Purity Online - The World For The Fallens

Purity Online - The World For The Fallens
Day 2: Perburuan (Part 2)



"Nah, kita sudah sampai," ucap Otomura.


"Ini tempatnya?" ujar Ryugai sambil memutar lehernya 180 derajat, memandang ke segala arah. Tampak hamparan rumput hijau yang tinggi membentang luas dipayungi langit biru luas yang berhiaskan awan-awan dan bola gas besar yang menyilaukan, yaitu Sang Surya sendiri. Beberapa pohon tampak berdiri, berjauhan satu sama lain, tapi tampak amat kokoh. Di kejauhan, pegunungan yang memanjakan mata terlihat. Hewan-hewan buruan terlihat sedang merumput di kejauhan.


"Indah juga," gumam Ryugai. "Jauh berbeda dengan di bumi. Di sini masih sangat asri, ya."


"Hei, hei. Ternyata kau suka menikmati pemandangan, ya?" goda Otomura. "Aku pikir kau sudah mati secara batin sehingga tidak mampu mengagumi pemandangan alam seindah apa pun."


"Berisik, ah," ketus Ryugai. "Mau kubunuh? Mumpung ada busur dan panah tergenggam di tanganku, nih."


"Iiihh~~ takuuttt~~"


"Diam, ah."


"Oh. Ngomong-ngomong, kau baru pertama kali berburu, 'kan? Biar kutunjukkan caranya." Tiba-tiba, Otomura melangkah maju, mengendap-endap mendekati kawanan rusa sembari mengangkat kepalanya dengan sok layaknya senior. Jaraknya dengan Ryugai sekarang kira-kira satu meter. Ia bersembunyi di sesemakan dekat situ, kemudian memasang anak panahnya di tali busur dan meregangkan talinya. "Kebetulan, ada satu ekor rusa yang masuk ruang lingkup panahku."


*zratt!!*


Bersamaan dengan suara itu, panah tadi melesat dari busur Otomura dan menikam leher si rusa dengan telak. Rusa itu terjatuh dengan darah mengalir deras dari lehernya. Rusa-rusa lain yang sekawanan dengannya dan sedang merumput di dekatnya langsung lari tunggang-langgang.


"Hahaha!!! Bagaimana dengan itu? Yang lainnya kabur, tapi setidaknya dapat satu." Otomura berseru dengan penuh kesombongan. "Bagaimana? Aku keren, 'kan? Ryu-"


*zrat!!* *zrat!!* *zrat!!* *zrat!!* *zrat!!* *zrat!!!*


Kedua mata Otomura membelalak lebar. Lima ekor rusa yang hendak kabur itu tumbang dengan darah mengalir deras dari leher. Pemuda itu langsung menoleh ke belakang, tempat Ryugai berada. Tampak Ryugai tengah menggenggam busurnya dengan tangan kirinya berada di tali busur sembari tersenyum puas. Dari pose dan wajahnya saja, kita sudah bisa tahu kalau dialah yang menembakkan anak-anak panah tadi.


"Kalau dibiarkan lari, mereka takkan mau datang ke sini lagi. Sayang sekali, 'kan, kalau lima tumpukan daging lari?" seru Ryugai kepada Otomura. Ia melangkahkan kakinya mendekati pria itu.


"EEEEEEEEEEHHHH??!!!" Otomura terperanjat. Ia berseru nyaring.


"Woi, kecilkan suaramu. Nanti hewan-hewan buruan di dekat sini kabur semua," ujar Ryugai.


"Ka-Ka-Kau memanah semuanya?! Di luar jangkauan anak panahku?! Grrrhh!! Tak bisa kubiarkan!! Ryugai, kita bertanding!!!" tantang Otomura. "Aku akan menggunakan sihir!!! Siapa yang paling banyak mendapat hewan buruan, dia pemenangnya!!!"


"Sihir, ya? Jadi ada yang begituan di sini," ujar Ryugai.


"Eh? Di negeri asalmu tidak ada?" Otomura memiringkan kepalanya bingung.


"Tidak ada," sahut Ryugai. "Oh, ya. Sebelum bertanding, aku ingin menanyakan sesuatu. Kau punya sihir untuk menyamarkan keberadaan?"


"Eh? Tentu saja tidak!! Kalau ada, pasti sudah kupakai dari tadi!! Harusnya aku tak perlu repot-repot mengendap-endap dan bersembunyi kalau punya sihir seperti itu!!"


"Benar juga," sahut Ryugai. "Kalau begitu, apa ada tempat dengan kubangan lumpur di sini?"


"Eh? Masa' kau mau mandi lumpur ...."


"Kau ini bodoh atau apa? Bukan begitu. Lumpur bisa membuat bau kita jadi samar sehingga keberadaan kita tak tercium oleh hewan-hewan buruan."


"Eh? Benarkah?"


"Tentu saja. Kau pernah belajar tidak, sih? Atau di sini kalian belum pernah tahu tentang hal itu?"


"Tentu saja belum!!"


"Padahal di negeri tempatku lahir, teknik ini sudah ditemukan sejak jutaan tahun lalu, lho."


"Eh?! Jutaan tahun lalu?!"


