
Matahari bersinar cerah seperti hari-hari sebelumnya. Udara terasa hangat. Pohon-pohon sakura dan beberapa jenis pohon lainnya tampak bergoyang-goyang diterpa angin, tapi tetap bertumpu pada akarnya yang kuat. Sesekali kicauan burung mengisi suasana, menentramkan hati semua orang yang mendengarnya. Di atas pohon-pohon tersebut, awan-awan putih melintas perlahan, memayungi kota Tokyo. Di rumah keluarga Yuzumoto, tampak dua orang anak lelaki baru saja menyelesaikan pekerjaan rumah mereka di sebuah kamar. Ya, mereka adalah Aojin dan Yamamura.
"Akhirnya selesai juga!!" Yamamura meregangkan tubuhnya, mengangkat kedua lengannya ke udara.
"Aku juga," sahut Aojin sembari menutup bukunya.
Kedua anak itu menolehkan kepala mereka ke jendela kamar yang gordennya terbuka dan menatap pemandangan musim semi yang indah. Tanpa sadar, senyum tipis terlukis di wajah mereka berdua.
"Hei, Aojin. Mau mencoba hadiahku yang kemarin?" tanya Yamamura sambil menoleh ke arah adiknya.
"BeltSphere Virtual Diver? Boleh saja," sahut Aojin. "Siapa yang akan log in duluan?"
"Bagaimana kalau kita tentukan lewat suit?" usul Yamamura.
"Ide bagus!"
Aojin dan Yamamura bergegas melakukan suit.
"Gunting, batu ..., kertas!!"
Aojin mengeluarkan batu, sedangkan Yamamura mengeluarkan kertas. Aojin tampak kecewa sementara Yamamura tersenyum penuh kemenangan.
"Akulah yang akan melakukan log in duluan," ucap bocah itu dengan riang.
(Yamamura: Bisa gak berhenti panggil gua bocah, thor? -_-"
Author: Lah, 'kan, kamu emang bocah umur dua belas ta- *menghindar dari gaplokan Yamamura* Gak kena, gak kena. Weeeee :p
Yamamura: *mengeluarkan aura hitam yang menyeruak*
Author: Waduh, dia udah masuk killer mode. Kabur ah :p
Yamamura: WOI!!! *ngejar*
Ryugai: Nih author dari gua masih jadi pembunuh sampai gua udah tobat, kerja, nikah, dan punya anak, masih aja sableng -_-"
Otomura: Yah, namanya juga author :v Kalo gak sableng, bukan author namanya)
"Ya, deh. Kau yang mencobanya duluan," ucap Aojin menerima kekalahannya.
Yamamura mengambil kotak kardus Beltsphere Virtual Diver dari dalam lemari di bagian bawah mejanya, lalu mengeluarkan kotak disk, buku panduan, dan Beltsphere Diver dari dalam kardus itu. Ia membaca sekilas buku panduan tersebut. Langkah-langkah penggunaannya tidak terlalu sulit, hanya perlu memasukkan disk ke dalam disk slot di dalam Sphere Part, mencolokkannya ke sumber listrik, dan memasang Choker Neklace di leher.
"Baiklah." Bocah berambut keemasan itu membuka kotak disk dan mengambil disk game Neironius Online.
"Kalau tidak salah, ini game yang baru rilis beberapa hari lalu, 'kan?" Yamamura tersenyum. "Ayah benar-benar membelikannya untukku?"
Ia memasukkan disk game ke disk slot, melepas Choker Neklace dari Sphere Part, dan mencolokkan Sphere Part ke stop kontak di dinding kamar. Dia berbaring di tempat tidurnya, kemudian memasang Choker Neklace di lehernya.
"Nanti ceritakan kepadaku pengalamanmu bermain, ya," pesan Aojin.
"Tentu saja," ujar Yamamura sebelum menekan tombol ON / OFF di Choker Neklace.
