Purity Online - The World For The Fallens

Purity Online - The World For The Fallens
[Season 2] Chapter 6: Hari Ulang Tahun



Musim berganti. Waktu telah menyapu bersih seluruh salju di kota Tokyo. Tanaman-tanaman yang tadinya mati mulai hidup kembali. Dekorasi natal menghilang dan digantikan oleh pohon-pohon yang mulai berbunga, menandakan bahwa musim semi telah tiba. Ya, sekarang adalah April 2091, tepatnya tanggal 17.


(Buat para vvibu, jangan malah keinget Kaori yak :v awkwkwk)


Kota Tokyo menjadi lebih padat daripada bulan Desember kemarin karena libur natal sudah berakhir. Anak-anak kembali masuk sekolah dan orang-orang dewasa kembali bekerja. Meski padat, ibukota dari Jepang itu sama sekali tidak tampak dipenuhi polusi karena mayoritas orang menggunakan kendaraan berbahan bakar listrik, magnet, atau energi alam. Kendaraan berbahan bakar fosil dianggap sudah tidak ada gunanya karena cuma mencemari lingkungan dan akhirnya ditinggalkan. Ditambah lagi, bunga-bunga sakura yang bermekaran di sisi kanan dan kiri jalan memperindah pemandangan dan memanjakan mata.


4 bulan sudah berlalu sejak peristiwa itu. Sampai sekarang, keluarga Yuzumoto sama sekali tidak bisa menangkap maksud dari perkataan para malaikat yang menyerang Yamamura. Misteri kekuatan aneh yang dimiliki oleh Yamamura juga belum terpecahkan sampai sekarang. Ryugai dan Yuukaru sudah mencoba membawa putra sulung mereka itu ke dokter dan psikiater, tapi hasilnya nihil. Menurut mereka, itu bukan gejala penyakit fisik maupun mental. Mereka juga sudah pernah membawanya ke pendeta, tapi beliau mengatakan bahwa tak ada kutukan maupun bakat khusus yang terpendam di dalam diri Yamamura. Akhirnya, mereka memutuskan untuk melupakannya saja karena tidak ada satupun hal buruk yang terjadi walaupun sudah berbulan-bulan kejadian itu berlalu.


Bicara soal melupakan, sepertinya ada sesuatu yang saya lupakan. Ah, ya!! Hari ini, 17 April, adalah hari ulang tahun Yamamura yang ke-12!! Tampaknya keluarga Yuzumoto juga lupa. Waduh. Apakah Ryugai dan Yuukaru terlalu sibuk bekerja sampai-sampai melupakan hari ulang tahun anak mereka sendiri? Entahlah, saya juga tidak tahu.


—————————————————————————————


Kediaman keluarga Yuzumoto.


06:30 AM.


"Nyam ..., nyam ...."


Yamamura terlihat masih tertidur dengan nyenyaknya di atas ranjangnya, meski sinar matahari sudah menembus gorden jendela. Adiknya, Aojin, yang sekamar dengannya terlihat sudah meninggalkan kamar. Mungkin dia sudah berangkat duluan ke sekolah.


"Nyam ...."


Yamamura berguling-guling di kasurnya sampai akhirnya dia terjatuh ke lantai dan terbangun. Kedua matanya membelalak seketika.


"Hah?!"


Bocah itu menatap jam weker di atas meja dengan panik. Dia sudah terlambat bangun lima belas menit dari waktu seharusnya.


"Sialan!! Semuanya kenapa tidak membangunkan aku, sih?! Aojin juga kenapa malah berangkat ke sekolah duluan?! Dasar pengkhianat!!!" Dia menggerutu sambil menyambar handuk dan bergegas memasuki kamar mandi. Setelah mandi dan berganti pakaian, ia pun bergegas menuju ruang makan. Di sana sudah tertempel dua lembar kertas surat untuknya, dari ibunya dan dari adiknya. Surat pertama berbunyi:


'Maaf, ya. Ibu dan ayah harus berangkat kerja lebih awal dari hari-hari biasanya. Ini sarapanmu. Cepat dimakan dan berangkat ke sekolah, ya. Nanti kau terlambat.


-Ibu.'


Sedangkan surat kedua berbunyi:


'Maaf aku tidak membangunkanmu karena tidurmu pulas sekali. Kau sepertinya kelelahan. Jadi aku berangkat duluan. Maaf, ya.


-Aojin.'


"Matamu!! Pengkhianat kau sialan!!!" Yamamura merobek-robek kertas surat yang kedua, lalu membuangnya ke tempat sampah.


"Sialan!! Kalau tidak berangkat sekarang, mana sempat!!" Bocah berambut keemasan tersebut menyambar sarapannya dan mengambil tasnya, lalu bergegas keluar, memakai sepatu, dan mengunci pintu. Dia memakan sarapannya sambil berlari menuju sekolah.


"Masa' di hari ulang tahun sendiri malah dihukum karena terlambat, sih? Tidak lucu, tahu!!" Dia terus menggerutu sambil berlari.


"Dari kata-kata mereka tadi ..., sepertinya mereka tidak ingat ini hari apa ...." Yamamura membatin sambil menatap langit yang biru dan dihiasi oleh awan-awan. "Apa mereka benar-benar lupa?"


"Ya sudahlah, nanti juga pasti mereka ingat sendiri." Dia mengalihkan pandangannya kembali ke arah jalanan di depannya. "Semoga saja hari ini tidak terlalu buruk ...."


To be continued


Maap baru update, kemarin tugas menyerbu bagai hujan meteor saat kepunahan massal 😓 *ditampol readers* (Readers: Alesan!!! Bilang aja males nulis!!!)