
Suasana berubah sunyi. Bahkan suara hewan-hewan nokturnal dan suara tiupan angin malam pun tak terdengar. Seolah-olah alam sedang mengheningkan cipta untuk menghormati pengorbanan Yamarashi. Beberapa saat berselang, sang pemimpin dire wolves melempar jasad remaja berambut coklat itu ke samping dengan rahangnya dan berjalan mendekatinya, berniat melampiaskan amarah. Begitupun para anggota kawanan yang tampak sedang menunggu giliran mereka.
Akan tetapi, sebuah anak panah berapi dengan cepat masuk melalui mulut dan menancap di tenggorokan sang serigala pemimpin. Dengan sangat cepat, api itu mengikis lapisan es di tenggorokan dan menyebar, menimbulkan luka bakar pada organ-organ internal sekaligus menyumbat saluran pernapasan. Merasa panik karena tercekik dan bagian dalam tubuhnya terbakar, sang pemimpin kawanan pun meronta sembari mengeluarkan suara-suara geraman yang tertahan. Dia meregang nyawa hanya dalam hitungan menit. Anak-anak buah serigalanya kemudian mundur setelah menyaksikan gugurnya 'kartu AS' mereka.
"Ignis... Arrow...," batin Senshi. Dia menoleh ke arah Yamamura yang sedang terengah-engah. Adventurer berambut emas itu tampak sedang sekuat tenaga menahan rasa sakit dari luka yang digunakannya untuk mengaktifkan emergency mode serta efek samping dari penggabungan skill ketika emergency mode sedang aktif. Tangannya masih menggenggam busur miliknya.
"Tidak..., itu Ignis Arrow tipe baru yang bisa dikendalikan dari jarak jauh. Jadi alasan kakak berkorban bukan hanya untuk melindungiku, tapi juga untuk memberi Yamamura waktu agar dia bisa membuat skill tipe baru itu?"
Senshi tersenyum kecut, seolah menertawakan dirinya sendiri. Apa yang dia kira akan menjadi 'ajang pertunjukan' bagi dirinya ternyata justru malah jatuh ke tangan orang lain. Air mata yang menggenang kini mulai mengaliri pipinya. Dia sudah tidak bisa menahannya lagi.
"Pada akhirnya, bukan aku yang menjadi pahlawan."
-----------------------------
(Seperti chapter sebelumnya, silakan putar lagu di atas agar damage adegannya lebih terasa.)
Sebuah batu nisan sederhana duduk dengan tenang di ujung gundukan tanah tempat peristirahatan terakhir Yamarashi, dipayungi daun-daun pohon yang lebat serta disinari cahaya kemerahan khas fajar yang temaram dan lembut. Di hadapan batu nisan itu, Senshi dan Yamamura tengah berdiri berdampingan. Tidak ada isak tangis yang terlontar dari mulut keduanya. Mereka hanya bisa menatap makam tersebut lekat-lekat dalam diam.
"Pada akhirnya, aku gagal lagi," ucap Senshi. Ekspresi wajahnya yang tidak mencerminkan semangat hidup itu sama persis dengan yang dilihat Yamamura ketika mereka pertama kali berkenalan.
"Walaupun sudah memberi kesempatan pada diri sendiri untuk berjuang sekali lagi, yang kemudian menjadi pahlawan adalah kakak dan kau, Yamamura."
Bocah berambut hitam dengan iris mata keemasan itu menundukkan kepalanya dalam-dalam, lalu melanjutkan ucapannya.
"Semuanya berulang. Pertama kedua orangtuaku, dan sekarang Kak Yamarashi. Mereka berjuang keras demi hal-hal abstrak yang terdengar indah seperti harapan, impian, keadilan, dan kedamaian, tapi kemudian tiada tanpa sempat melihat hal yang mereka perjuangkan terwujud. Mereka memang pergi tanpa penyesalan, tapi...."
Kalimat bocah tersebut terputus. Dia menenggak liurnya sendiri dan mengepalkan kedua tangannya erat-erat, tapi kemudian mengendurkannya. Lonjakan kemarahan di dalam dirinya dengan cepat ditelan oleh kepasrahan.