Tepat setelah dia menekan tombol ON / OFF, Sphere Part memancarkan sinyal ke Choker Neklace. Sinyal tersebut langsung terhubung ke saraf tulang belakang dan otak, memanipulasi sinyal-sinyal elektrik yang digunakan oleh tubuh untuk berkomunikasi. Namun, perangkat itu tidak sepenuhnya memblokir sinyal-sinyal elektrik asli dari dunia luar yang hendak masuk ke otak.
Sinyal-sinyal elektrik palsu yang dipancarkan oleh BeltSphere Diver langsung memanipulasi otak Yamamura dan membuatnya masuk ke dalam Virtual World. Cahaya putih seketika memenuhi pandangannya. Sensasi-sensasi aneh mulai merambati tubuhnya. Mungkin penyebabnya adalah ini pertama kalinya dia bermain game virtual-reality.
[Sight system: On]
[Sensing system: On]
[Smell system: On]
[Taste system: On]
"Selamat datang." Suara seorang gadis yang terdengar ramah terdengar, bersamaan dengan munculnya tulisan 'START' besar tepat di hadapannya.
"Apakah anda ingin membuat character baru atau menggunakan character yang sudah ada?"
"Karena ini kali pertama aku bermain, kurasa ... aku akan membuat character baru!!"
"Dimengerti. Silakan ketik player name anda."
Sebuah hologram keyboard segera muncul di depan Yamamura.
"Player name, ya? Aku akan menggunakan nama yang keren!! Bagaimana kalau ...."
"Spongebob?"
(*duak!!*
Author: WOE JANGAN RUSAK SCRIPT SAYAAAA!!!
Yamamura: Mweheheheheh balas dendamku tercapai. Makanya jangan ngatain saya bocah.
Author: SINI KAMU!!!
Aojin: Mantep, sekarang dua-duanya sama-sama sableng -_-"
Ryugai: Udahlah aku yang lanjutin aja. Daripada gak selesai-selesai. Pada sableng semua, nih)
"Bagaimana kalau Izanagi? Kurasa itu akan menjadi nama yang cukup keren," ucapnya sambil mengetik di hologram keyboard, lalu menekan tombol enter.
"Nama Izanagi belum digunakan oleh player lain, jadi anda bisa memakainya. Selanjutnya, untuk keamanan, silakan ketikkan password anda."
Yamamura bergegas mengetikkan kata sandi untuk melindungi akunnya dan kembali menekan enter.
"Silakan pilih ras anda. Tersedia ras iblis, manusia, elf, demi-human, spirit, dan beberapa ras lainnya."
"Ras, ya? Sepertinya permainan ini akan seperti dunia fantasi sungguhan. Tapi, kurasa ras manusia adalah yang terbaik."
"Anda memilih ras manusia. Selanjutnya, pilih main class anda. Ada beberapa class yang tersedia, yakni Assassin, Magic Caster, Spearman, Archer, Swordsman, Dual Swordsman, Two-Handed Swordsman, dan Samurai. Adapun untuk side class atau class sampingannya terdiri dari Alchemist dan Blacksmith."
"Aku akan memilih Archer untuk main class dan Alchemist untuk side class."
"Dimengerti," sahut suara tersebut. "Apakah anda ingin mendesign avatar sendiri atau menggunakan avatar yang sama dengan tubuh asli anda?"
"Aku ingin menggunakan avatar yang sama dengan tubuh asliku," sahut Yamamura.
"Selamat menikmati permainan." Suara itu kembali terdengar untuk terakhir kalinya, kemudian hilang sepenuhnya. Cahaya putih yang menyelimuti penglihatan Yamamura mulai menghilang. Di depannya, tampak langit biru membentang luas berpadu dengan pemandangan kota abad pertengahan di bawahnya. Awan-awan melintas di atas kepalanya, tampak begitu nyata. Melihat itu, ia pun terkesiap.
"I-Inikah virtual-reality world?!"
To be continued