
Tip: Kalau mau mendapat feeling sad yang lebih mendalam, bacanya bisa sambil dengerin lagu 'Ichiban no Takaramono' dari anime 'Angel Beats.'
Selamat membaca dan siapkan tisu satu pak :”v
————————————————————————————
“Mustahil!!” Kedua mata Ryugai terbelalak."Kupikir ini surat palsu yang dibuat oleh para developer sialan itu!! Atau ... jangan-jangan mereka meniru tulisan tangan ibuku?!"
"Surat itu asli. Kami, pihak kepolisian, menemukannya dari tangan kanan ibumu yang tidak terbakar karena dimasukkan ke dalam saku. Sepertinya ditulis dengan tenaga terakhirnya karena terdapat banyak bercak darah di surat aslinya, dan berdasarkan tes DNA, pemilik darah itu adalah ibumu." Waktu seakan berhenti, kemudian suara khas mesin yang familiar kembali terdengar. Sebuah layar muncul di hadapan Ryugai, menampilkan surat itu yang tidak terbakar bersama tangan kanan ibunya. Satu-satunya yang tertinggal dari jasad ibunya yang telah hangus terbakar.
"Kemudian kami menyelidiki dan menemukan bahwa putra dari nyonya tersebut adalah Ryugai Sang Pembunuh Berantai. Karena itulah, kami menjadikanmu sebagai subjek dari tes ini, karena kami pikir tes ini adalah waktu yang paling cocok untuk menunjukkannya kepadamu."
"Mustahil!! Kalian berbohong!!!"** seru Ryugai. "Ini bohong!! Kalau memang begitu, mengapa kalian tidak memberikannya kepadaku ketika aku masih di dalam tahanan?!"
"Karena ... kami khawatir kau akan mengamuk dan menganggap surat itu palsu jika kami memberikannya di saat emosimu tidak stabil. Lagipula, ini permintaan ibumu sendiri ...."
"Di akhir surat ... tertulis permintaan untuk tidak memberikan surat ini kepadamu sebelum kau berusia 17 tahun."
"Sebelum aku berumur 17 tahun?" Ryugai mencoba mengingat-ingat. "Ah, benar juga. Kemarin malam saat aku dipaksa menjalani beta test adalah tanggal 20, berarti hari ini pasti tanggal 21. Hari ini adalah hari ulang tahunku."
"Kalau begitu, silakan dibaca. Kami pihak kepolisian tidak ingin mengganggu."
Tepat setelah itu, suara khas system tersebut tak lagi terdengar dan waktu kembali berputar. Ryugai mulai membaca isi dari surat tersebut.
'Selamat ulang tahun yang ketujuh belas, Ryugai!! Ibu menulis ini dengan napas terakhir ibu. Yah, mengherankan, sih .... Ibu juga tidak menyangka bisa hidup selama ini setelah ditikam menggunakan pisau.'
'Ngomong-ngomong, bagaimana? Apa kau berhasil menggapai impianmu dan menjadi seorang pahlawan? Yah ..., kau baru tujuh belas tahun, sih .... Tapi, ibu yakin kepribadian pahlawanmu itu takkan menyuruhmu untuk menunggu sampai dewasa terlebih dahulu, baru menjadi seorang pahlawan.'
'Ryugai .... Meskipun ibu akan meninggalkanmu terlebih dahulu, jangan menyalahkan Dewa dan mengutuk takdir. Takdir memang terkadang menyakitkan, tapi itu semua untuk membentuk kita menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Sebilah pedang tak mungkin bisa menjadi yang tertajam di antara semuanya jika ia menolak untuk diasah.'
'Terus jalani hidup ini, Ryugai. Ibu tahu kau bisa melakukannya, walau tanpa kami semua. Setidaknya, kau masih hidup, 'kan? Kau masih bisa menghirup napas kehidupan, 'kan? Itu patut kau syukuri. Mungkin berat, tapi tetaplah menjadi Ryugai yang dulu. Ryugai yang masih berusia empat tahun, yang bermimpi sesuka hatinya dan terus berusaha untuk mewujudkannya, yang tak menyerah untuk belajar mengendarai sepeda meski jatuh berkali-kali.'
'Meski kami sudah meninggalkanmu, kami akan terus mengawasimu, dan tersenyum melihat perkembangan dan kemajuanmu, sama seperti ketika kita masih bersama di dunia. Karena itu, teruslah berjuang, ya?'
'Ngomong-ngomong, berhubung umurmu sudah 17 tahun, pasti kamu sudah memiliki pacar atau minimal gebetan, 'kan? Jangan tertarik pada wanita yang salah, ya. Nanti kau akan menyesal seumur hidup. Tapi ..., ibu yakin bahwa gadis yang kau pilih adalah orang yang paling tepat untukmu ....'
