
Tiga tahun yang lalu.
"Sialan!!!" Seorang remaja lelaki yang mengenakan seragam SMP dan berambut pendek berwarna keemasan menendangi kerikil di jalanan yang tengah ia lalui hingga berhamburan dengan raut wajah kesal. "Jadi, mereka hanya memanfaatkan kebaikanku?! Sejak awal mereka sudah berencana untuk menusukku dari belakang?!"
"Sialan!! Tahu begitu, aku takkan pernah membuka hatiku sama sekali untuk berteman dengan mereka!!! Dasar anak-anak kurang ajar!!! Kupikir hati mereka murni, ternyata sama busuknya dengan yang lain."
Ditatapnya langit biru yang dihiasi oleh awan-awan putih bagaikan kapas. Ucapan-ucapan pengkhianat yang menyebalkan itu kembali terlintas di benaknya, membuat urat nadi tampak semakin jelas di wajahnya.
"Dia sudah masuk ke dalam jebakan kita."
"Dia berpikir bahwa ada yang mau berteman dengan orang seperti dia? Hahahaha. Bodoh sekali."
"Jangan begitu, kau temannya, 'kan?"
"Bodoh. Mana ada orang yang mau berteman dengan sampah sepertinya. Aku hanya menipunya saja. Lebih baik dibuang saja jauh-jauh dan diinjak-injak. Hahahaha."
"TEMAN-TEMAN PALSU BODOH!!!" serunya sembari menendang kerikil-kerikil di jalanan sekali lagi. Kemarahan sudah benar-benar menguasai dirinya.
Tanpa ia sadari, remaja SMP itu sudah tiba di halaman rumahnya sendiri. Sebuah rumah satu lantai yang sederhana. Remaja lelaki tersebut bergegas membuka gembok pintu. Dengan kasar, dibukanya pintu gerbang tersebut. Rasanya ia ingin sekali langsung membuka pintu masuk rumah, melempar sepatu serta tasnya, dan mengurung diri di kamarnya. Namun, kemarahannya langsung hilang entah ke mana begitu ia melihat seorang gadis kecil berambut emas yang diikat model twintails sedang duduk di kursi roda di teras rumahnya. Senyum terukir di wajah mungilnya. Tampaknya, ia masih berusia sekitar sepuluh tahun.
"Ada apa, kakak?" sapanya. "Kenapa cemberut setiap hari? Nanti cepat tua, lho." Gadis kecil yang ternyata merupakan adik dari si remaja tadi mencoba mencairkan suasana dengan candaannya. Dia tertawa kecil. "Kakak dibully lagi?"
"I-Iruna ...." Melihat senyuman adiknya, sang kakak pun mulai tersenyum. "Yah, begitulah," ucapnya sembari menggaruk bagian belakang kepalanya yang sebenarnya tidak gatal sama sekali. Ia merebahkan tubuhnya di bangku teras yang secara ajaib langsung melenyapkan semua rasa penatnya.
"Setiap kali ada anak yang mencoba mendekatiku, mereka selalu mengkhianatiku pada akhirnya. Sampai saat ini, aku masih belum menemukan teman yang sejati."
"Oh, kalau begitu, semangat!!" ucap sang adik. "Kau benar-benar mengagumkan, kakak. Meski semua temanmu sudah mengkhianatimu, kau masih yakin akan menemukan teman yang berhati murni."
"Kau lebih mengagumkan, Iruna," ucap sang remaja. "Kau selalu menyemangatiku, padahal kau sendiri sedang ada dalam penderitaan yang lebih besar."
"Ah, ini bukan apa-apa," ucap gadis kecil bernama Iruna tersebut. "Maaf, aku selalu merepotkanmu, kakak."
"Jangan bilang begitu," ujar sang kakak. "Dokter bilang kau hanya lumpuh sementara. Artinya kau takkan merepotkanku untuk selamanya. Kau akan sembuh, yakinlah akan hal itu."
"Ya," ucap Iruna. "Aku akan berjuang!!"
Si kakak menundukkan kepalanya dengan lesu, menatap lantai teras. Ekspresi wajahnya terlihat muram dan sendu. "Maaf, aku tidak memiliki cukup uang untuk membawamu ke dokter supaya kau bisa sembuh lebih cepat. Seandainya saja aku bekerja lebih keras lagi ....”
