
Day 2 (Waktu di dunia Purity Online)
09:15
"Hei, hei. Masih tidur juga? Dasar. Sudah jam sembilan lewat, tahu." Sebuah suara feminim berusaha membangunkan Ryugai. Pemilik dari suara itu adalah seorang gadis berambut sebahu berwarna keemasan.
"Memangnya kenapa? Aku masih mengantuk," ucap Ryugai sambil membalikkan tubuhnya, mengubah posisi berbaringnya.
"Hei. Kau ini tidak disiplin waktu sekali, sih," ceramah gadis itu.
"Berisik sekali, sih. Lagipula aku tidak punya satupun kegiatan untuk dilakukan seandainya aku bangun," ketus Ryugai. "Sudah, pergi sana!!"
"Jahat sekali, Ryugai." Gadis itu mengerucutkan bibirnya.
"Huh? Kenapa kau tahu namaku?"
"Kemarin kita berkenalan sewaktu kau dibawa pulang oleh kakekku, apa kau lupa?"
"Ah, ya. Kalau tidak salah, namamu Yuukaru, ya," sahut Ryugai. "Makan malam yang kau buat kemarin lumayan enak juga."
"Nah. Kalau kau ingin memakannya lagi, kau harus bangun," ujar gadis bernama Yuukaru itu.
"Tidak mau," ujar Ryugai sambil menarik selimutnya hingga menutupi mukanya.
"Kalau begitu, kau tidak akan dapat sarapan!!"
"Oh, ya sudah," sahut Ryugai acuh.
"Juga makan siang dan makan malam!!!"
"EEEEEEEEHHHHH?!!!" Pemuda berambut biru itu mendadak bangkit dari tempat tidurnya begitu mendengar ucapan Yuukaru. "Masa' sekejam itu, sih?"
"Kau bisa berburu dan memasak, 'kan? Makan saja kelinci bakar seperti yang kau makan bersama kakekku kemarin," sahut Yuukaru.
"Yang benar saja!! Setiap hari makan menu yang sama, dan tanpa bumbu penyedap satupun?!" Ryugai terperanjat.
"Memangnya kenapa? Kau, 'kan, pengembara. Pasti kau sudah terbiasa dengan menu makanan seperti itu," goda Yuukaru dengan senyum menyebalkan.
"Tidak!!!" seru Ryugai. "Baik, baik!! Aku bangun!!"
"Sial. Setelah sekian lama, akhirnya aku bisa menyantap makanan lezat lagi. Mana sudi aku makan menu yang sama terus-menerus, sama seperti ketika aku di penjara!!!"
Ngomong-ngomong, Ryugai merahasiakan identitasnya yang berasal dari dunia nyata kepada semua orang di desa dan berbohong dengan mengatakan bahwa ia adalah seorang pengembara dari tempat yang jauh, dan kebetulan bertemu dengan Kakek Yurato di tengah pengembaraannya.
"Menyebalkan sekali, sih ...." Ryugai menggerutu sambil bangkit berdiri dan meregangkan tubuhnya.
"Sarapanmu sudah kusiapkan di meja ruang makan," ucap Yuukaru sembari memutar kenop pintu, hendak keluar dari kamar Ryugai.
"Oh, ya." Ketika sudah berada di ambang pintu, mendadak ia menoleh ke arah Ryugai. "Kau bilang tidak ada kegiatan, 'kan? Kalau begitu bagaimana kalau bantu kakakku berburu saja?"
"Berburu? Tunggu, aku tidak punya senjata. Kalau cuma kelinci mungkin bisa, tapi kalau rusa, mana mungkin aku membunuhnya dengan tangan kosong," ujar Ryugai.
"Lagipula, aku ini pembunuh yang lebih mengandalkan kesunyian, ketangkasan, dan keakuratan. Aku bukan pembunuh yang mengandalkan kekuatan. Aku selalu membunuh korbanku dalam kesunyian, secara cepat, dan diam-diam tanpa disadari oleh siapa pun, kemudian pergi dari sana tanpa meninggalkan jejak satupun. Yah, walau aku pernah lengah sekali dan tetangga korban memergokiku, sih .... Gara-gara itu, aku harus membunuhnya juga untuk membungkam mulutnya."
"Jangan khawatir. Kakakku punya satu busur dan panah yang menganggur," sahut Yuukaru. "Setidaknya, dengan begini kau memiliki kegiatan, 'kan? Daripada selonjoran terus di kasur itu. Nanti belum tua sudah kena penyakit tulang."
"Baiklah, aku beritahu kakakku dulu."
Tepat setelah mengatakan itu, Yuukaru beranjak dari kamar tersebut dan menutup pintunya. Ryugai termenung sembari memandangi jendela kamarnya yang menampilkan hiruk-pikuk Desa Arafubi. Kamar Ryugai berada di lantai dua, makanya sudut pandang jendelanya sangat bagus.
"Mereka ... benar-benar berbeda ... dari orang-orang di bumi ...."
"Dunia ini ..., perbedaannya dengan duniaku sangat kontras."
—————————————————————————————
"Jadi kau ingin ikut berburu, ya?" ujar seorang pria berambut keemasan dan berusia sekitar dua puluhan dengan senyum ramah terukir di wajah.
"Ya," sahut Ryugai masih dengan wajah acuh.
"Ayolah, Ryugai. Kalau acuh seperti itu, lama-lama kau bisa dibenci, lho!!" goda Yuukaru.
"Berisik, ah!!" ketus Ryugai.
"Ngomong-ngomong, kenapa kemarin anda tidak ada di rumah?" tanya Ryugai kepada pria muda itu.
"Kakakku memang sering pulang malam karena sering berburu sampai lewat matahari terbenam dan mengantri untuk menukarkan hasil buruannya di Gedung Serikat," jelas Yuukaru. "Oh, ya. Kalian belum berkenalan, 'kan?"
"Oh, benar juga," sahut pria berambut keemasan itu. "Namaku adalah Otomura. Kalau kau?"
"Ryugai," ujar Ryugai masih dengan wajah datar.
"Ah, ayolah!! Setidaknya tersenyumlah sedikit!! Kalau begitu terus, kau bisa dianggap berandalan, lho!!!" goda pria bernama Otomura tadi.
"Aku tidak peduli," sahut Ryugai. "Lagipula, bukankah aku memang berandalan? Yah, itu di bumi, sih ...."
"Yah ..., terserah kau, sih ...." Otomura berucap sembari menyerahkan sepasang busur dan panah kepada Ryugai. Pemuda itu langsung mengambilnya.
"Baiklah. Kalau begitu, ayo kita berangkat. Yuukaru-chan, tolong siapkan makan malam, ya."
"Hei. Jangan memanggilku seperti anak kecil, kakak!!!"
"Huh? Memangnya kenapa?"
"Kakak ini ...."
"Aduh!! Aduh!! Aduh!! Sakit!!! Jangan dijewer, dong."
"Hari ini yang dapat bekal makan siang cuma Ryugai!!!"
"EEEEHH?! Kejam sekali ...."
"Hihihi. Bercanda, kakak."
To be continued
Next Chapter:
Day 2: Perburuan (Part 2)