
"Hoaaaaaaahhhmm."
Ryugai bangkit dari posisi berbaringnya, kemudian menguap dan menatap jam di dinding kamarnya. Jam 5 pagi. Di luar masih remang-remang dan bahkan cahaya merah fajar baru tampak satu-dua berkas. "Sudah jam segini, ya? Sial. Kenapa harus kelasku yang dapat giliran masuk lebih awal, sih?" keluhnya.
Ya, ini bukan salah adegan. Ryugai bangun lebih pagi daripada Yuukaru dan Otomura. RYUGAI BANGUN LEBIH PAGI DARIPADA YUUKARU DAN OTOMURA. Sejak masuk kelas Teknik Sihir Perburuan dan Pertarungan, ia menjadi lebih rajin. Ya ..., walau kelihatannya sifat rajinnya itu karena terpaksa, sih .... Namun, itu tetaplah sebuah kemajuan.
"Sebaiknya aku segera mandi, berganti baju, dan berangkat. Aku tidak mau terlambat."
Ryugai pun segera keluar dari kamarnya, berniat mengambil handuk. Namun, sesuatu mengalihkan perhatiannya. Di atas kotak sandal dekat pintu masuk, secarik kertas tergeletak. Pemuda itu bergegas menghampirinya dengan perasaan aneh dan penasaran karena saat mengunci pintu semalam ia tidak melihat kertas di sana. Keterkejutan menghampiri wajahnya ketika ia membaca tulisan di kertas tersebut. Huruf-hurufnya terukir dengan tinta merah yang seolah mengancam. Berbunyi: 'JANGAN BERLATIH ATAU KAU AKAN MERASAKAN AKIBATNYA.'
"Ja-Jangan berlatih?! Apa maksudnya tentang Turnamen Tahunan Wajib Maximus Potentia?"
Ryugai mengangkat surat itu dan memerhatikannya dengan teliti.
"Gaya penulisannya mirip dengan Arai, tapi mana mungkin Arai melakukan ini. Surat ancaman ini pasti perbuatan seseorang yang iri pada posisiku dan berusaha menjatuhkanku. Sial. Seandainya di desa ini sudah ada teknologi pencocokan sidik jari, pasti aku bisa tahu ini perbuatan siapa."
Pandangan Ryugai kembali teralihkan oleh sesuatu yang terletak tepat di atas kotak sandal. Sehelai rambut pendek berwarna hitam legam.
"Rambut pendek berwarna hitam legam? Tunggu, murid pria berambut hitam yang memiliki dendam kepadaku, 'kan ..!!" Kedua mata Ryugai terbelalak.
Namun, ia segera mengusir dugaan tersebut dari pikirannya. "Dugaan yang konyol. Bukankah ada murid pria lain selain dia yang juga berambut hitam? Jangan asal menuduh dulu, Ryugai. Ingat, kau bukan detektif."
"Tapi, bukannya pintunya sudah kukunci semalam? Lalu bagaimana caranya si pelaku membukanya?"
"Sebaiknya kurahasiakan saja soal surat ini," ucapnya sambil meremas dan membuang kertas surat tersebut ke tong sampah, kemudian mencabut peniti itu dari lubang kunci dan menyimpannya. Ditutupnya pintu rumah, kemudian kedua kakinya melangkah, bergegas mengambil handuk.
"Paling juga cuma ulah orang iseng atau orang yang iri, tapi tak bisa diremehkan. Bisa jadi nanti ancaman itu akan benar-benar menjadi menakutkan."
Pemuda berambut biru itu melangkah ke kamar mandi sambil menenteng handuk di bahu kanannya. Ia tersenyum seolah menantang.
"Kalau kau ingin menjatuhkanku, maka aku juga takkan melepaskanmu. Saat ini mungkin aku tak tahu siapa dirimu, tapi suatu saat nanti, identitasmu akan terkuak ...."
"Seperti benang merah yang ditarik keluar dari bayang-bayang misteri ke bawah cahaya pengungkapan ...."
"Apa yang kukatakan?! Bodoh!!" Ryugai terkekeh, menertawakan dirinya sendiri sambil mengacak-acak rambut birunya. "Kenapa aku bertingkah layaknya Sherlock Holmes? Aku bukan detektif."
"Sebaiknya aku segera bersiap-siap sebelum terlambat dan diceramahi oleh guru konseling."
To be continued
Yoo!! Kembali lagi bersama author :v Kalian sudah tahu, 'kan, siapa suspect yang dimaksud oleh Ryugai? Lalu benarkah dia pelaku yang mengirim surat ancaman itu? Saksikan di chapter berikutnya :v
Sekian untuk chapter kali ini. Terima kasih atas waktu yang telah kalian luangkan dan sampai jumpa di chapter selanjutnya. Jangan lupa tinggalkan jejak berupa kritik, saran, vote, dan comment, Bye!!!
-Author