Purity Online - The World For The Fallens

Purity Online - The World For The Fallens
[Season 2] Chapter 36: Menyusun Strategi



"Aku juga punya ... sesuatu untuk kulindungi ...."


"Bahkan ...."


"Lebih banyak dari punyamu."


Rudolf menyeringai, tampak bersemangat melihat api semangat yang berkobar di pupil mata Yamamura. Kelihatannya dia merasa tertantang.


"Kau ternyata lebih hebat dari yang kubayangkan. Aku telah melakukan sebuah kesalahan besar dengan meremehkanmu hanya karena rank-mu rendah. Kau adventurer pertama yang berhasil keluar dari dunia mimpi burukku. Persenjataan, skill, dan kekuatan fisikmu memang tidak seberapa, tapi mentalmu itu sangat kuat seperti baja."


"Apa kau sedang mengakuiku?" tanya Yamamura. Dia tersenyum senang. "Apa itu artinya kau menyerah?"


"Tentu saja tidak, bodoh," sahut Rudolf. "Meski kau berhasil mendapat keberanianmu kembali, tapi tampaknya kau lupa kalau invisible body armor milikku ini bukan ilusi. Senjatamu tidak akan bisa menembus zirah transparan ini. Sampai kapanpun, keberanianmu itu tidak akan berubah menjadi kekuatan."


Untuk beberapa saat, suara hembusan angin dari badai salju mengisi suasana, lalu jeritan penuh kepanikan yang nyaring terdengar setelahnya.


"AAAAAAHHH!!! AKU LUPA KALAU DIA MASIH PUNYA ZIRAH TRANSPARAN ITU!!!"


(Author: Udah dikasih dialog keren, eh malah lupa hal penting begitu _-" Gimana sih ini chara. Yang becus dong jadi MC.


Yamamura: Kau, sih, gak ngingetin aku!! >:v


Author: Lah, salah sendiri keasyikan.)


"Kukira dia adventurer cilik yang jenius, ternyata cuma seorang anak bodoh," batin Rudolf dengan bulir keringat mengaliri keningnya.


"Mati, deh, aku!! Gimana, nih?! Kalau begini situasinya gak ada bedanya dengan yang tadi!!" ucap Yamamura dengan panik. "Aku harus gimana, nih?"


"Kelamaan mikirnya!!! Aku serang duluan aja!!" Rudolf berseru sambil berlari ke arah Yamamura, bersiap untuk menyeruduk.


"Waaaa!!!"


Secara refleks, Yamamura langsung melompat ke samping dan berguling untuk menghindari serudukan rusa monster itu. Itu terus diulanginya sampai gulingannya kebetulan berakhir di dekat busurnya. Dia mengambil busur itu dan kembali menghindari serudukan, lalu berlari memutari si rusa untuk menyulitkannya menyeruduk.


"Kalau aku pakai panah lagi, sudah pasti tidak akan mempan. Sial ..., ternyata dunia nyata benar-benar berbeda dengan anime, manga, dan novel shounen. Power of friendship dan power of fighting spirit tidak bekerja di sini. Mau aku terus pantang menyerah pun pasti aku akan kalah kalau tidak menggunakan otak."


(Ryugai: Si author keknya lagi nyindir, nih.


Yuukaru: Iya, bau-bau sindiran halus.


Author: Yah. Ketahuan, deh :v)


"Aku harus mengatur strategi. Ayo, Yamamura. Gunakan otakmu. Cari kelemahannya, cari kelemahannya, cari kelemahannya ...."


Anak panah milik Yamamura terlepas dari tali busur dan melesat menuju mata kiri Rudolf. Namun, dengan cepat serangan itu dihindari oleh Rudolf dengan memiringkan kepalanya.


"Sudah kuduga ...." Bocah itu tersenyum. "Kelemahannya ada di matanya!! Kalau matanya juga diselimuti pelindung transparan, harusnya dia tak perlu menghindari seranganku."


"Sial ..., kelihatannya dia menyadari kelemahanku ...." Rudolf membatin. "Tapi ..., aku tak perlu panik ..., karena aku masih punya itu ...."


"Sekarang, masalahnya adalah bagaimana caranya supaya dia tidak bisa menghindari panahku," batin Yamamura.


"Satu-satunya tempat di mana dia tidak bisa bergerak bebas adalah udara. Tapi ..., itu artinya aku harus menembakkan panah bertubi-tubi supaya dia terpaksa melompat ke atas untuk menghindar, kemudian memanah lagi sebelum dia bisa mendarat di tanah. Apa aku bisa bergerak secepat itu?"


"Oh, iya. Aku, 'kan, punya skill controller arrow. Tapi tunggu dulu, jika ditembakkan begitu saja pasti monster rusa tersebut akan bisa menghindarinya dengan mudah."


Mendadak, sebuah ide terlintas di benak adventurer muda berambut keemasan itu. Senyum terukir di wajahnya.


"Benar juga ...."


"Ada cara itu!!!"


To be continued


Yaps, kita bertemu lagi!! Maafkan author yang akhir-akhir ini jarang update. Soalnya kecanduan nonton Kamen Rider Kabuto *ditampol readers*


Readers: NIAT JADI NOVELIS KAGA SIH NI ORANG?!


Author: Niat, sih, tapi masa nulis mulu tiap hari. Capek, lah. Bosen. Saya juga butuh hiburan.


Readers: Kalau begitu, kau saja yang jadi bahan hiburan kami *mendadak **killer lust keluar dari tubuh semua readers dan entah sejak kapan semuanya udah megang katana***


Author: Anu .... Ini hiburan apaan, ya?


Readers: Pertunjukan mutilasi author XD


Author: TIDAAAAAAAAAAKKKKKKKKKKK!!! *lari dengan kecepatan menyamai The Flash, diikuti oleh para pembaca novel yang mengejarnya dengan tatapan yang dipenuhi nafsu membunuh*


Ryugai: Yak, karena authornya lagi dikejar readers, jadi saya aja deh yang closing. Terima kasih sudah membaca dan sampai jumpa di chapter selanjutnya!!


Next Part:


[Season 2] Chapter 37: Strategi Dipatahkan?! Sang Penyihir Ilusi