"Ya, bahkan sebelum manusia mengenal tulisan."


"Eeehh?!!"


Otomura: anda sendiri ngapain di sini, sana balik ke ruangan Plot Creation -_-


Author: iya iya :v)


———————————————————————————————————


"Arrow Rain."


Tepat setelah Otomura mengatakan itu, sebuah lingkaran sihir berwarna biru muda langsung menghujani sekawanan banteng, menghabisi mereka semua dalam sekejap. Anak panah itu mencair menjadi cairan biru muda yang kemudian lenyap. Kini, hanya tersisa jasad-jasad banteng yang mengalirkan darah segar berwarna merah tua.


"Jadi itu yang namanya sihir?" Ryugai menatap antusias sambil menyeret karung berisi potongan-potongan daging hewan buruan. Tubuhnya dilumuri lumpur.


"Tentu saja. Memangnya di negeri asalmu tidak ada yang seperti ini?" tanya Otomura. Tubuhnya juga tampak berlumuran lumpur.


"Tidak." Ryugai menggeleng pelan.


Otomura tersenyum dan memasang wajah yang menyebalkan. "Negeri yang lemah, ya."


"Ya, ya. Terserah kau mau bilang apa. Ngomong-ngomong, jumlah hewan yang kita buru sekarang seimbang, 'kan?" tanya Ryugai.


"Eh? Ya ...."


"Kalau begitu, ini ronde penentuan," ucap Ryugai. "Sekarang giliranku, 'kan? Biar kutunjukkan kemampuanku." Pemuda berambut biru acak-acakan itu meletakkan busurnya di rerumputan dan membalikkan tubuhnya. Tampak sekelompok rusa sedang merumput bermeter-meter di kejauhan, di arah yang berlawanan dengan jasad kawanan banteng tadi.


"Kau mau membunuhnya dengan bermodalkan anak panah saja? Hahahahaha!!!" Otomura tertawa terbahak-bahak, terkesan meremehkan.


Tanpa memedulikan tawa Otomura, Ryugai mengendap-endap mendekati kawanan rusa yang juga berjumlah lima ekor itu. Sayangnya, ternyata kawanan itu cukup cerdik. Mereka menyadari keberadaan Ryugai dan langsung melarikan diri.


"Sialan. Padahal aku sudah melumuri tubuhku dengan lumpur supaya bauku tidak tercium," gerutu Ryugai. "Kalau sudah begini, apa boleh buat!!"


Ryugai berlari secepat yang ia bisa dan menyusul salah satu rusa hanya dalam waktu beberapa detik, kemudian melompat ke atas punggung rusa itu dan menungganginya. Melihat itu, Otomura hanya bisa tercengang sambil diam terpaku di tempatnya berdiri.


"Jangan pikir kau bisa lolos dariku!!" seru Ryugai sambil menancapkan anak panahnya ke leher rusa itu. Rusa itu langsung kehilangan keseimbangan, kemudian mulai tersandung berkali-kali, membuat Ryugai yang berada di atasnya terguncang-guncang. Tanpa memedulikan guncangan yang hebat itu, Ryugai mengambil satu anak panah lagi dari kantung silinder berbahan rotan yang terikat di punggungnya, kemudian mulai membidik seekor rusa lain yang berusaha kabur.


"Kalau terguncang-guncang begini, susah sekali. Tapi, kalau guncangannya teratur dan memiliki ritme yang konstan begini ..., aku bisa memperkirakan sudut yang tepat supaya anak panahku mengenai tubuhnya!!"


"Kalian tidak akan bisa lolos dariku!!!" seru Ryugai sambil melemparkan anak panahnya satu-persatu ke arah rusa-rusa yang berusaha kabur, dan mengenai leher mereka dengan telak!! Hewan-hewan itu langsung tumbang dan hanya bisa meratapi nasib mereka yang malang. Rusa yang ditunggangi oleh Ryugai pun tak mampu lagi menahan beban dan akhirnya turut tumbang. Sembari menghela napas puas, pemuda itu bangkit berdiri dan berseru kepada Otomura.


"Hei, rambut emas!! Kelihatannya kita tidak perlu berburu untuk beberapa hari ke depan," ucapnya sambil mengangkat bangkai rusa itu.


"Namaku Otomura, tahu!!!" balas Otomura.


"Ya, ya. Terserah. Ngomong-ngomong, karung kulitnya masih banyak, 'kan?"


"Ya."


"Bagus, berarti ini akan muat."


"Ah, tapi itu tidak perlu. Semua orang di desa ini sudah belajar sihir inventory sejak masih berusia empat belas tahun," sahut Otomura sembari cengengesan dan menggaruk bagian belakang kepalanya. "Ehehehe ...."


"KALAU BEGITU, KENAPA KAU TIDAK MENGGUNAKAN ITU DARI TADI?! SIA-SIA SAJA, DONG, AKU MENGEMAS SEMUA POTONGAN DAGING ITU DALAM KARUNG DAN MENYERETNYA??!!! INI BERAT, TAHU!!!"


"Ehehehe, maaf ...."


To be continued


Next Chapter:


Day 2: Serangan Minotaur (Part 3)