
Disarankan anda membacanya sambil mendengarkan backsound 'The Place Where Wishes Came True' dari anime Clannad supaya feelsnya meningkat pesat.
————————————————————————————
"Terima kasih makanannya!!!" ucap Otomura dan Iruna serempak. Mereka baru saja usai menyantap makan siang dan Otomura telah mengganti seragam sekolahnya dengan pakaian rumahan.
"Ah, walau menunya seadanya, tapi tetap terasa enak, ya." Otomura mendorong cup ramen instan menjauh dari tubuhnya, kemudian mengelus perutnya. Senyum terukir di wajahnya. Sebuah senyuman yang murni. Perbedaan antara kepribadiannya saat berada di rumah dan di sekolah sangatlah kontras.
"Ya, kakak," ucap Iruna sembari kembali tersenyum. "Karena apapun yang kakak masak selalu terasa enak."
"Kau ini bisa saja." Otomura terkekeh geli.
"Ah, kakak. Apa setelah ini kau senggang?"
"Hm? Ya. Aku masih punya waktu sebelum shift kerja sambilanku," ujar Otomura sembari menenggak habis air putih di gelasnya. "Ada apa?"
"Aku ingin ... meminta tolong ...."
"Hm? Tentang apa?"
—————————————————————————————
Di halaman rumah, tampak hari sudah sore. Matahari semakin beranjak ke arah barat. Udaranya sudah tidak sepanas tadi. Iruna tengah duduk di atas kursi rodanya, didampingi oleh Otomura di belakangnya.
"Hei, Iruna, apa kau yakin tidak akan apa-apa?" tanya Otomura khawatir.
"Tidak apa-apa." Iruna tersenyum, kemudian mencoba berdiri dari kursi rodanya. "Lama-lama tidak menggerakkan tubuh malah akan membuat badanku menjadi kaku. Oh, ya. Apa kakak tidak akan datang terlambat nanti?"
"Jangan khawatir, shift kerjaku masih lama mulainya," sahut Otomura dengan senyum tulus terukir di wajah.
"Bisa kita memulainya?"
"Ya."
Iruna mencoba melangkahkan kedua kakinya, menyeimbangkan gerakan dari dua kaki mungil tersebut agar keseimbangannya tak hilang. Satu langkah. Dua langkah. Tiga langkah. Beberapa langkah telah berhasil dia lakukan. Namun, rupanya keseimbangan itu tak bertahan lama. Tubuhnya oleng beberapa saat kemudian. Ia hendak jatuh, tapi berhasil ditahan oleh Otomura.
"Ka-Kau baik-baik saja."
"Ya, kakak," ujar Iruna. "Mari kita lakukan sekali lagi."
Menit demi menit berlalu. Burung-burung yang hinggap di puncak pohon menonton pemandangan indah itu sambil berkicau pelan, seolah memuji ketegaran serta kasih sayang sang kakak dan semangat juang sang adik. Awan-awan putih yang terlihat bagai gumpalan-gumpalan kapas turut menonton sambil melintas perlahan. Kini, sudah satu jam berlalu. Matahari telah hampir terbenam. Langit biru sudah digantikan oleh langit jingga khas senja.
"Kita sudahi saja untuk hari ini," ucap Otomura.
"Tidak!! Satu kali lagi." Meski sudah bermandikan keringat yang berkilauan tertimpa cahaya matahari senja, Iruna tampaknya masih belum menyerah. Dia melangkahkan kaki gontainya dengan susah payah. "Sedikit lagi!!"
Untuk yang kesekian kalinya, Iruna hampir terjatuh, dan untuk kesekian kalinya pula sang kakak menangkap tubuhnya. Ia kemudian menuntun adiknya itu ke arah lantai ubin dan duduk bersama di sana. Iruna bernapas dengan tak karuan. Kepalanya tertunduk dan benar-benar dibasahi keringat.
"Kita sudahi saja untuk hari ini, Iruna," ucap Otomura. Diulurkannya sebotol air minum yang tergenggam di tangan kanannya.
"Hei, Iruna." Otomura mencoba membuka pembicaraan. "Dari dulu aku penasaran, kenapa kau selalu berusaha dengan sangat keras hingga memaksakan dirimu? Apa yang membuat kau bisa memiliki tekad sebesar itu?"
"Membayangkan diriku berada di posisimu saja sudah membuatku menjadi kehilangan semangat. Bebanmu jauh lebih besar daripada milikku. Jika aku jadi kau, pasti aku akan mengeluh setiap harinya. Tapi, kau tidak pernah mengeluh. Kau terus berjuang dengan senyum yang murni tergambar di wajahmu. Mengapa kau terus berjuang?"
