Purity Online - The World For The Fallens

Purity Online - The World For The Fallens
Day 51: Cahaya Senja Itu



Ryugai duduk di halaman belakang rumah, menatap langit yang mulai berganti warna menjadi merah. Matahari perlahan mulai menuju cakrawala, seolah-olah tertarik oleh medan magnet tersembunyi. Pemuda tersebut baru saja pulang dari sekolah. Ia tak berlatih hari ini karena kondisinya baru saja pulih. Jika dia memaksakan diri berlatih hingga terluka parah, 'kan, tidak lucu.


"Benar-benar pemandangan yang indah." Ryugai tersenyum penuh kedamaian sembari menatap awan-awan yang tengah melintas di langit jingga mengiringi turunnya Sang Surya.


"Oh, kau ternyata ada di sini, Ryugai," ucap Kakek Yurato yang muncul dari pintu kayu di belakang Ryugai. Pria paruh baya dengan rambut yang telah memutih itu kemudian duduk di samping Ryugai. "Memandangi senja, huh? Memang indah. Aku juga suka melakukan ini sejak masih muda."


"Kakek juga, huh?" ujar Ryugai.


Pemuda berambut biru tersebut tertunduk lesu. "Sayangnya, tampaknya aku tak bisa melihat senja yang indah seperti ini setiap hari lagi .... Waktuku berada di dunia ini ... tinggal dua minggu lagi ...."


"Hm?" Kakek Rato mengalihkan pandangannya dari langit senja ke arah wajah Ryugai yang tampak sendu. "Maksudmu? Kau harus pergi?"


"Ya, kembali ke negeri asalku," sahut Ryugai. "Negeri itu sudah menungguku, tapi aku rasa aku tidak ingin kembali ke sana. Kehidupan di sana sangatlah keras. Aku tak ingin kepribadian berhati muliaku yang telah dibentuk dengan susah-payah di sini berakhir. Aku tidak mau kembali ke hari-hari hambar itu ...."


Tetesan-tetesan air mata mengalir dari kedua mata Ryugai, mendarat di rerumputan dan lantai papan. "Aku tak ingin ... memutus relasiku yang berharga dengan kalian .... Memori-memori ini ... terlalu indah untuk dihapus ...."


Kakek Yurato tersenyum, kemudian meraba bahu Ryugai. "Nak Ryugai, mengapa dulu kau berangkat berpetualang dan menjadi pengembara?"


"Awalnya karena paksaan, tapi akhirnya aku keterusan. Karena aku ingin ... mengubah diriku ..., dan juga mengubah negeriku yang keras dan dipenuhi oleh kegelapan itu ... menjadi tempat yang indah seperti di surga ...."


"Kau tidak bisa mewujudkan mimpimu itu kalau tidak kembali ke negerimu, 'kan?" ucap Sang Kakek. "Kau tidak bisa mengubah negerimu kalau kau tetap diam di tempat bercahaya. Sebuah lilin di tempat yang terang tak ada gunanya. Lilin itu baru akan berguna ketika ia pergi ke kegelapan dan menerangi sekitar. Di sini bukan tempatmu. Ini hanyalah tempat tinggal sementara. Kau harus kembali ... ke tempatmu yang seharusnya .... Sebab kau tidak ditakdirkan untuk bersenang-senang di sini ... melainkan berjuang memerangi kegelapan dengan pantang menyerah dan tanpa rasa takut."


"Tapi ..., aku tidak ingin ... menghapus hal-hal berharga ini ...."


"Ayolah, ayolah. Kita memang akan berpisah, dan mungkin tidak bisa bertemu lagi, tapi selama hati kita masih terhubung, kita takkan merasa terpisahkan. Kita akan merasa seperti terhubung setiap hari. Tidak akan ada yang meninggalkanmu. Kami akan selalu bersamamu. Perpisahan fisik memang sering terjadi, tapi perpisahan batin itu tidak pernah terjadi. Ikatan batin kita akan selalu ada dan abadi ...."


"Jangan lupakan masa lalu, tapi kau juga tidak boleh terus berpaling ke masa lalu. Kau harus terus bergerak maju, walaupun harus berjalan dan berjuang sendirian."


"Aku akan merindukanmu, Ryugai. Aku takkan pernah melupakanmu."


Kata-kata terakhir itu membuat Ryugai tak bisa menahan gejolak emosinya lagi. Tangisnya pecah. Ia menangis tersedu-sedu. Kakek Yurato hanya tersenyum sambil membelai pelan bahu pemuda tersebut. Berkas cahaya terakhir mentari telah lenyap dari langit. Kegelapan mulai menggantikan warna merah senja. Ya, cahaya senja terakhir itu telah ditelan oleh kegelapan. Sang Surya telah berpisah dengan manusia. Namun, perpisahan itu tidak untuk selamanya.


Cahaya senja itu ....


Akan terus bersinar dengan penuh harapan, walaupun sendirian ....


Ia percaya bahwa ... dirinya akan terlahir kembali pada pagi hari berikutnya .... Di hari yang baru ....


To be continued


Yap, kok chapter akhir-akhir ini makin banyak bawangnya, ya? :"v Kayaknya karena udah mendekati end. Jujur author aja merasa agak sad pas nulis chapter ini. Mana nulisnya juga pas lagi senja :"( kerasa banget vibenya.


Sekian untuk chapter kali ini. Terima kasih atas waktu yang telah kalian luangkan untuk membaca chapter ini dan sampai jumpa di chapter berikutnya ^^


Bye!!


-Author