
"Ini ... bukan keajaiban sama sekali ...."
"Ini seharusnya tidak terjadi di hari yang bahagia dan indah seperti hari Natal."
"Orang-orang bilang Natal selalu penuh dengan kebahagiaan dan keajaiban, tapi ...."
"Natal kali ini ... adalah kutukan."
"Setelah kematian kedua orangtuaku, aku menjalani hidup dengan hampa. Orangtua angkatku tidak terlalu kaya, jadi tidak ada warisan yang bisa mereka tinggalkan. Kakek dan nenek angkatku semuanya sudah meninggal dunia sejak aku belum diangkat menjadi anak. Orangtua angkatku juga dua-duanya merupakan anak tunggal. Aku mendapat bantuan uang duka dari teman-teman dan guruku, tapi aku tak yakin jumlahnya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupku dalam jangka waktu yang lama. Kurasa aku harus bekerja sambilan dalam waktu dekat."
"Waktu terus berlalu dan tahun baru semakin dekat. Semua orang terlihat sangat bahagia menyambut tahun baru, berbanding terbalik dengan diriku yang sudah kehilangan tujuan hidup ini. Suara letusan kembang api dan tiupan terompet tak henti-hentinya terdengar. Aku hanya memandang mereka dari kejauhan dan tidak ikut serta. Semua kembang api itu bagiku sama sekali tidak meriah, malah sangat berisik."
"Tahun baru ... buat apa aku merayakannya kalau tidak ada yang berubah sama sekali?"
"Aku berusaha sekuat tenaga untuk memaksimalkan hidupku, tapi hasilnya nol besar. Takdir malah mengkhianatiku."
"Ya ..., tapi ... itu, 'kan, dalam konteksku."
"Mungkin mereka menjalani hidup yang lebih bahagia daripada hidupku."
"Mungkin Dewi Fortuna memberi mereka lebih banyak keberuntungan."
"Tapi, kenapa?!"
"Kenapa cuma aku yang memiliki hidup tragis seperti ini?!"
"Aku tidak pernah melakukan kesalahan atau kejahatan sejak lahir hingga sekarang. Aku hanyalah seorang anak yang ingin mengusahakan yang terbaik dalam hidupku."
"Hidup ... benar-benar tidak adil."
"Takdir sangatlah kejam."
"Kenapa orang-orang yang baik selalu pergi meninggalkanku lebih dulu?"
"Kenapa aku harus menjalani hidup yang dipenuhi oleh kutukan dan kesialan ini?"
"Sekarang, aku harus menghadapi lagi dunia luar yang kejam ini. Kali ini tanpa Santa, pengurus panti, teman-temanku di panti asuhan, maupun kedua orangtua angkatku. Aku harus menghadapinya sendirian."
"Apa aku bisa melakukannya?"
"Apakah aku masih punya hari esok?"
"Bicara tentang Santa ..., aku jadi bertanya-tanya apakah pria paruh baya pembawa kebahagiaan itu benar-benar ada. Dia tak pernah datang lagi sejak hari itu."
"Mungkin selama ini semua temanku benar. Santa hanyalah teman khayalanku. Semua pertemuanku dengannya terjadi di dalam imajinasiku. Cerita tentang Santa Claus cuma dongeng untuk membohongi anak-anak."
"Santa tidak nyata. Santa hanya sebuah kebohongan. Keajaiban Natal juga cuma kebohongan. Semua kebahagiaan yang kudapatkan dulu juga cuma kebohongan. Kurasa semua yang ada di dalam hidupku juga hanyalah kebohongan."
"Tidak ..., ada apa denganku? Kenapa aku bisa berpikiran seperti itu? Kerja kerasku selama ini tak mungkin sia-sia. Usaha tak mungkin mengkhianati hasil, 'kan?"
"Jika aku terus hidup dengan pola pikir seperti itu, maka aku akan hidup seperti orang mati. Jadi, aku menyingkirkan pikiran-pikiran negatif tersebut dari benakku."
"Libur Natal dan tahun baru berakhir dan semester kedua dimulai. Sekali lagi, aku berusaha dengan keras untuk memaksimalkan hidupku. Jika kondisi finansial tidak bisa membantuku, maka prestasilah yang bisa. Aku belajar dan terus belajar dengan sekuat tenaga supaya nilai-nilaiku mencukupi untuk beasiswa. Aku yakin bahwa dengan ini, hidupku akan menjadi lebih baik lagi. Aku akan mendapatkan kebahagiaanku kembali!!"
