
Tanpa terasa, dua setengah jam telah berlalu. Syal yang tadi sedang dirajut oleh nenek pun telah selesai. Jam yang tergantung di dinding ruangan sudah menunjukkan pukul 12:00. Di luar jendela, matahari tampak sedang menggantung di puncak langit biru yang cerah. Organ-organ pencernaan milik keempat orang yang tengah duduk bersila di ruangan itu mulai mengaduk udara sebagai tanda protes, menimbulkan suara 'krucuk krucuk'.
"Ah, sudah jam 12," ucap paman sembari menengok ke arah jam.
"Eh? Benarkah? Pantas saja aku merasa lapar," timpal Yuukaru.
"Kalau begitu, ayo kita makan siang bersama," ajak Ryugai. Dia bangkit berdiri, diikuti oleh paman, Yuukaru, dan nenek.
"Tunggu sebentar. Aku akan bertanya dulu apakah masakannya sudah siap atau belum, ya." Paman melangkah ke arah pintu dan hendak menggenggam kenopnya, tapi tiba-tiba pintu terbuka, mengakibatkan hidung pria paruh baya itu terbentur dengan cukup keras.
*jduakk!!!*
"Adududuh!!!"
"Eh, maaf!!" Bibi yang tadi membuka pintu spontan meminta maaf. "Maaf, maaf!! Aku tidak sengaja."
"Tidak apa." Paman berujar sembari memegangi batang hidungnya yang memar. "Ngomong-ngomong, masakannya sudah siap, belum?"
"Sudah. Aku datang kemari untuk memberitahukan soal itu," sahut bibi.
"Wah, bagus!! Perutku sudah lapar berat, ni-"
"Hhhhhhhhh??!!"
*gdebuaakkk*
Lagi-lagi kesialan menimpa paman dari istri mantan tokoh utama kita itu. Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga, dia tersandung papan kayu yang menyingkap hingga terpelanting dan bagian depan tubuhnya membentur lantai.
"Pa-Paman tidak apa-apa?" Dengan raut wajah khawatir, Ryugai menghampiri paman dan membantunya berdiri. Nenek juga bergegas menghampiri putranya itu.
"Kurasa dia ditempeli roh pembawa kesialan, deh," ucap bibi dengan bulir keringat mengaliri keningnya.
"Mungkin saja. Makanya dia sial terus." Yuukaru menambahkan.
"Kalian berdua kenapa diam saja? Tidak lihat tadi aku terpelanting di sini, ya? Dasar keponakan dan istri durhaka."
"E-Eh, bukan begitu ...." Bibi dan Yuukaru langsung salah tingkah.
"Daripada kalian ribut di sini, lebih baik kita langsung menuju ruang makan saja," usul nenek.
"Y-Ya ..., ibu benar!!" ujar bibi.
"Untung ada nenek," batin Yuukaru sambil menghela napas lega.
Sementara itu, Ryugai tersenyum kecil melihat pertengkaran keluarga yang konyol tersebut. Tingkah paman mengingatkannya pada seseorang dari masa beta test Purity Online. Seorang NPC pria yang ceroboh, tapi memiliki semangat juang serta sifat rela berkorban yang kuat.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Ruang makan.
"Wah, banyak sekali, Bi!" Ryugai dan Yuukaru terperangah melihat jumlah makanan yang tersaji di atas meja. "Kami benar-benar boleh mengambil makanannya sesuka dan sepuas kami?"
"Iya, bibi sengaja menyiapkan semua ini untuk kalian berdua, terutama untuk Yuukaru. Dia, 'kan, butuh nutrisi dua kali lipat lebih banyak dari biasanya karena harus memberi makan bayi di dalam kandungannya juga," ucap bibi dengan ramah.
"Jumlahnya memang banyak, tapi kualitas lebih penting daripada kuantitas." Paman yang sudah duluan mengambil nasi dan mulai makan menimpali. "Menurutku, nasi gorengnya agak terlalu manis, kemudian sayurannya terlalu pahit, ikannya sedikit gosong, kentangnya kurang bumbu, dan-"
*jduaakk!!!*
Satu bogem mentah sukses mendarat di puncak kepala paman yang sedang sibuk mengkritik masakan istrinya dengan gaya layaknya seorang chef profesional, menimbulkan benjol yang cukup besar.
"BERISIK!!! MAKAN SAJA APA YANG ADA!!! INI BUKAN KOMPETISI MASAK NASIONAL!!!"
"Iya ...," ujar paman dengan wajah muram sambil menundukkan kepala. Kalau istri sudah marah besar seperti itu, raja iblis terkuat sekalipun pasti tidak akan berani melawan. Bisa-bisa nanti ujungnya malah: 'Kita cerai!!!'
"Dasar Souta ...." Nenek tertawa kecil sembari menggumamkan nama depan paman.
(Paman: Hiks, kok saya mulu yang jadi korban .... :")
Ryugai: Sepertinya author mendapatkan chara baru untuk dibully, nih.)
Keluarga tersebut melanjutkan makan siang dengan amat lahap, hingga tak butuh waktu lama bagi mereka untuk menghabiskan seluruh makanan di meja makan. Usai makan, semua anggota keluarga kembali ke ruangan masing-masing, kecuali Yuukaru, Ryugai, dan bibi. Yuukaru hendak membantu mencuci piring-piring bekas makan. Namun, bibi mencegahnya dengan alasan wanita hamil tidak boleh kecapekan. Akhirnya, pasangan itu memutuskan untuk beristirahat sejenak di kamar yang telah disediakan.
"Selanjutnya, apa yang kita lakukan, ya?" tanya Ryugai sambil meraba dagunya.
Sebuah ide tiba-tiba terlintas di benak Yuukaru. "Aku tahu!! Mumpung kita ada di sini, aku ingin menunjukkan sesuatu kepadamu."
"Sesuatu? Apa, tuh?" Alis Ryugai terangkat, menyiratkan rasa penasaran.
"Ra-ha-si-a!" Wanita berambut emas tersebut mengedipkan sebelah matanya.
To be continued
Next Chapter:
[Season 2] Chapter 48: Scenery
Eh, judulnya terlalu nge-spoil tentang apa yang akan ditunjukkan oleh Yuukaru, yak 🗿 Gak apa-apa, lah.