
"Wah!!! Ternyata Arai menguasai teknik Summoning dari jurusan Flora dan Fauna Sihir!!! Kejutan yang mengesankan!!!"
"Bagaimana? Hebat, 'kan?" ucap Arai dengan bangga, sementara phoenix yang ditungganginya melontarkan puluhan bola api seukuran manusia dewasa ke arah Ryugai. Namun, semuanya berhasil dihindari.
"Belakang!!" Secepat kilat, Sang Phoenix melesat ke arah belakang Ryugai dan mencengkeram bahunya, membawanya naik.
"U-Uwagh!!" Ryugai yang tadinya amat percaya diri kini terlihat panik. Ia meronta-ronta, berusaha melepaskan diri dari phoenix yang mencoba membawanya dan melemparkannya ke luar arena. Ditebasnya kaki phoenix tersebut, membuat dirinya jatuh dari ketinggian setara lantai tiga. Sang Phoenix menjerit kesakitan dengan suara layaknya seekor elang. Ryugai segera melemparkan dorongan energi berwarna hitam kelam ke tanah secara berulang-ulang supaya bisa mendarat dengan aman.
"Fuh ...." Ryugai menghela napas lega ketika dirinya berhasil mendarat di tanah dengan sempurna. Pemuda itu mengira dia akan tewas karena jatuh dari ketinggian. Jantungnya masih berdegup kencang dan keringat dingin masih mengaliri sekujur tubuhnya. Dengan susah payah, ia berusaha mengatur napasnya. Apa Arai benar-benar ingin membunuhnya? Tidak, dia temannya. Bahkan sahabatnya. Tak mungkin pemuda tersebut punya niat untuk membunuhnya.
"Kau lengah!! Bagian belakang tubuhmu terbuka!!" seru Arai sambil melancarkan serangan bola api ke punggung Ryugai.
Menyadari bahwa dirinya sedang berada dalam posisi yang berbahaya, Ryugai bergegas membalikkan tubuhnya dan menciptakan perisai kegelapan. Dia berhasil menghindar di saat yang tepat.
"Kalau begitu, terpaksa," ujar Ryugai sambil mengarahkan telapak tangannya ke samping. Semacam segel cahaya hitam berbentuk daun timbul di sana. "Datanglah, Inukai!!"
Ulat hitam raksasa mendadak muncul di samping Ryugai, meraung-raung layaknya singa, kemudian melontarkan sepuluh bola energi kegelapan dari mulutnya. Dengan sigap, Arai menghindari semua bola kegelapan tersebut.
"Wah!!! Ternyata Ryugai juga menguasai teknik Summoning!!! Summon Animal manakah yang akan menang?!"
"Percuma!! Ulatmu tak bisa terbang!!!" seru Arai sambil mencengkeram ulat raksasa milik Ryugai dan mencoba membawanya naik, tapi gagal. Hewan itu terlalu berat. Malah akhirnya Arai beserta burung phoenix miliknya yang nyaris jatuh ke tanah karena dihempaskan oleh Sang Ulat.
"Kalau begitu, bagaimana dengan ini?"
Arai menjentikkan jarinya, kemudian mendadak cakar di kedua kaki phoenix yang ia tunggangi memanjang. Kedua mata Sang Phoenix bersinar keemasan. Burung besar tersebut segera mencakari Inukai dengan kecepatan yang nyaris menyetarai kilat. Inukai meraung, kemudian melindungi dirinya dengan perisai kegelapan. Karena perisai itu, beberapa kuku jari phoenix patah. Inukai kembali melontarkan bola-bola energi kegelapan dari mulutnya dan mengenai phoenix itu dengan telak.
"Sial!! Keras juga!!" umpat Arai. Ia terbang menjauh. Kuku-kukunya yang patah serta kaki kanannya yang tadi terpotong tumbuh kembali dan pulih hanya dalam tiga detik. Ryugai, komentator, serta para penonton tercengang melihat itu.
"Wah!! Rupanya peliharaan milik Arai memiliki kemampuan Auto-Heal!!! Sisa waktu pertandingan hanya dua menit lagi. Siapakah yang akan menang?"
"Cuma dua menit, ya?" ucap Ryugai sambil menatap Arai yang sedang menunggangi phoenix miliknya. "Kalau begitu, aku harus serius."
Ulat milik Ryugai mendadak diselimuti oleh lapisan cahaya hitam yang amat pekat, kemudian bertransformasi di dalam lapisan cahaya tersebut. Selang beberapa saat, wujud barunya pun terlihat. Seekor capung raksasa.
"Wah, kelihatannya peliharaan milik Ryugai sudah memasuki phase kedua!!!"
Arai tersenyum. "Jadi kau sudah mulai serius, ya, Ryugai?"
To be continued