
"Hosh ..., hosh .... Jauh juga ...."
Saat ini, Yamamura sedang melangkah dengan gontai karena kelelahan. Tubuhnya agak membungkuk dan dibanjiri oleh keringat. Dia sudah berjalan selama kira-kira satu setengah jam nonstop, tapi masih belum berhasil keluar dari hutan tersebut.
"Sepertinya aku tidak akan mati oleh serangan monster ..., deh ...," ucapnya dengan terbata-bata. "Tapi aku bakalan mati karena kelelahan ...."
Bocah itu merasa tak kuat berjalan lebih jauh lagi. Akhirnya, dia memutuskan untuk beristirahat sejenak dalam teduhnya bayangan di bawah sebuah pohon yang rimbun.
"Capek sekali ...," keluhnya sembari duduk dan memijit-mijit kedua kakinya yang pegal. "Mana aku juga haus dan di sekitar sini tidak ada sumber air minum. Yah, setidaknya aku beruntung karena sama sekali tidak bertemu hewan buas selama perjalanan tadi."
Sambil mengisi paru-parunya dengan udara, Yamamura mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Tanpa sengaja, dia melihat seekor harimau yang tengah berkamuflase di balik tetumbuhan hijau tak jauh dari tempatnya duduk sekarang. Tatapan mata kucing besar itu tampak amat tajam, seolah siap menerkam kapanpun Yamamura membelakanginya.
Melihat predator yang sedang mengincar dirinya, bocah berambut keemasan itu pun terkejut.
"Oke, aku tarik kata-kataku yang tadi. Hari ini aku sial. Benar-benar sial."
Perlahan, dia bangkit berdiri dan melangkah mundur tanpa melepaskan pandangannya dari sang harimau. Tentu saja ia tidak menatap mata harimau tersebut secara langsung. Itu bisa dianggap sebagai tantangan.
"Berbalik dan lari adalah tindakan yang bodoh. Dia pasti akan langsung menganggapku sebagai mangsa," batin Yamamura. "Lebih baik aku mundur perlahan-lahan, kemudian berlari menjauh. Kuharap kucing besar berambut belang itu tidak mengikutiku."
Harapan adventurer kecil itu tak terkabul. Sang harimau malah berjalan keluar dari balik tetumbuhan dan mengikutinya dengan pandangan yang buas.
"Tidak bekerja, ya? Kalau begitu, bagaimana dengan ini?"
Dengan cepat, Yamamura memunculkan satu buah anak panah di masing-masing telapak tangannya, kemudian menggenggamnya. Dia memukul-mukulkan kedua ujung panah yang berbahan logam satu sama lain hingga menciptakan suara yang cukup keras. Tujuannya adalah untuk mengintimidasi sang harimau.
Harimau itu sempat mundur sejenak, sebelum akhirnya kembali melangkah maju sembari menggeram. Tatapan matanya masih buas dan tajam seperti tadi.
"Masih tidak bekerja, ya? Kelihatannya saking kelaparannya, harimau ini sudah tidak peduli lagi dengan bahaya dan tak bisa lagi ditakut-takuti oleh suara-suara keras. Percuma saja mencoba menakutinya."
"Kalau ini, bagaimana?"
Yamamura memasukkan kedua anak panahnya ke inventory, mengeluarkan salah satu drop item yang didapatnya dari goblin di Great Wall Dungeon, kemudian melemparkannya ke belakang si harimau. Bocah cerdas itu berencana mengalihkan perhatian harimau yang tengah mengincarnya dan memanjat pohon terdekat untuk menyelamatkan diri. Namun, lagi-lagi dia gagal.
"Payah, nih. Harimau ini benar-benar tidak mau melepaskan pandangannya dariku."
Yamamura mengeluarkan pedangnya dan bersiap untuk membela diri dari serangan yang sebentar lagi akan dilancarkan oleh harimau di hadapannya.
"Kalau sudah begini ..., satu-satunya cara untuk menyelamatkan diri adalah ... bertarung!!!"
*GRAOR!!!*
Bersamaan dengan auman yang nyaring, harimau tersebut melompat ke arah Yamamura dan hendak menerkamnya. Namun, serangan tersebut berhasil ditangkis walau dengan susah payah.
"Sial!!" gerutu bocah itu sembari berusaha mempertahankan posisi pedangnya. Cakar tajam milik si harimau menimbulkan beberapa luka memanjang yang cukup parah di bagian atas lengannya, tapi pedang miliknya sukses mencegah rahang sang harimau menutup.
