Purity Online - The World For The Fallens

Purity Online - The World For The Fallens
Day 63: Comeback (Part 13)



"Keajaiban mungkin hanya omong kosong, tapi ...."


"Aku ... tidak bisa berhenti berjuang sekarang!!!"


"Dia sudah banyak berjuang untukku ...."


"Dan sekarang giliranku!!"


"Iruna, kau adalah adik yang sangat kuat."


"Kau tidak akan menyerah semudah itu, 'kan?!"


"Kau takkan kalah, 'kan?!"


"Kumohon, sampailah, sampailah."


"Sampailah!!!"


"Sinterklas, Dewa, Tuhan, atau siapapun ...."


"Sampaikan pesan ini kepadanya!!!"


"Iruna ...."


"Jangan menyerah!!! IRUNA!!!"


"KAU TAKKAN KALAH, 'KAN?!"


"KARENA KAULAH YANG MENGAJARIKU ARTI DARI KEHIDUPANKU YANG KELAM INI!!!"


Suara itu menggema di dimensi, menerobos ruang dan waktu hingga terdengar oleh Iruna yang sedang tenggelam di dalam lautan darah dan dipenuhi keputusasaan.


"Ka ... Kakak ...."


"HEI!! IRUNA!!! KAU TAK AKAN KALAH HANYA DARI INI, 'KAN?!"


"JADI BANGUNLAH!!!"


"TUNJUKKAN KEPADA MEREKA BAHWA KAU BUKAN ORANG YANG LEMAH!!!"


"KAU MASIH INGAT, 'KAN?! JANJI KITA PADA WAKTU ITU!!!"


"Janji ... pada waktu itu?"


Kilasan memori dari masa lalu mulai berputar di benak Iruna. Sebuah kilas film ketika dia sedang duduk di tangga teras rumah bersama kakaknya pada musim semi, menikmati indahnya bunga-bunga sakura yang bermekaran.


"Dulu pohon ini sangat kecil, ya?" ucap Otomura sembari memandang lurus ke arah ranting-ranting rimbun yang diselimuti oleh warna merah jambu. "Dia pasti juga melihat tragedi-tragedi yang terjadi di keluarga kita. Meski hanya sebuah pohon, dia juga anggota keluarga kita. Dia juga pasti merasa sedih."


"Ya," timpal Iruna. "Akan tetapi, dia terus berusaha keras dan akhirnya menghasilkan bunga-bunga sakura yang indah ini."


"Kuharap kita juga bisa seperti dia," ucap Otomura.


"Tentu saja, kakak. Perjuangan kita selama ini takkan sia-sia," sahut Iruna. "Kita akan memekarkan bunga-bunga yang bahkan jauh lebih indah daripada semua bunga sakura ini."


"Janji, ya?" Otomura mengulurkan jari kelingkingnya.


Iruna tersenyum sambil mengaitkan jari kelingking mungilnya dengan kelingking Sang Kakak."Janji!!"


"Kita sudah berjanji, 'kan?!"


"YA, 'KAN?!"


"Janji itu sudah bertahan sangat lama ...."


"Masa' kau mau mengingkarinya sekarang?!"


"Karena perjuangan kita belum selesai!!!"


"Kita akan memekarkan ... bunga-bunga yang lebih indah dari bunga manapun di dunia, bukankah kau yang mengatakan itu?"


"Bangunlah supaya kita bisa memenuhi janji itu bersama!!!"


"Selama ini, kau selalu menyemangatiku ...."


"Masa' kau tidak bisa menyemangati dirimu sendiri?!"


"Kau ingin menyerah sekarang?! Yang benar saja!!! Jangan bercanda, bodoh!!!"


Senyum penuh semangat mulai terukir di wajah Iruna."Benar juga .... Aku ... lupa akan janji itu ...."


"Aku harus memenuhinya ...."


"Ini bukanlah akhir ...."


"Semuanya belum selesai ...."


"Aku tidak akan membiarkan ending-nya seperti ini!!!"


"Aku sudah banyak menyemangati orang lain ..., dan sekarang menyemangati diriku sendiri saja aku tidak bisa?! Dasar bodoh!!!"


Iruna mulai berenang ke permukaan dari lautan darah yang menenggelamkannya."Itu dia!!! Aku masih belum bisa menyerah!!! Sampai kisah hidupku benar-benar berakhir dengan Happy Ending!!!"


"Begitu, ya ...."


"Kenapa aku tidak sadar dari awal ...."


"Sejak lahir ... aku tidak pernah ditakdirkan untuk menjadi beban!!!"


"Kenyataannya adalah ... aku ditakdirkan untuk menyelamatkan dan melindungi harapan orang lain!!!"


"Aku bukanlah beban!!!"


"Aku ... ADALAH SEORANG PENYELAMAT!!! SEORANG PAHLAWAN!!!"


"AKU AKAN TERUS BERJUANG!!! DEMI MELINDUNGI SENYUMAN MEREKA SEMUA!!!"


"Aku ... akan menciptakannya ...."


"Dunia tanpa penderitaan ..., di mana semua orang bisa tersenyum dengan bahagia!!!"


"Aku takkan kalah dari penyakit ini ...."


"AKU AKAN TERUS BERTARUNG!!!"


Setelah beberapa detik yang diisi oleh perjuangan, akhirnya Iruna tiba di permukaan lautan darah. Dihembuskannya karbon dioksida kuat-kuat dan dihirupnya oksigen. Despair yang tengah menunggu di atas permukaan lautan darah dan telah yakin bahwa Iruna akan ditelan oleh keputusasaan selamanya menatap tak percaya.


"Mustahil!!! Bagaimana kau bisa keluar dari dasar lautan keputusasaan?!" serunya dengan suara berat. Diluruskannya kedua tangan hitamnya ke arah depan. "A-Aku takkan membiarkanmu kembali ke alam nyata!! Akan kuhisap semua harapanmu itu!!!"


Despair mencoba memunculkan pusaran hitam untuk menghisap Iruna, tapi gadis kecil tersebut menahannya menggunakan telapak tangan kanan yang dilapisi oleh cahaya berwarna putih bersih.


"I-Itu ... cahaya harapan .... Jangan-jangan ...."


"Ya," sahut Iruna. "Aku sudah menemukan alasanku untuk terus bertarung."


"Eksistensi yang harusnya dihisap sampai tak tersisa itu ... ADALAH EKSISTENSI KALIAN!!!" seru Iruna sembari memunculkan pusaran cahaya. Diiringi jeritan tertahan, Despair terhisap masuk ke dalam pusaran cahaya. Berniat kembali ke alam nyata, Iruna pun melompat ke dalam pusaran tersebut.


To be continued