah ..., aku harus terus bertarung."


"Aku tak bisa kalah di sini."


"Aku harus mewujudkan ... impian yang selama ini diimpikan oleh Master Greed ...."


"Meskipun impiannya itu bodoh dan terkesan egois ..., aku tak peduli."


"Aku hanya ingin ... menjalankan ... perintah terakhirnya ..., yakni ... untuk memenangkan perang ini ...."


"Aku harus ... memenuhi misi terakhir ... yang Master Greed berikan kepadaku ...."


Entah kenapa, air mata juga mengaliri wajah Ryugai. Ia tertunduk. Wajahnya tersembunyi oleh bayangan. Untuk pertama kalinya, dia menangisi kematian ras monster, terlebih lagi itu adalah sebuah pohon.


Selama ini, dia berpikir kalau hidupnya dan masalahnyalah yang paling berat. Hidupnyalah yang paling tidak adil. Namun ..., ternyata dia tidak sendiri .... Baik di dunia virtual palsu ini ... maupun di dunia nyata ... ada banyak orang yang senasib dengannya ....


"Begitu, ya ...." Akhirnya Ryugai berucap setelah keheningan dan rintik hujan menguasai suasana selama beberapa saat. "Aku minta maaf ... atas ucapanku tadi ...."


"Kau tahu, Azadrasil? Kau sudah berjuang dengan sangat keras. Mastermu pasti bangga terhadapmu. Mulai sekarang, kau harus meninggalkan dunia pertarungan. Sudah cukup kau mengorbankan hidupmu sendiri."


"Mulai sekarang ..., kau tak perlu hidup ... berdasarkan perintah Greed lagi ...."


"Bebaslah. Kau harus pergi. Menuju kebebasan."


"Apa yang bisa kulakukan untuk mengisi waktu luangku tanpa perintah dan misi dari Master Greed?"


"Banyak sekali." Ryugai menghapus air matanya, kemudian berusaha menghitung dengan jari-jarinya. "Kau pasti akan direinkarnasi setelah ini, 'kan? Jika kau direinkarnasi menjadi manusia, kau bisa bermain voli, basket, bulutangkis, sepakbola, teka-teki, tebak-tebakan, ular tangga, petak umpet, dan banyak lagi. Kalaupun kau direinkarnasi menjadi hewan, setidaknya kau masih bisa bermain kejar-kejaran. Lalu, seandainya kau direinkarnasi menjadi tanaman, kau masih bisa menikmati keindahan alam. Lalu ..., lalu ..., setelah itu ...."


Ryugai tak mampu melanjutkan ucapannya lagi. Air mata semakin deras mengaliri wajahnya, menetes mengenai tangannya yang sedang dalam pose menghitung.


"Yah, pokoknya ada banyak sekali, jadi kau harus mencobanya, ya!! Kau mungkin bisa mendapat pacar baru juga, dan bahkan jika beruntung kau bisa bertemu dengan reinkarnasi dari pacarmu yang telah tiada itu. Dan bahkan jika beruntung, mungkin aku bisa bertemu dengan reinkarnasimu setelah aku tiada nanti!!"


Senyum damai terukir di wajah Azadrasil. Kedua mata keemasannya mulai meredup.


"Begitu, ya .... Aku akan mencoba semuanya. Terima kasih, manusia."


"Terima kasih sudah memberitahuku tentang kebebasan."


To be continued


Next Chapter:


Day 62: The Promised Dragon Toy - A Letter From Heaven (Part 15)


Flip, author depresi pas nulis chapter ini :”( Kok author bisa depresi cuma gara2 pohon ya.