Purity Online - The World For The Fallens

Purity Online - The World For The Fallens
[Season 2] Chapter 16: A Place I Can Call 'Home'



"Kau mau dengar?"


"Yah ..., boleh saja ...," ujar Yamamura. "Aku penasaran seperti apa masa lalumu."


"Ini akan menjadi cerita yang agak sedikit panjang ...." Zett menarik napas, bersiap untuk bercerita.


————————————————————————


(Biar feelsnya lebih terasa, bacanya bisa sambil dengerin lagu ini. https://youtu.be/euMTGYeMZsE)


Aku dilahirkan di sebuah keluarga yang biasa saja. Tidak kaya, tidak miskin. Tidak ada keistimewaan atau kemampuan khusus pada diriku. Aku menjalani masa kecilku dengan penuh kebahagiaan. Dikelilingi teman-teman yang ramah dan memiliki orangtua yang luar biasa. Ayahku sudah meninggal dunia karena sakit saat aku masih kecil. Maka, secara otomatis ibuku memegang dua peran sekaligus di keluargaku. Sebagai kepala rumah tangga yang bertugas mencari nafkah sekaligus sebagai seorang ibu rumah tangga yang merawatku. Kami tidak terlalu kaya, jadi kami tidak bisa menyewa pembantu rumah tangga. Ibuku adalah orang yang sangat hebat dan mengagumkan. Meski sedang sibuk bekerja, dia masih menyempatkan dirinya untuk bermain bersamaku. Berkat dialah masa kecilku menyenangkan meski aku tak punya bakat khusus atau uang yang banyak.


Kemudian, pada akhir masa SD-ku, entah bagaimana prestasiku melonjak tinggi hingga aku mencapai ranking 10 besar. Prestasi itu terus berlanjut di masa SMP-ku. Berkali-kali aku memenangkan olimpiade dan mendapat penghargaan. Ibuku sangat bangga denganku, bahkan sampai membelikanku sebuah Virtual Diver sebagai hadiah. Guru-guru selalu memandangku dengan tatapan senang dan bahagia. Mereka bilang mereka sangat bangga padaku. Teman-temanku juga selalu memandangku dengan kagum. Saat itu, aku benar-benar bahagia. Aku pikir aku adalah seseorang yang pandai, cerdas, dan spesial. Seseorang yang istimewa.


Sampai akhirnya ..., pada suatu hari .... Aku mulai menyadari bahwa ibuku telah berubah.


Dia yang dulunya penuh dengan kasih sayang, kini sangat ketat. Mulanya perubahan itu tak terlalu terlihat, tapi lama-lama semakin jelas. Aku selalu dipaksa untuk terus mempertahankan prestasi itu. Jika aku gagal, maka amarah dan pukulan akan menantiku. Hari-hariku selalu dipenuhi oleh belajar dan belajar. Aku dipaksa untuk ikut berbagai les dan bimbingan belajar. Waktuku banyak tersita hanya untuk belajar. Aku tak pernah mendapat waktu istirahat yang cukup. Setiap kali diselenggarakan olimpiade, aku selalu dipaksa mengikutinya dan mencetak prestasi di sana. Aku tak bisa menikmati masa remajaku layaknya anak-anak lainnya. Sosok seorang ibu yang penuh dengan kasih sayang itu sudah lenyap.


Aku mulai menyadari bahwa ... semua ini tidak ada gunanya ....


Semua piala ini ..., piagam ..., penghargaan ..., dan yang lainnya ... bukanlah sesuatu yang spesial.


Tidak ada yang spesial sama sekali dari mereka. Itu bukanlah sesuatu yang membanggakan. Malah bagiku mereka adalah simbol penderitaan dan penyiksaan.


Menjadi orang yang berprestasi ... tidaklah menyenangkan seperti yang kubayangkan.


Aku membuat kesalahan besar dengan naik ke atas pohon bernama prestasi akademik. Sekarang, aku sama sekali tidak bisa turun. Sekali nilaiku turun, maka amarah akan menyambutku. Aku sudah berusaha sekuat tenaga, tapi bagi ibuku itu masih belum cukup. Aku sekarang lebih mirip robot daripada seorang anak. Pandangan bangga dan kagum dari guru-guru dan teman-temanku ..., sekarang terasa menjijikkan dan memuakkan ....


