Purity Online - The World For The Fallens

Purity Online - The World For The Fallens
[Season 2] Chapter 46: Keluarga Besar



Sang bibi segera meletakkan watering pot yang sedang dipegangnya di kursi taman, kemudian mengantar Yuukaru dan Ryugai menyusuri jalan setapak sederhana yang diapit berbagai macam tanaman di kiri-kanan. Begitu sampai di depan pintu, ia menggenggam kenop pintu dan mendorongnya, kemudian melangkah masuk. Ryugai dan Yuukaru mengekor di belakangnya. Rumah tersebut terbuat dari kayu dan tampak sederhana, tetapi tidak terlalu sempit. Mengapa paman dan bibi dari Yuukaru ada di rumah nenek? Itu karena sang nenek tidak tinggal sendirian, melainkan bersama putri bungsu dan menantunya.


Ketika tiga orang itu memasuki rumah, suami dari bibi langsung menyambut mereka dengan senyum hangat. Sama seperti istrinya, dia terlihat terkejut sekaligus senang melihat kedatangan Yuukaru.


"Selamat pagi, Paman."


"Yuukaru!! Kau sudah datang, rupanya. Sudah lama kita tidak bertemu, ya," ucap paman dari Yuukaru dengan wajah riang. "Apa kabar?"


"Baik, Paman. Ayah dan Ibuku juga baik-baik saja di kota," sahut Yuukaru sembari membalas senyuman pamannya.


"Baguslah kalau begitu ...."


Wajah senang sang paman mendadak berubah menjadi wajah bingung ketika ia menatap Ryugai yang baru saja meletakkan tas besarnya di kursi. Bagian dahi di antara kedua alisnya berkerut. "Kamu ... siapa?"


"Aku suami dari Yuukaru. Selamat pagi." Ryugai membungkuk memberi salam.


"Tunggu sebentar, Yuukaru sudah menikah?" Pupil mata pria berusia 40-50 tahunan itu mengarah ke atas, menyiratkan bahwa dia sedang berpikir. Digalinya tumpukan memori di otaknya. "Kapan?"


Bibi menepuk dahinya sambil menghela napas berat. "Masa' kau sudah lupa? Waktu itu, 'kan, kita juga menghadiri acara pernikahannya!!! Lagipula, apa kau tidak lihat perut besar keponakan kita itu? Jelas-jelas dia sedang mengandung."


"Oh, iya!!" Sang paman langsung teringat akan peristiwa tersebut. "Maaf, ya. Aku lupa. Pantas saja kamu terlihat gendutan, Yuukaru. Kukira kamu kebanyakan makan."


"Tidak masalah, Paman," ucap Ryugai.


"Kamu ini .... Masih belum terlalu tua tapi pikunnya sudah lebih parah dari Ibu." Bibi menghela napas berat sekali lagi.


"Hehe, maaf. Aku sudah ingat, kok, sekarang. Oh, ya. Siapa namamu, Nak?"


*gedubrak!!!*


Yuukaru, bibinya, beserta Ryugai langsung terjungkal ke belakang akibat tingkah konyol sang paman.


"Lho? Kenapa? Pertanyaanku salah, ya?" tanya paman dengan raut wajah polos. Ekspresi itu membuat Yuukaru dan bibi kesal, tapi juga membuat mereka tidak tega untuk memarahinya.


"Tidak, kok. Namaku Yuzumoto Ryugai. Paman bisa memanggilku Ryugai. Salam kenal." Ryugai memperkenalkan diri sambil membungkukkan tubuhnya sekali lagi, kemudian mengulurkan tangannya.


"Salam kenal, Ryugai." Paman menyahut dengan ramah. Dia turut mengulurkan tangannya.


Keduanya berjabat tangan dengan senyum terukir di wajah. Sementara itu, Yuukaru dan bibinya tampak sedang berbisik-bisik di belakang.


"Bikin malu saja, ya."


"Iya, aku heran kenapa bisa punya suami seperti dia."


"Apa yang sedang kalian bicarakan?"


Paman tiba-tiba menginterupsi obrolan, mengagetkan istri dan keponakannya. Entah sejak kapan dia sudah ada di belakang mereka berdua.


"Ah, i-iya!! Benar!!" sahut Yuukaru dengan terbata-bata karena gugup.


"Ooohhh ...."


"Di-Dia bisa menghilangkan hawa keberadaannya?" Ryugai menatap tidak percaya. "Si-Siapa pria ini sebenarnya? Apa keturunan ninja?"


"Oh, iya. Nenek ada di mana?" Yuukaru mengajukan pertanyaan, bermaksud untuk mengalihkan pembicaraan.


"Di ruangannya," sahut bibi.


"Oke, terima kasih. Ryugai, ayo!!" Yuukaru bergegas menuju ruangan neneknya, disusul oleh suaminya.


Tak butuh waktu lama bagi mereka untuk sampai di ruangan nenek karena rumah ini tidak terlalu luas, tapi juga tidak terlalu sempit. Yuukaru membuka pintu geser dengan perlahan dan sopan. Tampak sang nenek sedang duduk bersila tak jauh dari jendela dan merajut dengan wajah tenang, damai, serta bahagia. Meski usianya tak lagi muda, semangat hidupnya sama sekali tidak berkurang. Memang, ia tak bisa lagi melakukan aktivitas seperti dulu. Namun, wajahnya memancarkan semangat hidup dan rasa syukur yang amat besar.


"Cucu-cucuku ..., Yuukaru dan Ryugai .... Selamat pagi," ucapnya dengan suara yang lemah, tapi juga terdengar riang. Meski Ryugai bukan cucu kandungnya, tapi dia sudah menganggapnya sebagai cucu sendiri.


"Selamat pagi, Nek," sapa Yuukaru.


"Bagaimana kabar kalian?"


"Baik, Nek," sahut pasangan suami-istri tersebut hampir bersamaan.


"Yuukaru, bagaimana kabar orangtuamu di kota? Apa kalian bahagia selama hidup di sana?"


"Ya, Nek."


(Author: Sangat bahagia, sampai-sampai dibully tiap hari, difitnah teman sekelas, dan masuk penjara atas tuduhan palsu.


Yuukaru: Hush. Itu, 'kan, masa lalu.)


"Mumpung kalian ada di sini, bagaimana kalau kalian menceritakan pengalaman selama tinggal di kota besar seperti Tokyo?" tanya nenek.


"Boleh, tuh. Aku juga ingin mendengarnya." Paman yang sudah berada tepat di ambang pintu ikut nimbrung.


"Kalian saja yang mengobrol, ya. Aku harus lanjut menyirami tumbuhan," ujar bibi yang berada di samping paman sebelum membalikkan badan dan meninggalkan ambang pintu.


"Baiklah." Yuukaru dan Ryugai segera duduk di lantai berkayu diikuti oleh paman, kemudian mereka mulai mengobrol dan bercerita dengan diiringi canda tawa.


Di luar jendela, angin musim semi berhembus dengan lembut. Seekor burung gereja (suzume) yang menjadi inspirasi bagi sang pendiri desa untuk menamakan desa itu hinggap di salah satu dahan pohon untuk mengistirahatkan sayap kecoklatannya yang indah. Ditatapnya keluarga besar yang harmonis tersebut. Paruhnya terbuka dan ia mulai berkicau dengan suara merdu, seolah sedang menyanyi dengan riang.


To be continued


Next Chapter:


[Season 2] Chapter 47: Makan Siang yang Diselingi Komedi