Purity Online - The World For The Fallens

Purity Online - The World For The Fallens
Day 63: Kemenangan (Part 14)



Kejang-kejang Iruna mendadak berhenti. Sang Dokter beserta para perawat bernapas lega, mengucap syukur kepada Sang Pencipta. Mereka telah berhasil menyelamatkan anak tersebut dari kondisi kritis. Senyum tergambar di bibir mereka. Mesin di samping ranjang rumah sakit kembali berbunyi dengan ritme yang stabil. Beberapa detik kemudian, Iruna pun membuka matanya.


"Aku ... selamat?"


"Ya," sahut dokter itu. "Kau selamat."


"Bisa aku bicara dengan kakakku?"


"Ya, sebentar."


Salah seorang suster segera keluar dari kamar rawat untuk memberitahukan kabar gembira itu kepada Otomura. Mendengar suara derit pintu yang terbuka, Otomura pun beralih dari posisi berdoanya dan menoleh. Tampak Sang Suster sedang tersenyum lega.


"Adik anda berhasil selamat dan dia bilang ingin bicara dengan anda."


"Ah, begitu, ya?" Otomura turut menghembuskan napas lega, kemudian mengikuti Sang Suster masuk ke dalam kamar rawat. Dihampirinya ranjang Iruna.


"Kakak ...."


"Aku ... menang ...."


"Ya," sahut Otomura sembari tersenyum haru. "Kau menang dari penyakit itu."


"Aku ... berhasil ...."


"Ya, kau berhasil."


"Aku ... adalah adik yang kuat, 'kan?"


"Ya. Kau adalah adik yang kuat. Berkat dirimu, sekarang kisah hidup kita akan berakhir dengan Happy Ending."


"Tapi ..., pertarungan kita belum selesai ...," ucap Iruna.


"Ya, kita masih harus mewujudkannya," ujar Otomura. "Janji kita pada hari itu."


"Kau akan terus bertarung bersamaku, 'kan? Kakak?"


"Ya," sahut Otomura. "Kita akan mewujudkannya bersama. Dunia impianmu, di mana semua orang bisa tersenyum bahagia."


Perlahan, kedua mata Iruna terpejam. Senyum damai terukir di bibirnya. "Syukurlah ...."


*tiiiiiiiiiiiitttt*


Mesin di samping ranjang rumah sakit mengeluarkan bunyi yang panjang. Siapapun akan menyadari bahwa itu adalah pertanda buruk. Kedua mata Otomura membelalak setelah mendengar suara tersebut.


"Jangan-jangan!!"


"Hei, Iruna." Otomura menggenggam tangan dingin Iruna, berharap suatu keajaiban akan terjadi dan adiknya itu akan hidup kembali. "Hei!! Pertarungan kita masih belum selesai, 'kan?! Mana bisa kau pergi seenaknya begitu?! Di mana tanggung jawabmu?!"


"Kau sendiri yang bilang, 'kan?! Bahwa kau ingin mewujudkan dunia di mana semua orang bisa hidup bahagia!!!"


Air mata mulai memenuhi wajah Otomura. Harapan sudah benar-benar sirna dari hatinya. Para suster membuang muka, tak mau kesedihan mereka terlihat, sementara Sang Dokter menundukkan kepalanya dengan sendu.


"Sudah kuduga ...."


"Ternyata keajaiban hanyalah omong kosong."


"Sinterklas, Tuhan, Dewa, atau apapun itu."


"Mereka semua tidak ada."


"Tidak ada yang peduli terhadap penderitaan kami."


"Malam natal, malam yang dipenuhi oleh sukacita dan keajaiban bagi orang lain ...."


"Mungkin bagiku akan selamanya menjadi malam terkutuk."


"Mungkin aku akan mengutuki takdirku sendiri setiap kali malam natal tiba."


"Aku menghabiskan natal dan tahun baru pada tahun itu dengan perasaan hampa."


"Ketika tahun baru tiba, suara kembang api dan tiupan terompet tak lagi semeriah tahun-tahun sebelumnya.”


“Tentu saja, karena hidupku sudah kembali dipenuhi oleh warna hitam putih.”


"Semenjak kematian Iruna, aku kehilangan prinsip hidup."


"Ya, hidupku sudah tak ada artinya lagi."