"Saya sangat bangga dengan prestasimu, Nak."


"Kerja bagus, Nak."


"Kau memang anak yang pandai."


"Enaknya jadi kau, ya. Masa depanmu sudah terjamin karena prestasi-prestasimu ...."


"Pasti jadi anak emas guru, tuh."


"Enaknya jadi anak kesayangan sekolah ...."


"Hentikan!!! HENTIKAN!!!"


"Pasti orang tuanya bangga punya anak pintar seperti dia."


"Sudah masuk 10 besar, sering menang olimpiade pula."


"Lemari kamarnya pasti dipenuhi oleh piala dan piagam penghargaan, tuh."


"HENTIKAN!!! KALIAN TIDAK TAHU APA-APA!!! AKU SAMA SEKALI TIDAK MERASA BAHAGIA HIDUP SEPERTI INI, TAHU!!! AKU MALAH MERASA HIDUP SEPERTI SEBUAH ROBOT!!!"


Hingga akhirnya ... ketika aku memasuki tahun pertama di SMA, hari itu tiba ....


————————————————————————


"Kau ... benar-benar memalukan!!! Mempertahankan prestasi saja kau tidak bisa?! Kau pikir untuk apa ibu bekerja keras dan menyekolahkanmu selama ini?! Kenapa mempertahankan posisi ranking saja kau tidak bisa?!"


"Tapi ..., aku tidak bisa menjadi yang terbaik selamanya .... Selain itu, aku juga sudah mengusahakan yang terbaik."


"Omong kosong!!! Lihatlah semua ini!!! Ke mana prestasimu yang dulu itu?!"


"HENTIKAN!!!"


"Kau ..., KAU MENGANGGAPKU SEBAGAI ANAK ATAU TIDAK, HAH?! KAU LEBIH PEDULI TERHADAP NILAI?! KAU LEBIH PEDULI TERHADAP ANGKA-ANGKA TIDAK BERGUNA ITU?! KAU MENGORBANKAN HAKKU UNTUK BERISTIRAHAT BAHKAN MENGURANGI WAKTU TIDURKU HANYA DEMI MEREKA?! APA KAU TIDAK BISA MENGHARGAI USAHAKU SEDIKIT SAJA, HAH, ORANGTUA SIALAN?!"


"SUDAHLAH, INI SEMUA PERCUMA!!! AKU AKAN PERGI KE KAMAR!!!"


"Hei!! Ibu belum selesai bicara!! Hei!!"


"Percuma bicara denganmu!! Jangan menyebut dirimu sebagai ibuku!! Kau bahkan tidak pantas untuk menjadi seorang orangtua!!!"


Ya, aku memutuskan untuk berontak dan lari dari kehidupanku.


Dunia ini memuakkan ....


Kehidupan ini memuakkan ....


Rumah ini memuakkan ....


Keluarga ini memuakkan ....


Semuanya memuakkan ....


Ini bukan rumah lagi bagiku. Sekarang, ini adalah penjara. Jika aku terus bertahan di sini maka aku hanya akan semakin menderita dan merasa seperti berada di neraka.


Mungkin ..., semua ini tidak akan terjadi seandainya aku tidak pernah mencetak prestasi akademik. Mungkin semua ini tidak akan terjadi seandainya aku tidak pernah menaikkan nilaiku. Jika aku tidak pernah melakukan itu, mungkin saat ini aku bisa menikmati kehidupan remaja yang layak seperti remaja-remaja lain yang seusia denganku. Tapi, aku tidak bisa pergi ke masa lalu dan mengubahnya, jadi satu-satunya pilihan sekarang adalah melarikan diri dari kehidupan ini sebelum aku menjadi gila.


Pada hari itu juga, aku melakukan login ke dalam dunia virtual-reality. Aku melarikan diri ke dunia virtual. Aku memainkan lagi game VRMMORPG yang sudah lama tidak kumainkan. Di sana, aku memulai perjalananku ....


Untuk mencari ... tempat yang bisa kusebut sebagai rumah ....


...-A Place I Can Call 'Home’-...


To be continued


Next Part:


[Season 2] Chapter 17: The World Where I Truly Belong


Fun fact: Sekitar 60% dari backstory ini diambil dari kisah nyata kehidupan author.