
"Otomura Yamato? Nama yang bagus." Yuukaru berjongkok, menyamakan tinggi badannya dengan pria muda yang sedang duduk di rerumputan tersebut. Gadis itu duduk di seberangnya, hanya dipisahkan oleh api unggun. Ia kemudian mengulurkan tangannya. "Salam kenal."
"Singkirkan tanganmu itu, bodoh." Pria muda berambut keemasan yang ternyata bernama Otomura tersebut menepis tangan Yuukaru dengan kasar. "Aku tahu, kau adalah AI yang ditugaskan oleh para developer sialan itu untuk berpura-pura menjadi sesama peserta test dan menusukku dari belakang, 'kan?! Mereka berencana menghukum mati diriku, 'kan?!"
"Bukan. Aku bukan AI. Aku adalah manusia," ujar Yuukaru.
"Diamlah!! Aku tak akan pernah memercayaimu maupun memercayai siapapun, baik di dunia virtual ini maupun dunia nyata!! Aku sudah menjalani kehidupan yang sangat buruk, dan sekarang para polisi sialan itu mengurungku di dunia virtual ini!! Sebenarnya, apa yang mereka rencanakan?!"
"Semuanya yang ada di sini pasti cuma AI yang diprogram untuk menusukku dari belakang. Aku tidak bisa memercayai siapapun. Aku bisa melihat kalau hati semua orang diliputi oleh cahaya hitam kelam. Semuanya busuk."
"Tapi, aku benar-benar manusia, kok," ucap Yuukaru. "Selain itu, tidak semua orang yang mendekatimu merencanakan sesuatu yang buruk kepadamu. Ada juga yang-"
"DIAM!!!" Mendadak, nada suara Otomura meninggi. Kedua matanya melotot, tampak dipenuhi oleh amarah. "KAU CUMA AI YANG TAK BERJIWA, APA YANG KAU KETAHUI?! SEMUA YANG HIDUP DI DUNIA INI BERHATI BUSUK!!! SEMUANYA SAMPAH!!! SEMUANYA MANUSIA RENDAHAN!!! HIDUP TIDAK SEINDAH DI FILM, DRAMA, ATAU DONGENG!!! ORANG BERHATI MURNI ITU ... TIDAK ADA SAMA SEKALI!!! TIDAK ADA!!!"
"Tidak," sahut Yuukaru. "Orang baik itu ada. Aku percaya akan hal itu. Tidak semua orang yang hidup di dunia ini berhati jahat. Sahabat sejati itu ada. Aku yakin, suatu hari nanti kau akan menemukannya. Seseorang dengan hati yang sejernih kristal dan akan bersedia menolongmu serta berada bersamamu di saat susah maupun senang."
"Cih, omong kosong." Otomura memalingkan wajahnya. "Kau terlalu naif, bodoh."
"Dulu ..., aku juga berpikir begitu ...." Pandangan Otomura menerawang ke bintang-bintang beraneka warna yang berada jauh di angkasa. "Dulu ..., aku menjalani hidupku dengan harapan bahwa ... suatu hari nanti aku akan menemukan teman sejatiku .... Seseorang yang benar-benar mau menerimaku apa adanya .... Stigma itulah yang membuatku tahan meski berkali-kali dikhianati dan dimanfaatkan di masa lalu .... Tapi, ternyata pola pikirku itu salah ...."
"Setelah dikhianati untuk kesekian kalinya, aku sadar bahwa ... dunia ini dipenuhi oleh kegelapan .... Tak ada setitikpun cahaya yang tersisa di dunia yang kejam ini .... Karena itu, aku memutuskan untuk menutup pintu hatiku rapat-rapat dan tidak memercayai siapapun. Aku tak memiliki teman. Di saat teman-temanku menikmati masa muda dengan pahit dan manisnya cinta serta persahabatan, aku hidup tanpa relasi. Semuanya membicarakanku di belakang. Mengatakan kalau aku anti-sosial, sampah, sombong, dan sebagainya. Tapi, aku tidak peduli. Aku akan terus menutup hatiku ... sampai selamanya ...."