"Hidupku menjadi terlalu kelam. Healer-ku telah pergi. Aku ingin mengakhiri hidupku, tapi aku tak mau masuk neraka."


"'Sial. Aku tidak bisa hidup seperti ini terus.' Itulah yang kupikirkan saat itu."


"Dan akhirnya aku menemukannya ...."


"Tujuan hidup baruku ... adalah membalas dendam terhadap orang-orang yang sudah mengkhianati dan melakukan perundungan terhadapku."


"Aku melacak jejak mereka semua dan membunuh mereka. Itu membuat aku masuk penjara, tapi aku tidak peduli. Yang penting tujuanku sudah tercapai. Aku sudah puas. Dendam yang menggerogoti hatiku sudah terbalaskan."


"Kukira aku akan menghabiskan sisa masa mudaku di penjara dengan tenang, tapi kemudian project menyebalkan ini datang."


"Ya, project Purity Online."


——————————————————————————


"Hei, Otomura!"


"Otomura!!!"


"Otomura!!!"


Otomura pun tersadar dari lamunannya. Ia telah kembali ke kenyataan. Semua adegan tadi tidak nyata, hanya sekumpulan kilas film dari memorinya. Saat ini, dia sedang berada di tengah hutan bersama Yuukaru, memandangi bulan separuh dan bintang-bintang yang memancarkan cahaya beraneka warna. Dia menoleh ke samping. Yuukaru tengah berada di sampingnya. Gadis itu sedang menggoyang-goyangkan bahunya.


"Kau baik-baik saja? Dari tadi kau melamun terus," ucap gadis berambut keemasan sebahu itu.


"Aku baik-baik saja," sahut Otomura.


"Tidak ada tanda-tanda orang lain maupun pemukiman penduduk sama sekali. Apa kita harus bermalam di hutan, ya?"


"Boleh," ujar Otomura. "Tapi, kita tidak membawa tikar atau kantung tidur, lho. Siapa yang tahu hewan apa yang akan menggerayangi tubuhmu nanti ketika kau sedang tertidur pulas. Mungkin kadal, katak, tarantula, atau lebih parah lagi ...."


"Kecoa."


"TIDAK MAUUUUU!!!" jerit Yuukaru dengan suara nyaring, membuat beberapa hewan malam langsung keluar dari sarang mereka, mengira ada bahaya yang datang.


Otomura terkekeh dengan ekspresi wajah yang terlihat jahil. "Cuma bercanda."


"Kau ini!!" Yuukaru menggembungkan pipinya dengan kesal sambil memukul bahu Otomura. "Dasar ...."


“Kenapa ... aku sangat rileks ketika berbicara dengan gadis ini?”


“Apa karena kalau dilihat sekilas wajahnya mirip dengan Iruna?”


“Tampaknya aku masih belum bisa melupakannya, ya. Adikku yang satu itu. Padahal aku sudah berusaha sekuat tenaga untuk menghapus memori kelam itu dari ingatanku.”


*srak*


Mendadak, sesemakan di dekat kedua pemuda-pemudi itu bergoyang. Menyadari bahwa mungkin itu adalah bahaya, keduanya langsung memasang sikap siaga. Otomura mengambil batu tajam yang tadi digunakannya untuk menguliti kelinci dan menggenggamnya erat-erat. Kalau itu hanya kelinci, rusa, atau kuda, sih, masih mending. Kalau harimau? Atau singa? Atau lebih parah lagi, bandit hutan? Mereka tidak membawa senjata apa-apa. Satu-satunya benda yang bisa dijadikan senjata cuma batu tajam yang tengah dipegang oleh Otomura. Namun, senjata sekecil itu jelas akan kalah jika lawannya adalah pedang atau tombak.


Sesemakan berwarna hijau gelap itu tersibak, menampakkan sosok asli dari sang pemilik suara. Ternyata bukan hewan buas atau bandit. Hanya seorang pria paruh baya dengan rambut dan kumis yang sudah memutih.


“Apa yang kalian lakukan di hutan malam-malam begini?” sapanya sambil tersenyum ramah. “Kalian tersesat, ya?”


Yuukaru tersenyum senang karena dia tidak harus tidur di rerumputan bersama para serangga. “Akhirnya!!!”


“Pertolongan telah datang!!!”


To be continued