"Sepertinya tidak bermimpi tinggi, menyerah, dan menerima realita memang cara menjalani hidup yang paling tepat. Bergelantungan pada hal-hal ideal dan utopis hanya akan membawa pada penderitaan abadi. Jika bermimpi terlalu tinggi, kalaupun jatuh memang jatuhnya di antara bintang-bintang, tapi itu tidak akan mengubah rasa sakit hebat yang diterima ketika tubuh membentur permukaan tanah."
"Tidak juga."
"Eh?"
Tepat setelah respons tersebut terlontar dari mulut Yamamura, Senshi mengangkat kepalanya dan menoleh ke samping. Kedua alisnya tertekuk, menandakan rasa heran. Dengan segera, dia merespon balik:
"Apa maksudmu?"
"Menerima realita tidak berarti kita harus menyerah dan berhenti berjuang. Justru setelah berdamai dengan realita, kita harus bisa menantang dan mengalahkannya. Berdamai dengan realita sebatas diperlukan agar kau bisa 'bertarung secara sportif' dengan realita hidupmu yang sekarang," jelas Yamamura.
"Itu... tidak berlaku pada orang-orang kelas bawah yang lemah dan tidak diberkahi seperti aku dan keluargaku. Jangankan kekuatan untuk melawan balik, kami bahkan tidak diberi kekuatan sihir seperti orang-orang lainnya di dunia ini." Senshi menyahut, menundukkan kepalanya sekali lagi.
"Nobody's Perfect."
"Eh?"
Anak lelaki berambut hitam kelam tersebut mendongakkan kepalanya sekali lagi ketika mendengar ucapan Yamamura.
"Tidak ada manusia yang sempurna, Senshi. Setiap manusia — bahkan yang terlihat sempurna — memiliki kekurangan dan masalahnya masing-masing. Walau memang intensitasnya berbeda-beda, sih."
"Jadi, kau juga... pernah mengalami situasi di mana kau merasa lemah, tidak berdaya, dan meragukan dirimu sendiri?" Senshi melebarkan pupil matanya.
"Tentu saja," ujar Yamamura sambil tersenyum lebar. "Saat ini pun, aku sedang berjuang untuk tujuan yang entah bisa kugapai atau tidak. Namun, aku terus berjuang."
"Mengapa?" tanya Senshi. "Kau sadar bahwa kau bisa saja mati sebelum sempat mencapai tujuan itu, 'kan?"
"Tentu saja aku sadar dan aku tidak mungkin mengabaikannya dengan berkata: 'Itu soal nanti, jangan dipikirkan sekarang' atau semacamnya," Yamamura tertawa kecil. "Tapi, kalaupun aku gugur di tengah jalan seperti Yamarashi dan kedua orangtuamu, setidaknya aku sudah berjuang sebisaku dan tahu hasilnya. Dengan demikian, aku bisa pergi dengan bangga dalam glorious death."
"Pergi dengan bangga... meski kau tidak meraih hasil yang setara dengan usahamu? Benar-benar tidak rasional...."
"Begitulah. Namun, ketidakrasionalan tersebutlah ciri khas kita. Bisa dibilang, itu adalah sesuatu yang membuat seorang manusia menjadi manusia sepenuhnya."
Senshi mengalihkan pandangannya. Kini, dia menatap lurus ke arah batu nisan sang kakak. Senyum kecut terukir sekali lagi di wajahnya. Mata beriris keemasan miliknya yang tadi terlihat seperti mata ikan mati kini berkilauan terkena cahaya terang dari matahari yang sudah terbit seutuhnya.
"Tampaknya... aku masih punya jalan panjang yang harus kulalui dulu sebelum bisa menjadi manusia sepenuhnya," ucap Senshi.
"Ya...." Yamamura menyahut sembari menepuk punggung rekannya itu. "Semangat, kawan."
To be continued
Entah kenapa, waktu nulis chapter ini mata author malah 'lebih bocor' daripada waktu nulis adegan kematian Yamarashi, jir :"( Yah, mungkin karena author serasa melihat diri sendiri di dalam karakter Senshi.
Anyway, seperti biasa, terima kasih telah meluangkan waktu untuk membaca chapter ini dan jangan lupa tinggalkan jejak berupa vote dan comment (Bukan emot jejak kaki, yak >:v Awas aja kalo sampe ada yang komen emot jejak kaki, kupukul kepalamu pakai gagang pedang nanti).
Sampai jumpa di chapter berikutnya!!