
Matahari semakin meninggi dan sekarang sudah berada tepat di puncak langit. Yamamura sudah memasuki daerah bersalju sekarang, menandakan bahwa dia sudah tiba di tempat tujuannya, yakni Winter Region.
"Sial ..., dingin sekali ...," gerutu Yamamura. Dia menggigil kedinginan. "Tahu begini, harusnya aku bawa baju hangat tadi."
"Huh? Apa ini?" ucapnya sambil melihat ke map.
Ada sebuah tembok besar di bagian terluar Winter Region. Bocah itu bergegas menyentuh panel map dan nama dari tembok raksasa itu segera muncul di sebelah kanan lambang tembok tersebut. Tertulis Great Wall Dungeon dengan dungeon difficulty tidak diketahui atau [???].
"Dungeon? Jangan-jangan gara-gara ini para petualang tidak pernah kembali dari Winter Region dengan selamat. Mungkin ini agak berbahaya. Lagipula aku tidak tahu apa difficulty dari dungeon ini." Ia mengganti panel map menjadi world map.
"Petunjuk arah yang ditunjukkan oleh quest ini tidak bisa dipercaya. Aku akan mencari jalan masuk yang lain saja. Eh?"
Yamamura menghela napas berat. Ternyata tidak ada akses jalur lain. Posisi Winter Region adalah sebagai gerbang masuk ke sebuah wilayah yang tidak dikenal. Tidak ada cara lain untuk masuk ke wilayah itu selain lewat Winter Region karena daerah misterius tersebut dibatasi oleh pegunungan bersalju bernama Ring of Snow di tenggara dan barat daya serta pegunungan berapi bernama Ring of Vulcan di barat, timur, timur laut, barat laut, dan utara.
"Berarti tidak ada cara lain. Aku harus lewat dungeon ini. Siaaalll!!!" keluh Yamamura. "Ya sudahlah. Kalaupun nanti aku akan mati di dalam sana, setidaknya aku mati dengan perlawanan."
Sebuah anak panah melesat, menancap di leher seorang goblin bertubuh kecil. Darah segar keluar dari pembuluh darah di leher goblin tersebut, membasahi lantai dungeon.
"Wah, sekarang fitur darah sudah diaktifkan. Mengerikan sekali .... Apa ini karena dunia ini tidak terhubung dengan sistem game lagi?"
Yamamura menghampiri jasad goblin itu dan mengambil drop item yang tentunya tidak seberapa.
"Dari tadi cuma monster-monster kecil yang muncul. Apa rumor bahwa tidak ada satupun orang yang berhasil keluar dari Winter Region itu cuma dilebih-lebihkan?" Adventurer muda tersebut mengusap rambut emasnya, menatap lorong dungeon yang diterangi oleh obor-obor di sebelah kanan dan kiri atas.
"Yah .... Aku maju terus saja, deh," ucap Yamamura sembari melangkahkan kakinya. "Nanti juga bakal muncul sendiri boss-ny- AAAAAAAA!!!" Yamamura berteriak terkejut karena lantai yang dipijaknya tiba-tiba runtuh, menyebabkannya hampir jatuh ke sebuah lubang yang sangat dalam. Dasar dari lubang tersebut agak gelap karena hanya diterangi oleh sebuah obor, tapi ia bisa melihat sedikit tulang-belulang yang berserakan di bawah sana.
"Hiiiiiyyy!!!" jeritnya penuh kengerian. Ia mundur beberapa langkah ke belakang dan jatuh terduduk. "Te-Ternyata legenda itu benar ...."
"Aku harus berhati-hati. Siapa tahu masih ada jebakan la- GIIII!!!"
Bocah itu kembali terkejut. Gigi-giginya bergemeretak dan kedua matanya melotot ngeri. Sebuah anak panah baru saja melesat di hadapannya, nyaris menancap di kepalanya.
"Kalau bukan gara-gara keberuntunganku, mungkin aku sudah mati sekarang. Untuk ke depannya, aku harus lebih berhati-hati lagi."
