
Otomura berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan anak-anak itu. "Salam kenal," ucapnya dengan ramah sambil mengulurkan tangannya.
Yamamura langsung menyambut uluran tangan itu, sedangkan Aojin sempat ragu, tapi akhirnya ia berani menyambut uluran tangan Otomura dengan tangan mungilnya. "Salam kenal," ucap mereka bersamaan.
"Ngomong-ngomong, kau mau minum apa?" tanya Ryugai.
"Kau punya kopi?" tanya Otomura sembari merebahkan bokongnya di sofa dan duduk bersandar.
"Tidak."
"Kalau teh?"
"Tidak."
"Sirup?"
"Tidak."
"Jus?"
"Tidak."
"Minuman bersoda?"
"Tidak."
"Lalu, yang kau punya apa?"
"Air putih."
"KALAU GITU NGAPAIN KAU NANYA TADI?!" seru Otomura gusar sambil bangkit berdiri dari sofa yang didudukinya, sedangkan Ryugai dan Yuukaru terkekeh geli.
"Cuma bercanda. Baiklah, kopinya akan segera siap. Yuukaru, tolong, ya."
"Huh. Dari tadi, kek."
"Kau ini baperan sekali."
"Sudah, sudah." Yuukaru menengahi. "Dasar kalian ini ...."
Yuukaru pun pergi ke dapur untuk membuatkan kopi, sedangkan Ryugai dan Otomura berbincang-bincang di ruang tamu.
"Kau masih bekerja sebagai pengurus di panti asuhan itu?" Otomura membuka pembicaraan.
"Enak saja. Aku ini sudah naik jabatan jadi kepala panti," sahut Ryugai membanggakan dirinya. "Ngomong-ngomong, tumben kau punya waktu luang. Naskahmu sudah selesai?"
"Tentu saja belum," ujar Otomura.
"Lah? Terus, bagaimana caranya kau bisa keluar?" Ryugai terkejut.
"Aku menyabotase sistem keamanan, lalu kabur dengan cara menyamar."
"Hah?! Kau serius?!"
"Lalu naskahmu bagaimana?" tanya Ryugai.
"Bodo amat dengan naskah itu." Otomura menyilangkan kedua lengannya di belakang kepala, menatap langit-langit dengan wajah yang tampak lelah. "Aku sudah bosan hidup seperti tahanan di penjara."
"Lalu kalau editormu tahu bagaimana?"
"Yah, kita lihat saja berapa lama aku bisa lolos dari-"
Belum selesai Otomura berbicara, hologram phone miliknya sudah berdering. Dia segera mengeluarkannya dari saku sambil menelan ludah. Perasaannya tidak enak. Dia sudah bisa menduga itu telepon dari siapa.
"Pak Otomura!!! Kenapa anda kabur dari kamar anda?! Naskah anda bagaimana?! Percetakan sudah lama menunggu!!! Anda mau reputasi anda anjlok?" Sosok seorang pria paruh baya muncul di layar hologram, menyemburkan kegusarannya.
*glek*
"Tuh, 'kan," batin Otomura. Seperti dugaannya, si penelepon adalah editornya sendiri.
"A-Anu, Pak .... Cuma mencari udara segar .... Hahahaha," ucap Otomura sambil menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya.
"KEMBALI KE HOTEL DAN SELESAIKAN NASKAH ANDA SEKARANG JUGA!!!"
"Siap, komandan!!" Secara spontan Otomura bersikap layaknya seorang prajurit yang sedang memberi hormat kepada atasannya.
"Maaf, aku pamit dulu. Editorku sudah ngamuk, hahaha. Sampai jumpa!!" ujar Otomura salah tingkah. Dia bergegas mengenakan jaket dan sepatunya, kemudian melesat dengan kecepatan yang menyamai cahaya, kembali ke kamar hotelnya.
"Oke, bye!!" sahut Ryugai sambil turut melambaikan tangannya.
Pria berambut biru tersebut menatap keempat cincin yang terpasang di jari-jari tangannya, lalu tersenyum dengan wajah yang terlihat sedih. "Sudah 19 tahun berlalu semenjak kejadian itu, ya .... Shiro ..., Akiyama ..., Genbu ..., dan Arai .... Apa kabar mereka, ya?"
"Tunggu. Apa yang aku pikirkan? Konyol sekali. Kenapa aku merindukan kumpulan data?"
"Tapi ...." Ryugai menatap ke luar jendela, melihat salju yang berjatuhan menghiasi gelapnya malam."Jika bukan karena mereka ..., mungkin aku tidak akan bisa sampai di titik ini ...."
Tak lama setelah Otomura pamit, Yuukaru keluar dari dapur dengan dua gelas kopi hangat di tangannya. Dilihatnya sofa tempat Otomura tadi duduk sudah kosong dan pintu depan terbuka. Kebingungan tersirat di wajahnya.
"Lho? Kak Otomura ke mana?" tanyanya.
"Sudah pulang," jawab Ryugai. "Dia habis diceramahi editor. Yah ..., kita doakan saja semoga dia selamat dari semprotan kemarahan sang editor."
Sementara itu, di kamar hotel Otomura ....
“Ayo, cepat!!!” seru editor sambil menyilangkan lengannya di depan dada. “Cepat, cepat, cepat!! Sudah banyak waktu terbuang ini ....”
“Gimana inspirasiku bisa mengalir kalau bapak menyuruhku buru-buru begitu?!” ujar Otomura sembari menekan tombol-tombol di hologram keyboard dengan kecepatan yang setara dengan kilat.
“Salah anda sendiri pakai acara kabur dari kamar segala!!”
“HUAAAAAAA!!! AKU SUDAH KAPOK KABUR LAGI!!!”
To be continued
Konfliknya belum mulai, kita SoL dulu ya biar gak tegang :v Seperti biasa, jangan lupa tinggalkan jejak berupa vote dan comment.