
"Sial ...," gerutu Yamamura sembari melipat kedua lengannya di belakang kepala dan beranjak keluar dari dalam sekolah yang sudah mulai sepi, melewati gerbang. "Akhirnya kita jadi pulang terlambat."
"Maaf, ya, kakak." Aojin menundukkan kepalanya, terlihat merasa bersalah. "Gara-gara aku, kakak jadi kena masalah."
"Tidak masalah." Otomura tersenyum. "Ini juga salahku."
"Ngomong-ngomong, kau ingat, tidak, ini hari apa?" tanya Otomura.
"Hari ... Rabu?"
"Mau kupukul lagi?" Urat marah kembali timbul di kening anak lelaki itu.
"Ehehehe, bercanda ...." Aojin terkekeh. "Ini hari ulang tahunmu, 'kan?"
"Kau ingat?!" Kedua mata Otomura berkaca-kaca karena terharu. "Kau tidak lupa?"
"Mana mungkin aku lupa, kakak," sahut Aojin sambil tersenyum.
"Akhirnyaaaaa!!!" Yamamura berteriak sambil menengadah ke langit dengan muka terharu. "AKHIRNYA ADA ORANG YANG INGAT!! Dari tadi pagi mulai dari teman-teman, guru, dan bahkan ayah dan ibu tidak ada yang ingaaaattt!!!"
"Mungkin tadi pagi mereka cuma lupa, kakak." Aojin berusaha menghibur kakaknya itu. "Atau mereka sudah mempersiapkan kejutan di rumah."
"Benar juga!!!" Selintas ide timbul di benak Yamamura. "Mereka pasti mau mengejutkanku di hari ulang tahunku!! Mereka mau memberiku kejutan!!"
"Yosh ..., mari kita pulang ke rumah!!!" Yamamura berseru sembari memosisikan badannya layaknya peserta lomba lari yang sedang melakukan start, lalu melesat dengan kecepatan yang menyamai cahaya.
"He-Hei!! Tunggu aku, kakak!!!" Aojin mengejarnya dengan susah-payah.
Dalam waktu singkat, Yamamura telah sampai di rumahnya. Semangatnya yang meluap-luap membuat kecepatan larinya hampir sama seperti cheetah. Rumah itu masih terkunci dan lampunya masih belum menyala. Terlihat seperti rumah yang sedang kosong.
"Hahh ..., hahh .... Kau cepat sekali larinya ..., kakak ...." Aojin berucap dengan terengah-engah di belakang Yamamura. Tubuhnya dibanjiri keringat dan dia bahkan tidak punya tenaga untuk berdiri tegak.
"Kau yang terlalu lambat!! Kasihan ayah dan ibu kelamaan menunggu!!" sahut Yamamura.
"Tapi, 'kan, sudah kubilang itu masih kemungkinan!!" Aojin meraih botol minumnya, lalu meneguk isinya.
Dia menempelkan tangannya di sebuah panel dengan lekukan berbentuk tangan di dekat pagar, kemudian sebuah layar hologram bergambar gembok muncul di samping panel tersebut dan menampilkan animasi gembok yang terbuka. Di saat itu juga, pintu pagar terbuka secara otomatis. Ya, panel tersebut adalah alat pendeteksi sidik jari. Di zaman modern seperti ini, teknologi canggih seperti itu sudah menjadi hal yang umum.
"Ayo, Aojin!!" seru Yamamura sambil berlari masuk ke dalam rumah dan membuka pintu.
"Hei!! Aku sudah pulang!!! Kalian tidak perlu lagi bersembunyi!!!"
Hening. Tidak ada satupun jawaban. Hanya kegelapan dan kesunyian.
"Halooo? Ayah? Ibu?"
Yamamura melepas sepatunya, menyalakan lampu, dan mulai mencari orangtuanya di setiap ruangan, tapi hasilnya nihil. Kedua orangtuanya sepertinya memang sedang tak ada di rumah. Dia merebahkan tubuhnya di kursi dengan lesu sambil menundukkan kepalanya.
"Sepertinya mereka memang lupa," ucapnya putus asa.
"Mungkin nanti mereka akan ingat, kakak." Aojin meraba bahu kakaknya, berusaha menghiburnya.
"Tapi ..., tinggal tiga jam sampai waktu kelahiranku." Yamamura menatap jam yang tergantung di dinding. "Apa mereka akan ingat dan pulang dalam waktu sesingkat itu?"
"Sudahlah. Kita tunggu saja. Sekarang, kita makan siang dulu, yuk," ajak Aojin.
"Baiklah." Yamamura berujar sambil bangkit berdiri. Namun, kepalanya masih tertunduk.
Sementara itu, di sebuah jalanan, Yuukaru baru saja selesai menilang seorang pelanggar lalu lintas. Sesuatu terlintas di benaknya. Seperti ada sesuatu yang dilupakannya. Dia berusaha mengingat-ingat apa sesuatu itu, tapi sia-sia saja. Dia sama sekali tidak ingat.
"Ya, sudahlah. Nanti juga aku ingat sendiri," batinnya.
To be continued
Next Chapter:
[Season 2] Chapter 9: Dikejar Waktu