Yamamura kembali menelusuri lorong dungeon tersebut sambil terus menghabisi monster-monster berukuran kecil dan sedang yang ditemuinya. Sesekali ia menemui jebakan-jebakan yang untungnya berhasil dihindarinya. Setelah agak lama berjalan dan beberapa kali menemui ruangan-ruangan kosong serta patung-patung dan simbol di dinding yang entah melambangkan apa, ia menemukan sebuah pintu raksasa. Di sebelah kiri tubuhnya, ada sebuah pintu lain yang berukuran lebih kecil.
"Kubuka yang mana dulu, ya?"
Bocah itu membuka perlahan pintu di sebelah kirinya yang terasa agak sulit didorong. Suara derit yang nyaring terdengar, pertanda bahwa pintu tersebut sudah lama tidak dibuka. Kondisinya sama dengan pintu-pintu ruangan yang lain.
"Mungkin gara-gara rumor itu, jadi tidak ada lagi petualang yang berani kemari," batinnya.
Pintu tersebut akhirnya bisa terbuka sepenuhnya. Sebuah kotak harta besar yang dipenuhi oleh emas, berlian, serta permata-permata berkilauan tampak tengah duduk manis di ujung ruangan. Itu sempat membuat Yamamura tergiur, tapi kemudian sesuatu menyadarkannya. Wajah mata duitannya berganti menjadi wajah seorang detektif.
"Lantai di sini ..., kok ada sebaris yang terlihat baru dan tidak berdebu, ya?"
Ia mencoba melangkah maju dan menjejakkan kakinya ke lantai yang terlihat baru tersebut. Baris lantai itu segera runtuh dan menciptakan lubang dalam yang memanjang. Di bagian bawahnya juga terdapat banyak tulang belulang, sama seperti jebakan sebelumnya.
"Berarti, kotak harta itu ...."
Yamamura bersiaga dengan posisi memanahnya, menciptakan anak panah dari cahaya putih, memasangnya di tali busur, dan menembakkan panah tersebut. Panah itu menembus kotak harta dan dengan telak mengenai sebuah alat kecil yang terselip di dinding. Alat tersebut jatuh bersamaan dengan timbulnya percikan-percikan listrik dan mengakibatkan ledakan kecil. Struktur kotak harta perlahan memudar dan akhirnya lenyap tanpa bekas.
"Hmph. Hologram, ya?" Yamamura tersenyum, terlihat bersemangat sekaligus kagum. "Pencipta dari semua jebakan ini pasti orang yang sangat jenius. Tapi, sayang sekali. Meskipun keledai bodoh, dia tidak akan jatuh ke lubang yang sama dua kali."
"Berarti boss room-nya ... ada di sana, ya?" Bocah tersebut menatap pintu besar tadi.
Ia melangkah keluar dari ruang jebakan itu dan berusaha mendorong pintu besar tadi, tapi pintu itu lebih sulit dibuka daripada pintu-pintu yang lainnya. Setelah diperhatikan dengan seksama, ternyata ada beberapa simbol aneh di pintu raksasa berbahan batu tersebut. Simbol matahari, petir, bulan, dan bintang dalam Mesir Kuno yang letaknya saling berjauhan.
"Jangan-jangan, ini kode? Ah, ayolah. Ini, 'kan, bukan game misteri."
"Hm? Apa ini?"
Yamamura baru sadar kalau ada sebuah persegi kecil dengan ukiran-ukiran tulisan di pintu raksasa tersebut. Tulisan itu berbunyi:
'Sang pemberani yang telah memasuki tempat terlarang harus menyatukan langit yang tercerai-berai, menantang dan mengalahkan Sang Penerawang, serta mempersembahkan langit tersebut dengan penuh rasa hormat kepada Sang Pencipta Semesta.'
"Apa maksudnya ini?"
To be continued
Hayoooo .... Ayo para readers, yang suka riddle silakan coba dipecahkan XD *ditabok*
Next Chapter:
[Season 2] Chapter 24: Pemecahan Teka-Teki