"Tapi, ternyata aku salah."
"Mereka bilang usaha takkan mengkhianati hasil."
"Itu omong kosong."
"Semua beasiswa itu tak berhasil kudapatkan."
"Ternyata aku tak sepintar yang kukira selama ini."
"Pikiran-pikiran negatif itu benar."
"Santa, keajaiban Natal, dan semua kebahagiaan yang kudapatkan hanyalah kebohongan."
"Kalau begitu, untuk apa aku terus hidup?"
"Apakah eksistensiku juga hanyalah kebohongan?"
"Apakah hidupku juga cuma kebohongan?"
"Ya ..., sepertinya begitu."
"Tidak ada bukti kalau eksistensiku itu nyata. Di dunia ini, cuma aku sendiri yang tidak mendapatkan kebahagiaan."
"Aku bodoh sekali. Aku terus berjuang keras meski sudah tahu hasilnya akan sia-sia. Aku berjuang cuma untuk hidup yang tidak nyata."
"Mungkin akan lebih baik jika aku segera mati saja, daripada menjalani hidup yang tidak berguna seperti ini."
"Aku berhenti bersekolah tanpa surat pengunduran diri atau penjelasan kepada pihak sekolah. Aku tidak peduli meskipun mereka menganggapku kurang ajar. Tidak ada gunanya berusaha untuk mendapatkan prestasi di sana. Bagi diriku yang sekarang, tempat itu cuma tempat konyol di mana murid-murid yang dibohongi berkompetisi untuk mendapatkan nilai tinggi yang tidak ada harganya."
"Sisa tahun itu kujalani dengan terus mengulangi siklus yang sama. Makan, bekerja sambilan, tidur, lalu makan lagi, dan bekerja sambilan lagi. Untuk apa aku terus bekerja? Supaya aku bisa terus makan dan bertahan hidup, tentunya. Lalu, untuk apa aku hidup? Entahlah. Aku juga ingin menanyakan hal yang sama kepada Tuhan."
"Musim dingin berganti menjadi musim semi, musim semi berganti menjadi musim panas, musim panas berganti menjadi musim gugur, dan musim gugur berganti menjadi musim dingin kembali. Natal semakin dekat. Bagi orang lain mungkin itu pertanda baik, tapi bagiku justru pertanda buruk. Kutukan Natal apa lagi yang akan menimpaku kali ini?"
"Karena sedang banyak pikiran, aku tidak melihat ke kanan-kiri saat menyeberang jalan dan pada saat itu juga suara klakson yang nyaring terdengar di telingaku. Aku menoleh dan melihat sebuah truk berukuran besar yang jaraknya sudah sangat dekat denganku. Kilau cahaya dari lampu depan truk tersebut membuat mataku silau. Kurasa berusaha menghindar sekarang pun sia-sia saja."
"Sudah kuduga ini akan terjadi. Sekarang, setelah semua yang ada di sekelilingku direnggut, pasti akulah yang akan menjadi target berikutnya."
"Suara benturan keras terdengar bersamaan dengan rasa sakit yang menusuk tulang-tulangku. Pandanganku seketika menjadi gelap. Suara jeritan dan suara-suara panik dari pejalan kaki yang lain sempat terdengar sesaat, sebelum akhirnya suasana menjadi sunyi. Ya, aku telah mati. Alih-alih tiada karena menyelamatkan orang lain seperti di film-film, aku justru tiada karena keteledoranku sendiri. Tapi, tidak masalah. Setidaknya sekarang aku bisa merasakan kedamaian. Ini lebih baik daripada menjalani hidup yang tidak nyata dan memuakkan."
"Setidaknya begitulah pikirku ...."
"Namun, sekali lagi aku salah ...."
"Setelah kematianku, aku bertemu dengan wanita berjubah hitam itu."
"Wanita yang di kemudian hari memberiku ... sesuatu untuk kulindungi."
To be continued
Next Chapter:
[Season 2] Chapter 31: Kekuatan Mimpi Buruk