"Aku hidup dalam kesendirian dan benang takdirku diselimuti oleh warna gelap yang memuakkan. Apa kau tahu bagaimana rasanya?! Hah?!"
"Aku juga mengalami hal yang sama denganmu," ujar Yuukaru. "Aku juga dikhianati dan difitnah oleh temanku sendiri. Peristiwa itu juga yang membuatku masuk ke sel tahanan dan akhirnya terpilih menjadi alpha tester dari project ini."
"Ka-Kalau begitu, kenapa kau masih terus bertahan?! Kenapa kau tidak menutup hatimu?!" seru Otomura. "Kau ini terlalu naif atau bodoh, sih?!"
"Karena ... aku masih ingin terus berjuang .... Tak peduli berapa kali aku dikhianati ..., aku akan terus bertarung sampai aku menemukan teman sejatiku. Jangan berhenti menggali, Otomura. Mungkin saja sahabat sejatimu itu sebenarnya sudah berada di sampingmu, tapi kau tidak menyadarinya karena matamu dibutakan oleh kegelapan. Karena itu, kau juga harus terus berjuang. Bertarunglah dengan sisi gelap takdir demi prinsip yang kau pegang teguh."
"Terserah," ucap Otomura sambil mengangkat potongan daging terakhir dari atas api unggun. "Sekarang, makanlah. Nanti keburu dingin."
"Jangan salah paham. Aku cuma kasihan melihat kenaifanmu yang terus berjuang demi sesuatu yang tak mungkin akan bisa kau dapatkan," ucap Otomura, masih dengan raut wajah datar. "Lagipula, kau bilang mau bertarung, 'kan? Kalau gadis naif sepertimu bertarung sendirian, bisa-bisa kalah di tengah jalan. Ingat, jangan salah kaprah. Ini bukan berarti aku sudah memercayaimu."
"Iya, iya!! Aku mengerti!!" Yuukaru tersenyum riang, kemudian mengambil salah satu potongan daging. Liurnya mulai menetes dan selera makannya mulai timbul. Diacungkannya daging yang telah masak itu ke udara. "Selamat makan!!!"
"Kenapa ...."
"Kenapa aku dengan ceroboh membiarkan hatiku terbuka lagi? Bagaimana jika nanti yang masuk adalah manusia iblis lagi?"
"Tapi, rasanya ... aku seperti mendapat adik perempuan baru."
Otomura menengadah ke langit yang dihiasi bintang-bintang, berusaha menahan senyuman dan tatapan harunya.
"Mungkin itu karena penampilan dan sifat pantang menyerahnya mengingatkanku kepada Iruna."
Otomura memejamkan matanya. Kenangan-kenangan dari masa lalu mulai terkumpul di benaknya. Sekumpulan memori yang indah dan manis. Masa-masa di mana hatinya masih belum dicemari oleh kegelapan.
"Sudah, sudah, Iruna!! Nanti kau terluka lagi. Cukup untuk hari ini. Tak perlu memaksakan dirimu."
"Tidak!! Aku tidak akan pernah menyerah ..., sampai aku mencapai tujuanku!!"
———————————————————————————————
Sebuah pertemuan antara dua jiwa yang sudah ditakdirkan, Sang Penyembuh dan Dia Yang Diliputi Kegelapan. Dipayungi oleh bintang-bintang beraneka warna dan bulan separuh yang bersinar terang, kegelapan dan cahaya bertemu di tengah gelapnya malam di hutan belantara, dihangatkan oleh panasnya api unggun, dengan binatang-binatang malam sebagai saksi pertemuannya. Mungkin kita akan menyangka bahwa mereka akan berseteru. Siapa yang mengira bahwa ini adalah ....
Awal dari sebuah relasi ....
To be continued