
"Sebuah surat?"
Ryugai mengangkat batu yang menahan surat tersebut dan mengambil surat itu, lalu menempatkannya di tengah langit yang dipenuhi bintang yang berkelap-kelip. Bulan terlihat di sebelah lipatan kertas tersebut.
"Apa dia sengaja meninggalkan ini untukku?" Alis Ryugai tertaut sekali lagi selagi kedua matanya menatap lurus ke arah surat itu. Tak lama kemudian, keterkejutan menghampiri dirinya. Dia terperanjat karena baru saja menyadari sesuatu.
"Tu-Tunggu!!" serunya dengan kedua mata membelalak. "Jangan-jangan ...!! Jangan-jangan dia juga-"
"Eh, tunggu, tunggu!!!" Kedua mata Ryugai yang tadinya meneliti setiap sentimeter dari surat itu kini menatap tak percaya. "Ini bohong, 'kan?! Dia pasti bercanda. Mana ada kebetulan yang sebagus ini!!! Ini, 'kan, dunia nyata, bukan seperti di drama atau anime!!"
"Su-Sudahlah!! Lebih baik langsung kubuka saja," ucap Ryugai sembari membuka lipatan kertas surat itu. Dia pun mulai mulai membacanya.
"Untuk Ryugai.'
'Hei, Ryugai. Bagaimana kabarmu? Pada saat kau membaca surat ini, pasti aku sudah tidak ada lagi di sampingmu. Kau pasti heran, 'kan? Padahal kau baru menggerakkan hatiku untuk pulang ke dunia nyata tadi, jadi siapa yang menulis surat ini?'
'Jawabannya adalah diriku sendiri. Aku menulisnya karena aku sudah memperkirakan bahwa kau akan menggerakkan hatiku untuk bisa pulang. Kau tahu Ryugai? Aku selalu bilang kalau dunia nyata itu sampah dan dipenuhi oleh ketidakadilan, dan dunia ini adalah tempat yang paling cocok bagi jiwa-jiwa yang murni seperti kita, tapi kalau boleh jujur, sebenarnya aku tidak ingin tinggal selamanya di sini. Aku sadar bahwa semua kebahagiaan yang didapatkan di sini adalah kebahagiaan palsu. Aku ingin pulang. Aku ingin kembali ke dunia nyata. Aku tak ingin keluargaku mengkhawatirkanku.'
'Namun, aku punya sisi lain dalam diriku yang menguasai sebagian besar dari jiwaku, yaitu sisi pengecut. Sisi pengecut ini selalu mencegahku untuk kembali ke dunia nyata dan terus kabur dari kenyataan. Dia menyuruhku tinggal di dunia yang merupakan zona nyaman ini selamanya.'
'Sebenarnya aku dan Kak Otomura tahu kalau kau adalah sesama tester. Kami sudah tahu dari awal, karena manusia yang muncul dari dalam hutan itu sudah pasti adalah sesama player. Namun, kami diam saja. Kami takut kau adalah developer yang dikirimkan untuk memaksa kami kembali ke bumi secara paksa. Setelah kami mengenalmu lebih dekat lagi, kami pun menyadari bahwa kau adalah sesama tester, orang yang mengalami penderitaan yang sama dengan kami.'
'Namun, melihat dirimu yang mampu meng-influence Genbu, NPC yang keras kepala itu, dengan mudah, kami yakin bahwa jika kami memberitahukan kebenarannya kepadamu, kami takkan bisa berada di dunia ini lagi. Kau pasti akan menyuruh kami kembali ke dunia nyata. Jika kami menolak, kau pasti akan terus menyudutkan kami, mengingat kau adalah orang yang gigih. Karena itu, kami memutuskan untuk menyembunyikan identitas kami dan berpura-pura menjadi NPC.'
'Namun, ketika kau sudah hendak pergi dari dunia ini, aku menyadari bahwa semua kebahagiaan ini palsu. Aku ingin kembali, sayangnya sisi pengecut ini mencegahku. Akhirnya, aku pun sengaja duduk di bangku taman itu setelah perang untuk menarik perhatianmu. Aku tak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk diubah oleh orang sehebat dirimu. Aku tahu kalau hari-harimu berada di sini tinggal sedikit, jadi aku bergegas supaya aku tidak menyesal selamanya.'
'Oh, ya, Ryugai. Apa kau tahu? Alasanku ingin diubah olehmu dan kembali ke dunia nyata bukan hanya karena aku tak ingin mengkhawatirkan keluargaku.'
'Tapi ..., juga karena ... aku mencintaimu.'