Iruna memandang lurus ke arah matahari yang nyaris terbenam. Mata emasnya seolah bersinar warna jingga karena memantulkan cahaya senja. "Karena aku ingin mengalahkannya."
"Mengalahkan? Mengalahkan siapa?" Kedua alis Otomura terangkat.
"Diriku sendiri. Aku ingin menang dari sisi kelam diriku, yakni keputusasaan, kemarahan, ketakutan, kurang bersyukur, dan sebagainya. Dan juga, aku ingin mewujudkannya."
"Mewujudkan?" Kebingungan tersirat semakin jelas di wajah Otomura.
"Mewujudkan dunia tanpa rasa sakit. Tanpa ada yang harus menderita. Tanpa tangisan. Tanpa jeritan ketakutan. Tanpa kemarahan. Tanpa penyesalan. Sebuah dunia seperti di surga. Di mana semuanya bisa tersenyum bahagia seolah tanpa beban. Dunia yang sekarang sangatlah keras dan kejam, karena itu aku ingin mengubahnya menjadi tempat yang lebih baik lagi. Tapi, sebelum itu, aku harus memulai dari diriku sendiri. Jika aku kalah dari sisi kelamku, maka aku takkan bisa mewujudkan dunia yang persis seperti surga itu."
"Karena itulah aku harus terus berusaha. Aku harus terus berjuang, bertarung dengan kelemahan dan keputusasaan dari diriku sendiri. Aku percaya, perjuangan kita suatu hari nanti akan membuahkan hasil."
"Kau memang adik yang sangat hebat, Iruna." Otomura memandangi adiknya itu dengan kagum. "Kau sangat kuat. Kau hidup dengan terus berjuang melawan keputusasaan sambil memikul beban yang berat."
"Sebenarnya ..., aku tidak sekuat itu, kakak ...."
Iruna menundukkan kepalanya. Bagian atas dari wajahnya kini tersembunyi oleh bayangan. Keputusasaan, kesedihan, dan rasa sakit akibat kehilangan mulai menghampiri jiwanya. Perlahan, wajah riangnya tadi tergantikan oleh wajah sendu.
"Sebenarnya ..., aku juga merasa sama seperti kakak ...."
"Aku bukanlah Dewa atau malaikat yang bisa menetralisir semua emosi negatif. Aku juga merasa takut. Aku takut jika masa depan kita berdua suram. Aku takut tidak akan bisa sembuh lagi. Aku takut kakak tak punya cukup uang untuk menghidupi kita. Aku takut ... kalau aku hidup hanya untuk menjadi beban kakak ...."
"Tapi, aku tak bisa menangis. Jika aku mengeluarkan air mata, artinya aku kalah terhadap emosi-emosi negatifku. Aku ingin terus berjuang sambil memikul beban ini, tapi bebannya terlalu berat. Aku tidak kuat. Aku ingin mengeluarkan air mata, tapi tidak bisa. Aku ...."
Air mata mulai menggenangi sudut mata Iruna, perlahan mengalir turun melewati pipi mungilnya. Ia mulai menangis tersedu-sedu, membuat Otomura merasa iba.
"Hei, Iruna. Menurutku, menangis itu bukan tanda kekalahan, kok. Tangisan bisa menjadi malaikat penyembuh. Kau tak perlu memikul semuanya sendirian lagi. Bukankah ada aku? Kita keluarga, 'kan? Aku takkan menjulukimu cengeng atau lemah. Keluarkan saja semua kesedihanmu sebelum mereka membusuk di dalam sana. Jangan menahannya lagi. Tidak ada yang salah jika kau menangis, kok. Itu adalah hal yang manusiawi."
"HUWAAAAA!!!" Iruna mendekap kakaknya. Tangisannya terdengar semakin keras. Dengan iba, Otomura mengelus rambut keemasan milik adiknya. Tanpa ia sadari, air mata turut mengaliri mukanya.
"Tidak apa, tidak apa," ucap Otomura. "Aku ada di sini. Aku akan menjagamu. Tidak ada lagi yang perlu ditakutkan."
"Di balik senyuman tulusnya itu ..., tersimpan beban berat yang amat besar ...."
"Aku tidak bisa membiarkan adik kecilku berjuang sendirian."
"Aku berjanji, aku akan membantunya mewujudkan dunia tanpa penderitaan."
"Aku akan ... terus berjuang bersamanya ...."
To be continued