
*trangg!!!*
"Hebat!! Kau langsung mengaktifkan aura-mu, ya!!" seru Genbu sembari terus menangkis serangan bertubi-tubi dari Ryugai.
"Kau juga gesit seperti biasanya!!" balas Ryugai.
*blaamm!!*
Mendadak, sebuah tinju berwarna hitam muncul dari bawah tanah, tepat di bawah kaki Ryugai. Namun, dengan sigap Ryugai menghindarinya dengan melompat ke belakang. Sebuah black hole muncul di tempat Ryugai hendak melakukan pendaratan, tapi ia berhasil menghindarinya dengan mengubah posisi tubuhnya menggunakan dorongan energi kegelapan berskala kecil. Belum sempat pemuda berambut biru tersebut menghela napas lega, Genbu telah terlebih dahulu menubruknya dan menyerangnya menggunakan pedangnya. Untung saja dia berhasil menangkisnya di saat yang tepat.
"Hebat!!" Seringai penuh semangat terukir di wajah Ryugai. "Tampaknya kemampuanmu berada di kelas yang sama denganku!!"
"Kau juga!!" sahut Genbu.
Ryugai memberikan dorongan pada pedangnya hingga Genbu terdorong ke belakang, kemudian adu pedang antara mereka berdua terjadi secepat kilat, bahkan nyaris tak dapat dilihat oleh mata.
"Wah, keduanya bertarung dengan sangat cepat!!! Bahkan saya sendiri nyaris tidak bisa melihat pergerakan mereka!!!"
Yuukaru terpana kagum melihat pertarungan tersebut. "Itukah ... kemampuan asli Ryugai? Hebat ...."
"Ya, pacarmu memang hebat," goda Otomura.
"Sudah berkali-kali kubilang kalau dia bukan pacarku!!" Wajah Yuukaru langsung bersemu merah.
"Cih!!" Genbu melompat ke belakang, kemudian memunculkan semacam segel berwarna hitam di tangannya. "Dragon Minions!!"
Sepasang sayap elang berwarna hitam legam muncul di punggung Genbu, kemudian membawanya naik ke ketinggian sekitar beberapa meter di udara. "Serang!!!" perintah pemuda itu sambil menunjuk Ryugai.
Dengan kecepatan yang menyetarai angin, dua ekor naga yang berada di lantai arena langsung menyerang Ryugai. Keringat dingin timbul di kening Ryugai. Roda-roda gigi di otaknya berputar dengan kecepatan tinggi, mencari solusi untuk masalah ini.
"Serangan dari timur, tenggara, selatan, barat daya, barat, barat laut, utara, dan timur laut. Tak ada celah bagiku untuk melarikan diri. Walaupun melompat ke atas, itu juga percuma karena naga-naga yang di atas pasti akan langsung menerkamku. Berarti satu-satunya pilihan yang kumiliki adalah ...."
"Kacaukan formasi serangan mereka!!!"
Ryugai merunduk sehingga dua naga itu saling bertabrakan. Ditariknya ekor mereka dan dilemparkannya hingga mengacaukan formasi naga-naga yang berada di atas dan sudah siap untuk menyerang. Empat naga tak bersayap yang tersisa dijatuhkannya dengan sapuan kaki. Ketika mereka jatuh, Ryugai segera menghujamkan pedangnya hingga membunuh satu naga, kemudian melemparkan pedangnya ke arah naga lain. Pedang tersebut menikam tepat di leher naga itu dan langsung membunuhnya. Dua naga lain menyerang dan Ryugai segera melompat hingga mereka bertabrakan lagi. Di udara, dia bertemu dengan delapan naga bersayap yang langsung menyerangnya dengan penuh kemarahan. Pemuda tersebut melemparkan bola-bola energi kegelapan yang muncul dari tangannya dan menghabisi mereka semua.
Gravitasi menarik tubuhnya hingga pemuda berambut biru itu jatuh bebas ke bawah. Ketika ia baru saja mendarat, dua naga tak bersayap langsung berlari ke arahnya. Ia melompat menghindar dan menjadikan punggung salah satu naga sebagai pijakan untuk mencapai tempat di mana pedangnya tertancap. Dicabutnya pedang itu hingga darah merah segar mengalir keluar.
Satu ekor naga terlihat berada di hadapannya, sedang berlari dengan kecepatan tinggi. Ia melompat ke punggung naga itu dan menusukkan pedangnya hingga Sang Naga tewas, kemudian melompat ke punggung naga yang satu lagi. Naga itu berontak, mengguncang-guncangkan tubuhnya, tapi itu sama sekali tak mengganggu pergerakan Ryugai. Meski berada di tengah guncangan hebat, Ryugai berhasil menancapkan pedangnya ke punggung naga itu. Kehilangan keseimbangannya, Sang Naga pun tersandung-sandung dan akhirnya jatuh.
Belum sempat Ryugai tersenyum bangga, Genbu telah terlebih dulu terbang ke arahnya dan menubruknya, kemudian mendorongnya ke belakang.
"Kau lengah!! Semua itu adalah strategi supaya pedangmu terlepas dari genggaman tanganmu!!!" Genbu menyeringai licik. "Sekarang kau tak punya senjata, 'kan?"
Ryugai mendecih, menyesali kelengahannya. Ia menoleh ke belakang. Tampak parit pembatas arena berjarak hanya beberapa meter darinya. Kedua matanya membelalak lebar. Ia berusaha bergulat dan melepaskan dirinya dari cengkeraman Genbu, tapi usaha itu sia-sia. Dia tak bisa melepaskan diri maupun mendorong balik, sementara jarak antara parit pembatas dengan dirinya semakin memendek.
"Sial!!!"
To be continued