
"Hm? Partner?"
"Ya, partner. Teman satu party," sahut pemuda tadi.
"Boleh saja," sahut Yamamura. "Lagipula aku juga masih belum terlalu terbiasa memainkan game virtual-reality seperti ini."
"Begitu .... Pantas saja gerakanmu tadi beda sendiri dari player-player lain yang sedang bertarung melawan mini-boss itu." Pemuda iblis tersebut mengangguk-anggukkan kepalanya dengan pelan.
"Ah, ya. Kau perlu baju ganti, 'kan? Kebetulan, aku punya armor yang masih nganggur di inventory-ku," ucapnya sembari membuka inventory miliknya. "Cuma armor kulit sederhana, sih. Tidak terlalu kuat."
"Aku yang akan me-request item transfer. Jika nanti ada notifikasi masuk, tekan accept, ya." Pemuda itu membuka menu dan memilih fitur interaction. "Kau yang mana? Ada banyak player name di sini."
"Izanagi," sahut Yamamura. "Username-ku adalah Izanagi."
"Kenapa username-mu keren sekali, sih?" Pemuda tadi kembali pundung. "Apa cuma aku player di sini yang punya username yang terlalu biasa saja?"
"Sudahlah. Tidak usah mempermasalahkan soal itu. Namamu juga keren, kok." Yamamura berusaha menyemangati si pemuda sambil menekan tombol accept item transfer request. "Nickname-mu Zett, 'kan? Menurutku nama itu cukup keren."
"Benarkah?" Pemuda bernama Zett tadi langsung berubah sikap menjadi bersemangat ketika mendengar pujian Yamamura. Walaupun pujian itu terkesan tidak tulus karena bocah itu mengucapkannya dengan wajah datar tanpa ekspresi.
"Terima kasih." Zett bergegas memasukkan armor yang hendak diberikannya ke dalam transfer slot dan mengirimnya ke inventory milik Yamamura.
"Terima kasih juga atas armor-nya."
Yamamura segera mengenakan armor itu. Seringai penuh semangat tersungging di bibirnya. "Sekarang, mari kita balas dendam!! Zett, nanti beri instruksi kepadaku, ya!! Ajarkan aku cara bertarungnya."
"Oke!!!"
————————————————————————
Sebuah anak panah melesat dengan cepat, menancap di leher sang Horned Deer Leader yang lengah karena sedang bergulat dengan Zett. Rusa besar itu langsung tumbang. Sambil tersenyum puas, Zett menyarungkan kembali kedua pedangnya di belakang punggungnya. Di wajah Yamamura juga terpasang ekspresi yang sama. Kedua player itu segera mengambil EXP dan drop item yang dijatuhkan oleh sang rusa. Yamamura langsung naik level. Yah, wajar saja. Bagi player yang masih berada di level 1-10, menaikkan level adalah sesuatu yang sangat mudah.
"Apa kubilang? Dia tidak segesit itu," ucap Zett. "Begitu kutahan dia pakai dual sword milikku, dia langsung lengah. Yah, namanya juga quest kelas E."
"Tapi, ini juga berkat akurasimu." Zett menoleh ke arah teman satu party-nya itu. "Biasanya archer baru akan kesulitan dalam hal akurasi, tapi kau baru latihan sebentar saja langsung bisa. Kurasa kau punya bakat alami, Izanagi."
"Yah ..., mungkin saja." Yamamura menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya. "Aku juga tidak tahu."
"Baiklah. Ayo berangkat."
Keduanya pun bergegas kembali ke kota. Setelah mengumpulkan barang yang diminta oleh quest di gedung guild, mereka berdua melakukan hunting untuk menaikkan level di Midorikawa Greenfield. Hanya dalam waktu singkat, Yamamura sudah naik ke level 10. Seusai hunting, mereka beristirahat di tepi sungai tempat mereka bertemu kembali tadi, mengisi paru-paru dengan udara virtual yang segar sambil menikmati pemandangan air sungai yang mengalir deras.
"Indah, 'kan?" ucap Zett. "Pemandangan seperti ini jarang ditemui oleh kita yang tinggal di daerah perkotaan."
"Ya," sahut Yamamura. "Dunia ini jauh lebih indah, seru, dan menyenangkan daripada dunia nyata."
"Ya ..., kebanyakan player di sini juga berpikir begitu ...," sahut Zett. "Kau tahu, Izanagi? Kebanyakan orang yang bermain game ini adalah orang-orang yang kabur dari realita."
"Huh?" Yamamura menautkan alisnya. "Kabur dari realita?"
"Ya, tujuan mereka memainkan game ini adalah untuk lari dari masalah-masalah hidup yang menimpa mereka. Mereka berusaha lari dari hidup mereka yang membosankan dan memuakkan."
"Berbeda dengan di dunia nyata, di dunia virtual ini mereka bisa mengatur sendiri penampilan mereka. Mereka bisa melakukan apa saja yang mereka tidak bisa lakukan di dunia nyata. Mereka bisa mengalami petualangan-petualangan yang menyenangkan dan menegangkan. Mereka ... bisa menjalani hidup sesuai dengan yang mereka inginkan."
"Mereka yang menginginkan kebebasan dari belenggu bernama penderitaan akan selalu datang kemari. Ini jugalah alasan mengapa VRMMORPG dibuat. Untuk membantu mereka yang sedang terlilit masalah hidup."
"Begitu ...." Yamamura mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Yah, sebenarnya tidak masalah sesekali lari dari kenyataan, sih." Zett mengarahkan pandangannya lurus ke langit biru yang dihiasi oleh awan-awan putih dan matahari yang bersinar terang.
"Semua orang butuh istirahat dan kelegaan. Mereka punya hak untuk bermain dan bersenang-senang di dunia fantasi yang indah ini. Hanya saja, jangan lupa untuk pulang ke dunia nyata setelah selesai bermain. Jika kau memilih untuk kabur dari kenyataan selamanya, maka kau akan menyesal, sama sepertiku."
"Sama sepertimu? Apa maksudnya?" Yamamura tampak kebingungan.
"Ah, bukan apa-apa," sahut Zett. "Cuma cerita yang tidak penting tentang masa laluku ...."
"Kau mau dengar?"
To be continued
Next Chapter:
[Season 2] Chapter 16: A Place I Can Call 'Home'