Purity Online - The World For The Fallens

Purity Online - The World For The Fallens
Day 62: Kabar Kemenangan (Part 18)



Midori Cliff B6 adalah bagian dari kamp pengungsian yang berada di tengah dan terletak paling jauh dari ujung tebing. Semua orang yang berada di sana tampak risau. Ada yang menatap langit dengan cemas, ada yang mati-matian berdoa, ada yang berusaha untuk tetap berpikir optimis, dan ada pula yang hanya bisa meringkuk dengan tubuh yang gemetaran di dalam tenda mereka karena ketakutan setengah mati. Bahkan hanya suara langkah atau hentakan kaki saja sudah mampu membuat jantung milik kelompok yang diliputi ketakutan ini melompat. Seolah-olah suara langkah kaki manusia lebih mengerikan daripada hantu.


Ya, wajar saja, sih. Walau kamp pengungsian ini dilindungi oleh empat batalyon pasukan di empat arah mata angin, tak ada jaminan bahwa pasukan 99 ras monster takkan mampu mencapai tempat ini. Mereka tak tahu seberapa besar kekuatan para monster itu. Bisa saja kekuatan pasukan musuh melebihi kekuatan pasukan ras manusia. Nyawa mereka bisa hilang sewaktu-waktu. Ini benar-benar situasi di ujung tanduk, antara hidup dan mati.


"Pak Kepala Desa!!!"


Seorang pria berlari tergopoh-gopoh dari arah kamp area 4 ke kawasan pengungsian bagian 5 ini. Keringat membanjiri tubuhnya. Dia berhenti dan membungkukkan tubuhnya, kemudian berusaha mengatur napasnya dengan cara menarik napas dalam-dalam dan menghirup udara segar. Dia benar-benar nyaris kehabisan napas.


Kepala Desa yang kebetulan sedang berada di luar tenda untuk menatap bintang-bintang yang berkilauan dengan indah langsung menolehkan kepalanya ketika beliau mendengar seruan tersebut. Begitupun para pengungsi, baik yang berada di dalam maupun di luar tenda. Perhatian mereka semua segera teralihkan oleh suara pria itu.


"Ada apa? Jangan tergesa-gesa begitu. Atur dulu napasmu," ucap Sang Kepala Desa sambil menyerahkan sebuah botol berbahan kulit hewan yang penuh berisi air kepada pria itu.


Pria tersebut segera menerimanya dan menenggaknya, kemudian mengusap air yang menempel di bibirnya menggunakan pergelangan tangan. Diserahkannya kembali botol itu kepada Kepala Desa.


"Terima kasih, Pak Kepala."


"Jadi? Apa yang ingin kau sampaikan?" tanya pria paruh baya yang menjabat sebagai Kepala Desa tersebut sembari mengambil kembali botol kulit miliknya.


"Pe-Perang!! Perang sudah berakhir ... dengan kemenangan di pihak kita!!! Sang Pahlawan Ryugai telah berhasil mengalahkan senjata terkuat milik Greed!!!" seru pria itu sambil tersenyum gembira. "Sekarang, pasukan militer sedang menuju kemari untuk mengantar kita pulang ke desa, karena bisa jadi persetujuan perjanjian perdamaian itu cuma perangkap yang dipasang oleh pasukan musuh."


"Benarkah?!" Kepala Desa terperanjat. "Apa itu benar?!"


"Ya." Sang pria mengangguk. "Kebenarannya bisa kujamin!!"


Suasana yang tadinya tegang kini langsung cair dan digantikan oleh kebahagiaan. Sorakan-sorakan dan teriakan-teriakan penuh kegembiraan mengalahkan suara serangga dan hewan malam yang tadinya menguasai suasana. Kakek Yurato, Otomura, dan Yuukaru yang mendengar kabar itu ikut bersorak penuh kegembiraan.


"Berarti, Ryugai berhasil, 'kan?" ucap Otomura sambil tersenyum memamerkan gigi-gigi putihnya.


"Ya, dia akan segera pulang kemari, dan kita akan pulang bersama ke Desa Arafubi!!" sahut Yuukaru dengan riang. "Sudah kuduga, dia takkan mati semudah itu dalam perang!! Dia memang hebat!!!"


"Ya, ya. Pacarmu memang hebat," goda Otomura.


"Sudah berkali-kali kubilang, dia bukan pacarku!!" Yuukaru menggembungkan pipinya, membuat Kakek Yurato dan Otomura tertawa.


"Kau harus menyambutnya ketika dia datang nanti," timpal Kakek Yurato.


"Ya." Yuukaru menatap langit berbintang yang indah dengan senyum masih tergambar di wajahnya. "Akan kuberi dia sambutan terbaik!!"


To be continued


Next Chapter:


Day 62: Memori Langit Berbintang (Part 19)