
"Dua tahun telah berlalu."
"Dua tahun yang dipenuhi dengan penderitaan, keputusasaan, masalah, dan rintangan yang seolah tak berujung."
"Namun, bersama dengan adikku, Iruna, itu menjadi tahun-tahun yang menyenangkan."
"Usiaku sudah 15 tahun sekarang, sedangkan Iruna 12. Sehari yang lalu, aku menghadiri upacara kelulusan SMP-ku, dan di hari yang sama, tempat Iruna bersekolah dulu juga tampaknya sedang mengadakan upacara kelulusan."
"Ya. Itu seharusnya menjadi hari di mana dia lulus dari sekolah dasar."
"Tapi, dia tidak mendapatkan kebahagiaan itu."
"Padahal dia layak mendapatkannya."
"Harusnya kemarin dia berada bersama teman-teman SD-nya, bercanda, tertawa, dan mengobrol dengan riang untuk terakhir kalinya, bukannya menunggu aku pulang dari upacara kelulusan sendirian di rumah sambil meratapi takdir pahitnya."
"Tapi, kurasa belum terlambat."
"Jika dunia tidak mengizinkannya mengikuti upacara kelulusan, maka aku sendiri yang akan meluluskan adikku dengan upacara kecil-kecilan. Yah ..., karena Iruna putus sekolah, seharusnya tidak ada yang perlu dirayakan, sih .... Namun, yang akan kurayakan bukan kelulusan adikku dari sekolah."
"Melainkan ..., kelulusan adikku dari sisi gelapnya sendiri. Itu butuh perjuangan yang besar, karena itu kurasa harus dirayakan. Pertarungan di dalam batinnya memang belum selesai, tapi setidaknya emosi-emosi positif sudah menguasai sebagian besar tubuhnya. Itu patut dihargai."
"Baiklah, cukup basa-basinya. Ayo
mulai bekerja!!"
——————————————————————————————
15 Maret 2070.
"Hoahhmm ...."
Seorang gadis kecil berambut emas yang diikat model twintails baru saja terbangun dari tidurnya. Ya, gadis itu adalah Iruna. Dia menguap dan meregangkan tubuhnya seraya mengerjap-ngerjapkan matanya, menatap bunga-bunga sakura yang bermekaran di luar jendela.
"Indah sekali." Senyum manis mulai terukir di wajahnya. "Seandainya saja aku bisa memandangi mereka dari dekat. Tapi sayangnya, aku hanya bisa memandangi mereka dari balik kaca jendela."
"Ya sudahlah. Tak ada gunanya mengeluh dan merutuki takdirku," lanjutnya. "Daripada mengeluh, lebih baik aku terus berjuang dan berusaha supaya bisa sembuh dari kelumpuhan ini lebih cepat."
"Ngomong-ngomong, kakak di mana, ya?" Iruna berujar sambil menatap jam berbingkai emas bergambar kelinci berbulu putih yang tergantung di dinding. Sudah pukul 07:30. "Biasanya jam segini dia sudah membangunkan aku untuk sarapan. Apa dia pergi, ya?"
Beberapa detik setelahnya, mendadak Otomura membuka pintu kamar dengan wajah riang dan penuh semangat, bahkan terkesan seolah-olah dia menggebrak pintu kayu tersebut.
"Ka-Kakak?! Ada apa?!" Iruna merasa jantungnya seolah melompat karena kaget. "Jangan membuatku kaget, dong! Kupikir ada apa."
Otomura menyilangkan lengannya di ambang pintu. Seringai penuh semangat tergambar di wajahnya. "Hei, Iruna. Kau ingat kemarin hari apa?" tanyanya.
"Hari ...." Iruna meraba dagunya menggunakan jari telunjuk. Pandangannya mengarah ke atas, tampak sedang berusaha mengingat.
"Kamis."
*gedubrak!!!* Otomura langsung menjatuhkan dirinya ke lantai hingga kedua kakinya terlontar ke atas. "Bukan itu ...."
"Ehehehe, maaf, kakak. Aku tidak ingat." Iruna tertawa kecil sembari menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal. "Memangnya ini hari apa?"
"Baiklah, kalau begitu, satu petunjuk lagi." Otomura mengacungkan telunjuknya membentuk isyarat angka satu. "Musim semi!! Sekarang adalah musim semi, 'kan? Dan musim semi identik dengan-"
*gedubrak!!*
Untuk kedua kalinya, Otomura menjatuhkan tubuhnya ke lantai dengan kedua kaki menungging ke atas. "Memang benar, tapi bukan itu ...."
