
Aku membunuh bukan tanpa alasan.
Aku membunuh agar bisa terus bertahan hidup.
Bertahan dari kejamnya takdir.
Karena pada kenyataannya, Tuhan dan Dewa tidak berpihak kepadaku.
Jadi, aku harus membunuh.
Mungkin bagi mereka itu perbuatan sadis dan bengis, tapi ....
Bagiku itu adalah caraku menegakkan keadilan.
Keadilan bagi diriku sendiri.
Masa kelamku bahkan sudah dimulai sejak aku berusia tujuh tahun. Pada mulanya, semua baik-baik saja, hingga pada suatu hari mendadak kedua orangtuaku saling komplain satu sama lain dan berakhir dengan pertengkaran. Ya, pertengkaran setiap hari. Itu adalah neraka bagiku. Ditambah lagi, muncul geng murid menyebalkan di sekolah yang mulai membullyku.
Namun, aku beruntung memiliki saudara kembar yang selalu pasang badan untukku. Dia selalu melindungiku setiap kali aku diganggu oleh geng itu walau akhirnya kalah juga, dan dia selalu menengahi pertengkaran orangtua kita. Padahal, aku tahu dia sendiri juga sedang diterjang masalah besar di kehidupannya sendiri. Aku tidak tahu apa masalahnya, tapi dia hanya tersenyum seolah tegar di depanku saja. Ketika ia tengah sendirian dan aku mengintip, kulihat wajah yang putus asa dan sedih.
Di suatu hari hujan, aku mendapat kabar bahwa dia bunuh diri dengan melompat dari atas gedung. Dia sudah menyerah untuk hidup sebagai pecundang. Aku sedih, tapi juga senang karena pertengkaran orangtuaku akhirnya berakhir. Mereka kembali menjadi seperti ketika aku dan saudara kembarku berusia empat tahun. Karena keharmonisan itu, aku tahan dibully selama delapan tahun, dan tetap mampu menghadapi para geng itu. Namun, rupanya takdir yang pahit masih belum selesai menyiksa diriku. Pada malam hari, tepat di hari ulang tahunku yang kelima belas, seorang perampok datang ke rumahku dan menjarah semua harta kami, kemudian membakar habis rumahku hingga menjadi abu. Aku selamat karena terbangun dan berhasil kabur tanpa disadari oleh perampok itu. Bayangkan, apa dewa masih belum puas mengambil semua yang kumiliki?!
Sejak itu, aku mulai menjadi berandalan dan mengembangkan pola pikir bahwa aku harus menegakkan keadilan dengan caraku sendiri, meski cara itu terbilang kejam. Aku mendatangi kos-kosan di Tokyo tempat ketua dan wakil ketua geng yang membullyku sewaktu SD tinggal, kemudian membunuh mereka. Aku pergi ke Osaka, mendatangi tempat tinggal ketua geng yang membullyku sewaktu SMP dan SMA tinggal, kemudian membunuhnya juga. Penghuni kamar sebelah di apartemennya melihat hal itu, jadi kubunuh juga dia. Dalam pelarianku, aku kebetulan bertemu perampok yang menghabisi keluargaku sewaktu aku masih kecil di Okinawa. Aku menguntitnya ke rumahnya, lalu menghabisinya pada tengah malam dan membakar habis rumahnya, sama seperti yang dia lakukan kepadaku.
Ya .... Mungkin bagi sebagian besar orang, itu perbuatan yang kejam dan bengis. Namun, bagiku itu adalah satu-satunya cara untuk menegakkan keadilan. Dewa tidak pernah peduli dengan penderitaanku, jadi aku menegakkan keadilan untuk diriku sendiri. Pada mulanya, aku merasa sedikit bersalah sewaktu membunuh korbanku. Namun, seiring berjalannya waktu, aku mampu membunuh mereka dengan senyum bengis terukir di wajah. Ya, hatiku sudah mati dan kemanusiaanku sudah lenyap seluruhnya ....
———————————————————————————
"Yah, tapi mereka berbeda dengan orang-orang busuk itu. Entah mengapa, aku merasa nyaman melihat senyuman-senyuman mereka yang tulus. Tunggu, apa yang kupikirkan, sih?! Bagaimana kalau mereka ternyata cuma pura-pura baik?" Ryugai bergulat dengan dirinya sendiri di dalam benaknya.
"Ayo. Kita harus cepat, Ryugai. Cucuku sudah menunggu di rumah. Dia pasti sudah selesai menyiapkan makan malam sekarang," ucap Kakek Rato sembari menggenggam tangan Ryugai.
"Ah, ya." Ryugai tersadar dari lamunannya tentang masa lalu.
"Kalau begitu, sampai jumpa," sahut Rascal dan Rascarez sembari melambaikan tangan, nyaris bersamaan.
"Hei, ternyata kita kompak juga, ya?"
"Apanya yang kompak? Barusan kau menyerobot giliranku untuk memperkenalkan diri."
"Huh? Memang apa masalahnya?"
"Kurasa aku akan tinggal di sini untuk sementara waktu bersama dengan mereka," batin Ryugai.
To be continued
Coming Soon
Day 2: Berburu (Part 1)