"Jangan salahkan dirimu, kakak. Apa boleh buat. Kau, 'kan, hanya pekerja sambilan. Kau sudah berjuang sekuat tenaga untuk membiayai hidup kita. Teruslah berjuang."
"Ya, remaja SMP itu adalah diriku."
"Diriku tiga tahun yang lalu."
"Masa-masa yang paling indah, meski hidup kami sama sekali tak berkecukupan."
"Pada saat aku dan adikku, Iruna, masih berusia amat belia, Iruna terlibat dalam kecelakaan mobil dan berakhir dengan kelumpuhan sementara, sehingga ia tak bisa pergi ke sekolah, bahkan tak bisa berjalan. Kedua orangtua kami bekerja dengan ekstra supaya bisa membiayai pengobatan Iruna, tapi akhirnya tak lama kemudian mereka berdua meninggal karena sakit. Kami tak punya kerabat dan kakek-nenek kami juga telah tiada, jadi aku terpaksa mengambil peran sebagai kepala keluarga."
"Untungnya, aku mendapat beasiswa karena otakku cukup cerdas, jadi biaya sekolahku ditanggung penuh oleh dinas. Sayangnya, mereka tak bisa menanggung biaya hidupku dan Iruna juga, jadi aku bekerja sambilan sebagai kasir supermarket. Uang yang kudapat cukup untuk membiayai hidupku dan adikku. Tapi, kami hanya bisa menjalani hidup dengan seadanya. Kami hanya bisa makan dengan makanan-makanan instan yang harganya tidak terlalu mahal."
"Ditambah lagi, beasiswa itu tampaknya membuat teman-temanku menjadi iri karena aku diperlakukan dengan spesial oleh guru-guru. Aku seringkali menjadi korban perundungan. Setiap kali ada anak yang mendekatiku, pasti selalu berakhir dengan pengkhianatan. Ya, itu adalah hukum alam yang menyebalkan. Apakah yang kuat harus selalu berkuasa serta diperbolehkan bertindak semaunya dan yang lemah harus selalu ditindas?"
"Namun, aku beruntung memiliki adik seperti Iruna. Padahal, penderitaannya jelas lebih besar daripada penderitaanku, tapi dia tidak putus asa. Dia tidak pernah berpikir bahwa dia hidup hanya untuk membebani diriku, dan dia juga tak pernah berpikir untuk cepat-cepat mengakhiri hidupnya. Hati kecilnya itu sangat kuat. Dia menyembunyikan semua penderitaan dan keputusasaannya itu di balik senyumannya. Karena senyuman yang murni dan polos itulah, aku bisa menjalani kerasnya hidup. Dia lebih muda dariku, tapi bisa sekuat itu. Jika Iruna saja bisa, kenapa aku tidak bisa? Masalahku tak sebesar masalahnya, kenapa aku harus terus menggerutu dan mengeluh? Itulah alasan mengapa aku terus berjuang. Bahkan, mungkin bisa dibilang satu-satunya pegangan hidupku hanyalah Iruna.”
"Haaahh, lama-lama gerah juga di luar." Remaja yang ternyata merupakan versi SMP dari Otomura tersebut bangkit berdiri dari bangku, kemudian meregangkan tubuhnya. "Sekarang, ayo kita masuk. Maaf, menu makan siang hari ini ..., aku hanya bisa menyediakan seadanya."
"Tidak masalah, kakak. Tidak masalah." Iruna tersenyum, kemudian memutar roda dari kursi rodanya untuk berpindah tempat. Dia mengekor di belakang kakaknya.
"Aku akan terus berusaha ...."
"Demi dirinya ...."
"Setidaknya, begitulah prinsipku saat itu ...."
To be continued
Yap kita kembali memulai backstory dengan kisah tragis XD awokwokwok *ditampol readers*
Kenapa harus tragis? Ya supaya karakternya jadi well-built XD Sebuah pisau tidak mungkin bisa menjadi tajam jika dia tidak mau diasah. Jadi dengan ketragisan ini mampu memaksimalkan character development :v
Kira-kira apa yang kemudian terjadi pada Iruna? Kenapa Otomura kembali menapaki jalan kegelapan yang suram? Nantikan di chapter berikutnya :v
Next Chapter:
Day 63: Terus Berjuang (Part 7)