"Sial. Kupikir dia sudah ingat, ternyata belum."
"Ah, bukan juga, ya?" Iruna kembali tertawa pelan sambil menggaruk bagian belakang kepalanya. "Lalu apa? Maaf, aku tidak ingat."
*plak!!* Otomura menepuk dahinya. "Hari kelulusanmu, apa kau lupa?" ucapnya.
"Eh?"
"AAAAAHHHH!!!" Kedua mata Iruna langsung membelalak begitu dia mengingatnya. "Maaf, aku lupa." Untuk yang ketiga kalinya, gadis kecil itu menggaruk kepalanya.
"Dasar pikun. Padahal baru kemarin aku pergi ke upacara kelulusan," batin Otomura.
"Seandainya saja ..., aku bisa datang ke acara kelulusan ...." Iruna menundukkan kepalanya dengan penuh kesenduan. Dia tersenyum miris.
"Kau tidak perlu bersedih lagi, Iruna," ujar Otomura. "Memang agak terlambat, sih, tapi sekarang kita akan melaksanakan upacara untuk merayakan kelulusanmu."
"Hm?" Iruna mengangkat kepalanya. Kesedihan yang tergambar di wajahnya kini digantikan oleh wajah bingung. "Apa maksud kakak? Bukannya upacara kelulusannya sudah selesai dari kemarin?"
"Itu, 'kan, upacara mereka. Kalau upacara kelulusanmu baru akan dimulai," sahut Otomura. "Ya ..., hanya perayaan kecil-kecilan, sih .... Sudah terlambat juga. Tapi, lebih baik terlambat daripada tidak pernah, 'kan?"
"Tapi, aku sudah tidak bersekolah lagi. Aku tidak belajar apapun selama beberapa tahun belakangan ini. Aku pasti tidak memenuhi kriteria kelulusan," ujar Iruna.
"Bodoh." Otomura terkekeh geli. "Kriteria kelulusanmu berbeda dari mereka. Bukan secara akademis. Secara akademis mungkin kau memang tidak lulus, tapi kau sudah lulus dari 'itu.'"
"'Itu?'" Kebingungan semakin tersirat di wajah Iruna. "Apa maksud kakak dengan 'itu?'"
"Kau sudah lulus dari dirimu sendiri," jelas Otomura. "Selama ini, kau sudah berusaha keras untuk menetralisir sisi-sisi negatif dari dirimu. Kau berhasil lulus dari dirimu sendiri. Meski hidupmu sangatlah keras dan menyakitkan, tapi kau tak pernah berhenti bertarung melawan sisi kelammu, dan sekarang sisi positif dari dirimu sudah menguasai sebagian besar dari jiwamu. Menurutku, itu patut dirayakan."
"Begitu, ya." Iruna mengangguk-anggukkan kepalanya dengan tenang sambil tersenyum. "Ngomong-ngomong, semua pujian kakak tadi membuatku menjadi malu." Wajah gadis kecil tersebut tampak mulai memerah.
"Tidak usah malu-malu. Memang itu kenyataannya, 'kan?" Otomura melewati batas pintu, menuju tempat tidur dari sang adik. Diulurkannya tangannya dengan lembut. "Ayo."
Iruna menerima uluran tangan kakaknya itu. Dia kemudian berdiri dan duduk di kursi roda dibantu oleh sang kakak. Otomura mendorong kursi roda tersebut. Perlahan, roda-roda itu berputar, bergerak menuju ruang makan.
"Aku sudah menyiapkan masakan spesial khusus untuk hari ini, loh."
"Eh? Benarkah? Kakak memang yang terbaik!!"
"Ah, biasa saja."
To be continued
Yap, sesekali kita kasih adegan damai lah ya :v masa gelud sama sad terus. Wkwkwkwk. Tapi ingat, bukan saya namanya kalau kebanyakan damainya, jadi jangan lengah karena saya memiliki kemampuan ‘wave of emotion.’ Suasananya bisa berubah dalam waktu singkat XD Bersiaplah untuk terombang-ambing di lautan emotion. *ditampol readers* (Readers: author psiko****!!!)
Sekian untuk chapter kali ini dan terima kasih atas waktu yang telah kalian luangkan. Sampai jumpa di chapter selanjutnya!! Bye!! ^^
Next Chapter:
Day 63: Masakan Kenangan (Part 9)