"Sudah kuduga, ini tidak akan jadi pertarungan yang mudah!! Red Gleam!!!"
Yamamura menembakkan laser merah tepat ke arah kedua mata si harimau. Itu tidak cukup untuk membuatnya buta, tapi cukup untuk mengiritasi matanya dalam waktu yang cukup lama.
Melihat harimau itu berguling-guling di tanah sambil menyerang dengan membabi buta, Yamamura mundur beberapa langkah ke belakang. Secepat kilat, ia mengambil busurnya dan memunculkan anak panah.
"Ini waktu yang bagus untuk mencoba skill baruku. Pyro Arrow!!"
Sebuah nyala api muncul di ujung panah milik Yamamura dan seketika menyebar, menyelimuti seluruh permukaan panah. Anak panah tersebut melesat dengan cepat menuju titik lemah sang harimau, yakni lehernya. Api segera menyebar dan membunuh feline besar itu.
(Note: Feline bermakna hewan yang tergolong ke dalam keluarga kucing.)
"Akhirnya selesai juga."
Adventurer cilik itu terduduk di rerumputan sambil menghembuskan napas lega. Ia mulai menggunakan skill bertipe healing untuk menyembuhkan luka-luka bekas cakaran harimau tadi.
"Tadi pagi aku dapat mimpi buruk yang meresahkan, kemudian harus berjalan selama satu setengah jam nonstop tanpa makan dan minum. Sekarang aku diserang harimau. Nasibku apes sekali, sih."
"Yah, setidaknya sekarang aku jadi dapat bahan makanan. Walaupun aku tidak tahu dagingnya enak atau tidak, sih ...."
Setelah beristirahat dan menyembuhkan luka selama beberapa menit, Yamamura berdiri dan mendekati jasad harimau yang tadi dia bunuh. Detik itu juga, ia menyadari sesuatu.
"Harimau ini, kok, tubuhnya kecil sekali, ya? Kurasa bahkan ukurannya lebih kecil dari harimau terkecil di Bumi saat ini. Apa dia tidak punya pesaing di sini? Tapi, tadi malam ketika hampir tertidur aku mendengar suara lolongan serigala, kok."
Sesaat setelahnya, geraman-geraman terdengar secara berurutan, seolah menjawab pertanyaan itu. Sembilan ekor harimau dari spesies yang sama dengan harimau tadi melompat keluar dari balik semak-semak. Mereka tampak sedang marah besar.
"Jadi begitu, ya ...." Yamamura kembali menyiapkan posisi bertarungnya sembari mundur perlahan. "Jadi itulah penyebab mereka bisa bersaing dengan serigala walaupun bertubuh kecil."
Bocah adventurer tersebut mencoba menerawang nama spesies dari para harimau itu lewat status mereka dan melihat nama 'Colonius Tiger'.
"Jadi harimau di hutan ini bukan hewan soliter, ya? Seharusnya aku menerawang status harimau itu dulu tadi sebelum membunuhnya. Agh, sial!! Tadi aku terlalu fokus mencari cara untuk menyelamatkan diri sampai-sampai lupa kalau harimau di sini mungkin saja berbeda karena dunia ini bukanlah Bumi."
"Melawan satu ekor saja aku sudah kewalahan, apalagi sembilan ekor seperti ini. Sial .... "
"Ini gawat .... Benar-benar gawat!!!"
To be continued
Author: Yaps, seperti biasa, pertama-tama saya ingin meminta maaf karena jarang update 😅 *ditampol readers*
Readers: PERCUMA MINTA MAAF KALAU DIULANGIN TERUS-TERUSAN!!!
Author: Yamaap, soalnya kemarin pas Arc 4 tamat writing spirit saya jadi memudar lagi. Ditambah saya udah masuk sekolah lagi.
Readers: ALASAN DOANG ITU MAH!!! TURUNKAN AUTHOR!!! TURUNKAN!!!
Author: *kabur dengan cara teleport ke suatu tempat yang terpencil biar ga didemo sama readers*
Author: Yak, karena gangguan sudah hilang, sekarang kita akan melanjutkan closing. Terima kasih sudah membaca dan jangan lupa tinggalkan jejak berupa vote dan comment. Sampai jumpa di chapter berikutnya!!
Oh, iya. Hampir saja lupa. Bersamaan dengan dipublikasikannya Chapter 51 kemarin, Arc 4: Despair, Past, and Hope secara resmi berakhir dan digantikan oleh Arc 5: The Porcupine and the Combatant.