Purity Online - The World For The Fallens

Purity Online - The World For The Fallens
Day 44: Teror Bom



Dentingan logam memecah kesunyian malam, terdengar berkali-kali dengan nyaring. Dua logam keras jelas sedang beradu. Suara langkah kaki mendarat terdengar pula. Di arena latihan yang terletak di samping sekolah, tampak dua orang pemuda sedang beradu pedang dengan sengit. Aura hitam dan merah bertarung dengan dahsyat.


"Cih!!" Salah seorang pemuda yang berambut merah melompat mundur dan mengganti pedangnya dengan busur. Lawannya juga melakukan hal yang sama.


Sambil bergerak melingkar layaknya dua binatang buas yang tengah bertarung, mereka terus saling memanah dengan kemampuan yang setara. Tak ada satupun panah yang kena. Semuanya meleset.


"Kalau begitu waktunya untuk ini!!" seru lawan dari pemuda berambut merah tadi sembari memunculkan sebuah benda mirip granat di tangan kanannya, kemudian melemparnya ke lantai. Benda tersebut meledak, membuat kabut asap berwarna putih tebal memenuhi udara.


"Blind Fog Gas Bomb Creation? Jadi dia juga belajar Teknik Sihir Farmasi dan Kimia," batin pemuda berambut merah tadi sembari bersiaga dan mengedarkan pandangannya ke segala arah. "Tak mungkin dia menggunakan gas beracun. Kalau ini gas pelumpuh, pasti aku sudah dilumpuhkan dari tadi. Berarti, gas ini cuma untuk menghalangi pandanganku."


"Kalau begitu, akan kugunakan strategi 'inventory.'"


*sraakk!!!*


Mendadak, sebuah kaki menyapu kedua kaki pemuda tersebut dari belakang hingga terjatuh, kemudian mengunci seluruh anggota geraknya. Pemilik dari kaki tersebut menjentikkan jari, kemudian kabut gas tadi lenyap seketika.


"Aku menang, Arai." Sang penyerang tersenyum penuh kemenangan. Seorang pemuda berambut biru dengan gaya rambut yang acak-acakan.


Pemuda bernama Arai itu tersenyum kecut. "Ya, kuakui kau yang menang, Ryugai."


Pemuda berambut biru yang ternyata bernama Ryugai tertawa terbahak-bahak, tapi tawanya segera terhenti begitu ia melihat bahwa busur milik Arai tidak tergantung di punggungnya. Ia terperanjat, kemudian menoleh ke belakang. Sebuah anak panah melesat dari lubang dimensi yang terbuka, nyaris menggores pelipisnya.


Kini, giliran Arai yang tersenyum penuh kemenangan. "Terima kasih sudah mengajarkanku teknik serangan menggunakan inventory ini, Ryugai. Jika aku tidak membuat panahnya meleset dengan sengaja, pasti pelipismu sudah berlubang sekarang. Dengan begini, aku yang menang. Ini kemenanganku yang ke-15, dengan kata lain, skor kita sama sekarang."


Ryugai tersenyum masam. "Ya, ya. Kau yang menang, Arai."


Ryugai melepaskan kunciannya terhadap tubuh Arai. Kedua pemuda itu bangkit berdiri, kemudian membereskan senjata-senjata mereka. "Kurasa cukup untuk hari ini, Ryugai," ucap Arai.


"Ya," sahut Ryugai. Digantungnya busur miliknya di punggung, sedangkan pedangnya ia sarungkan di pinggul. Mereka berdua berjalan menuju loker untuk menyimpan busur dan pedang. Ya, mereka tidak menggunakan senjata pribadi untuk latih tarung, sebab senjata pribadi mereka hanya ada satu. Jika rusak, tak ada penggantinya. Oleh karena itu, senjata tersebut hanya digunakan pada waktu tertentu saja.


"Ya. Teknik-teknik sihir itu ibarat potongan-potongan jalan. Jika disatukan, barulah kita bisa mencapai kemenangan," sahut Ryugai. Mereka telah tiba di ruangan loker dan Ryugai hendak membuka loker miliknya.


"Wah, tampaknya aku harus lebih niat lagi supaya bisa me-"


*BLAAAAAAARR!!!*


Ledakan keras membuat kedua pemuda tersebut terpental ke belakang.  Tubuh Arai menabrak kaca jendela.


"Ukh ...," rintih Arai. "Apa-apaan itu?! Sakit sekali .... Aku tak bisa bergerak ...."


"Li-Lihat itu!!" seru Ryugai sembari memegangi bahunya. Ia tampak terkejut.


Asap membumbung tinggi. Loker kelas 2-A jurusan Teknik Sihir Perburuan dan Pertarungan telah hancur lebur. Dinding dan pintu di sekitarnya juga telah separuh hancur.


"Bom plastik?! Siapa ... yang melakukan ini?"


To be continued


Yap, teror dimulai!!! Siapakah pelakunya? Saksikan di chapter berikutnya :v


Coming soon


Next Chapter:


Day 45: Siapa Pelakunya? (Part 1)