'Jika aku tetap tinggal di sini, kita tak akan bisa bertemu lagi, tapi kalau aku kembali ke dunia nyata, masih ada kemungkinan kita bisa bertemu kembali meski mustahil.'
'Sebelum aku sempat menyadarinya, aku sudah jatuh cinta padamu. Belum pernah aku melihat pemuda sehebat dirimu yang bisa meng-influence orang lain ke jalan cahaya dengan mudah. Tapi, aku tak berani mengungkapkannya, karena bagiku itu tak ada gunanya. Sudah terlambat. Sebentar lagi kita akan berpisah, jadi apa gunanya menyatakan cinta? Itu hanya akan menimbulkan beban berat di hati kita berdua. Tapi, di saat-saat terakhir, pola pikirku berubah. Aku tidak ingin menyesal selamanya. Lebih baik terlambat daripada tidak pernah. Sayangnya, aku terlalu malu dan pengecut untuk mengatakannya, jadi aku harus menggunakan surat ini.'
'Karena itu ..., di surat ini ... aku ingin mengucapkannya ....'
'Aku ... mencintaimu ..., Ryugai!!'
'Maaf ..., karena sudah memendam rasa ini selama ini dan baru mengungkapkannya saat semuanya sudah terlambat ..., tapi aku benar-benar menyukaimu!!'
'Bagaimana balasanmu terhadap surat ini, ya? Aku penasaran. Semoga saja kita bisa bertemu lagi di dunia nyata, walau kemungkinannya sangat kecil. Aku ingin mendengar jawabanmu. Akan lebih baik lagi kalau kita bisa menikah di dunia nyata.'
'Mulai sekarang, aku akan kembali ke dunia yang busuk itu, di mana yang kuat berkuasa dan yang lemah hanya akan menjadi budak. Mungkin, penderitaanku bahkan akan menjadi lebih parah daripada sebelumnya. Tapi, aku tidak menyesal sama sekali telah bertemu dengan kau yang mengembalikanku ke dunia nyata, sebab dampak positifnya lebih besar. Terima kasih atas segalanya. Terima kasih sudah mengubahku dan menuntunku untuk menghadapi takdir kembali. Terima kasih sudah membuatku berhenti menjadi seorang pengecut. Terima kasih sudah membaca surat ini. Aku tidak pernah menyesal pernah bertemu denganmu ....'
'Seandainya saja ..., kita bisa bertemu lagi di dunia nyata .... Mungkin kemungkinannya hanya 1 banding 1 juta, tapi aku tidak peduli. Aku ingin terus berharap dan percaya. Aku percaya bahwa hal-hal kejam yang kita alami sebenarnya bukan karena Dewa ingin menyiksa kita, tapi karena Dia ingin kita melihat keajaiban di balik setiap musibah ... dan mewujudkan dunia fantasi ini, yang sekarang hanyalah dunia virtual.'
'Sekali lagi, terima kasih, Ryugai.'
'Selamat tinggal.'
'Kuharap perpisahan ini bukan untuk selamanya.'
*clak!!*
Tulisan di surat tersebut telah berakhir. Setetes air mata jatuh membasahi kertas surat itu, disusul oleh tetesan-tetesan air mata berikutnya. Tampak wajah Ryugai tengah berlinang air mata. Dia menggigit bibirnya, berusaha menyembunyikan kesedihannya.
"Salah ...."
"Kau salah!!"
"Kau salah besar!!"
"Aku sama sekali tidak melakukan sesuatu yang bisa dianggap berharga kepadamu ...."
"Aku sama sekali tidak mengubahmu."
"Kaulah yang telah mengubah diriku, bodoh."
"Pakai buat surat seperti ini segala, mau meniru yang di anime? Kau pikir kau seorang heroine, bodoh? Sudah dramatis, pakai sok peduli terhadapku begitu."
"Kaulah yang telah mengubahku ...."
"Kaulah yang telah menarikku kembali dari jalan kegelapan."
"Harusnya aku yang berterima kasih kepadamu!! Dasar bodoh!! Gadis itu masih saja mencoba untuk sok peduli."
"Yuukaru ..., aku juga mencintaimu ...."
"Aku juga sangat berterimakasih kepadamu ..., dan aku tak pernah menyesal bertemu denganmu."
"Karena itu, izinkan aku juga percaya terhadap omong kosong yang kau katakan itu."
"Izinkan aku percaya juga ... kepada keajaiban takdir."
"Selamat tinggal ...."
"Yuukaru ...."
To be continued
Cie yang lagi ngelap air mata πππ
Ryugai: Berisik lu, thor. Lu sendiri juga lagi ngelap air mata kan sekarang >:v
Yah ketahuan deh π
Next Chapter:
Day 63: Cincin Elemen Kenangan (Part 22)