'Tampaknya, waktu ibu sudah tidak lama lagi. Lagipula, kelihatannya para perampok itu berniat membakar rumah ini. Sudah, ya, Ryugai. Ibu mencintaimu, sekarang dan sampai selamanya. Terima kasih sudah mengizinkan kami melindungi senyumanmu.'
'Selamat tinggal.'
'PS: Surat ini kutulis untuk putraku, Ryugai, apabila dia selamat dari tragedi ini. Tolong jangan serahkan surat ini kepadanya sebelum dia genap berumur 17 tahun. Terima kasih.'
Kalimat itu mengakhiri surat yang tergenggam di tangan Ryugai. Pemuda berambut biru tersebut mendekap surat dan mainan naga itu erat-erat. Air mata semakin deras mengaliri wajahnya. Ia menangis tersedu-sedu.
"Ibu ...."
"Maafkan aku ...."
"Aku tahu ... kalau ibu tidak akan senang melihatku dalam keadaan seperti ini ...."
"Seandainya saja aku tidak pernah terjun ke dunia kriminal ...."
Ryugai menengadahkan kepalanya ke angkasa, menatap rembulan dan bintang-bintang yang bersinar menerangi langit malam.
"Hei, Dewa. Kau bisa mendengarku?"
"Aku sangat bersyukur atas hidup yang kau anugerahkan."
"Aku bersyukur untuk keluarga yang luar biasa."
"Aku bersyukur untuk semua kebahagiaan dan kesedihan yang kualami dalam hidup ini."
"Aku bersyukur atas musibah dan berkat."
"Terima kasih atas segalanya, Dewa."
"Meski hidupku pahit dan menyakitkan ...."
"Aku akan terus bergerak maju ...."
"Mulai sekarang, aku akan berhenti berpaling ke masa lalu. Aku akan terus berjalan, tak akan pernah berhenti melangkah lagi."
"Aku akan berhenti menyalahkan takdir dan mengutuki hidupku."
"Terima kasih banyak, Dewa."
"Aku ... sangat bahagia ...."
"Walaupun hidup di tengah kegelapan dan tragedi ...."
"Aku sangat bersyukur."
"Walau aku harus menenggak pil pahit bernama takdir itu lagi."
"Aku tak akan protes."
"Aku akan terus berjuang."
"Demi semua yang telah memercayaiku."
"Terima kasih."
"Aku sangat ... bersyukur ...."
"Ryu-Ryugai?" Genbu mencoba membuka pembicaraan, khawatir melihat wajah Ryugai yang dipenuhi air mata. "Apa isi dari surat itu?"
"Ah, bukan apa-apa. Hanya surat dari keluargaku yang sekarang berada di tempat yang jauh," ucap Ryugai sambil melepaskan dekapannya terhadap surat itu.
Mainan naga yang berada di tangannya kembali menyala. Ryugai mengeluarkan sebuah pena tinta. Dibaliknya surat itu. Selanjutnya, dia menulis sebuah kalimat di bagian belakang surat. Dijepitkannya kembali surat itu ke mulut mainan naga yang kemudian terbang kembali ke langit berwarna biru gelap. Surat balasan yang ditulis oleh Ryugai berbunyi:
'(Bisakah kalian meletakkan ini di atas makam ibuku?)
Aku sudah membaca surat yang ibu tinggalkan di saku piyama. Terima kasih banyak atas nasihat ibu. Saat ini, aku telah berhasil menjadi pahlawan. Ya ... tidak menunggangi naga, sih .... Tapi, setidaknya aku bisa menyelamatkan senyuman-senyuman dari banyak orang. Walaupun orang-orang itu sebenarnya adalah kumpulan data. Hahahaha.'
'Saat ini aku mengalami hidup yang pahit karena kalian telah meninggalkanku, tapi aku percaya bahwa kalian pasti masih menemaniku dan mengawasiku dari dunia atas. Karena itu, aku akan terus melangkah maju meski dikelilingi oleh kegelapan. Terima kasih atas ucapan selamat ulang tahunnya. Terima kasih sudah membesarkanku dan melindungi senyumanku. Kalian adalah keluarga yang luar biasa.'
'Kuharap surat ini bisa sampai ke tempat ibu berada, yakni di surga.'
'-Dari putramu yang sangat menyayangimu, Ryugai.'
To be continued
Flip, nulis ini sambil dengerin Ichiban no Takaramono bikin ku auto depresi :”
Terima kasih sudah membaca dan sampai jumpa di chapter berikutnya!! ^^
-Author