
"Wakil Kepala Dai!!" seru Ryugai yang kini berada di atas punggung phoenix milik Arai yang datang untuk menyelamatkannya. Kedua matanya menatap tak percaya.
"Hei, kenapa kau menjerit begitu?" Meski sedang susah payah menahan sakit, Dai masih terus berusaha mempertahankan seringai penuh semangatnya. "Ini ... bukan apa-apa ...."
"Hei, Ryugai .... Tolong lanjutkanlah perjuanganku ... dan menangkanlah pertarungan ini ...."
"Dengan otak jeniusmu itu, kau pasti bisa membuat yang tidak mungkin ... menjadi mungkin ...."
Tepat setelah itu, kedua mata Dai terpejam dengan damai. Azadrasil mencabut rantingnya dari tubuh Dai hingga tubuh pria berusia empat puluhan itu terjatuh ke permukaan tanah. Darahnya membasahi pasir pantai. Dia masih terus tersenyum dengan damai sampai tiada.
"Tampaknya ..., kita memang ditakdirkan untuk terus bersama sebagai guru dan murid, ya, Greed?"
"Tunggu aku ... di sana ...."
Setitik air turun dan terciprat di pasir, diikuti oleh tetesan-tetesan air lainnya. Hujan turun dengan deras, membasahi seluruh pantai BluGlass, seolah-olah langit menangisi kematian Sang Wakil Kepala Angkatan Darat.
"...."
"Tampaknya ..., alam juga telah mengakuiku ..., ya ...?"
"Aku ... menjalani hidupku dalam kegagalan dan penindasan ..., tapi sekarang ... tak hanya para penduduk desa ..., bahkan alam juga mengakuiku .... Akhirnya .... Aku ... diakui oleh semuanya ...."
Dai menghembuskan napas terakhirnya. "Terima kasih banyak ... sudah mengakui keberadaanku ... semuanya ...."
"Terutama ...."
"Greed ...."
"Terima kasih."
"Dan juga ...."
"Selamat tinggal ..., Desa Arafubi ...."
Ryugai hanya bisa terdiam. Dia masih shock. Air matanya bercampur dengan air hujan yang mengguyur mukanya. Kedua matanya tersembunyi di balik bayangan wajah. Sebuah lingkaran system berwarna biru turqoise mendadak muncul di tangan kanannya yang terkepal erat, memunculkan dan menggenggamkan Excalibur kepadanya. Suara melengking wanita khas robot terdengar setelahnya. Suara yang sama dengan yang didengarnya ketika dia baru saja memasuki dunia Purity Online.
"Selamat!! Sesuai dengan legenda, jika ada pengorbanan yang murni dan tulus, maka pedang suci Excalibur akan muncul. Pedang Excalibur ini lebih tajam dari adamantium, tapi sangat rapuh, jadi berhati-hatilah saat menggunakannya."
"Sekarang, anda akan diberikan dua pilihan, yakni menggunakannya untuk membalas dendam atau menggunakannya untuk menyelamatkan desa. Ini adalah ujian terakhir anda di desa Purity Online. Manakah yang akan anda pilih, peserta?"
Ryugai masih terdiam. Digenggamnya gagang Excalibur itu erat-erat. Rintik hujan memenuhi suasana. Pemuda berambut biru dengan gaya acak-acakan tersebut menyiapkan kuda-kuda bertarungnya. Hawa membunuh yang amat pekat mulai menyelimuti udara di sekitarnya, membuat Azadrasil tersenyum senang karena berpikir bahwa Ryugai akan menyerangnya dengan penuh emosi dan tanpa formasi sehingga dirinya akan bisa menang dengan mudah.
Ryugai menoleh ke arah patung Arai yang diselimuti oleh barrier energi merah agar tidak diserang oleh pasukan 99 ras monster. Tampak patung-patung prajurit lainnya berada di punggung hewan tunggangan mereka masing-masing, sedangkan patung prajurit-prajurit angkatan darat dilindungi oleh barrier milik Dai yang sampai sekarang masih aktif walaupun penciptanya telah tiada.
"Aku pinjam phoenix milikmu, ya, Arai."
Kemudian, Ryugai mengalihkan pandangannya kembali ke arah Azadrasil. Tatapan matanya memancarkan kebencian yang amat dalam. Diangkatnya pedang Excalibur yang tergenggam di tangan kanannya.
"Bangunlah, aku tahu kau masih ada walau sudah lama tertidur."
"Bangunlah, jiwa pembunuh di dalam diriku."
"Bangunlah, roh pendosa ..., dan mari kita tunjukkan kepada pohon ini ... KEKUATAN KITA YANG SEBENARNYA."
To be continued
Next Chapter:
Day 62: Kebebasan (Part 14)