Purity Online - The World For The Fallens

Purity Online - The World For The Fallens
Day 57: Turnamen Maximus Potentia Bagian Dua (Part 3)



Pintu menuju arena terbuka. Dengan langkah kaki yang mantap, Shiro memasuki arena. Tangannya masih gemetaran, tapi ia menyembunyikannya. Pemuda tersebut menutupi ketakutannya dengan wajah berani yang dibuat-buat. Lawannya juga memasuki arena. Mereka disambut oleh sorakan penonton yang sebagian besar ditujukan kepada lawan dari Shiro.


Shiro menatap lawannya. Berkulit kecoklatan, bertubuh kekar dan berotot, memiliki rambut berwarna kehijauan, dan tampak sangat percaya diri. Imej yang sangat ideal bagi kaum hawa.


Pemuda berambut putih bersih tersebut menenggak ludahnya, kemudian bergegas menyalakan kembali api semangat yang berkobar di hatinya, yang tadi sempat hampir ditelan oleh keputusasaan. "Aku takkan pernah menyerah!! Aku akan terus mencoba!!!"


"Pertandingan pertama adalah pertandingan antara Shiro Airzaleif dari kelas 2-A dan Zenus Sakamaru dari kelas 2-B!!!" Suara komentator bergema dengan nyaring. "Pertandingan dimulai!!!"


Hanya dalam hitungan milidetik, sang pemuda kekar yang bernama Zenus mengubah kedua tangannya menjadi tangan golem kayu, kemudian bergerak secepat kilat, meninju Shiro. Refleks, Shiro langsung berubah ke wujud kura-kura dan bersembunyi di tempurungnya. Ia nyaris terlempar keluar dari arena, tapi keberuntungan menyelamatkannya. Jaraknya dengan garis batas arena hanya 10 cm.


"Itu dia!!!" Sebuah ide muncul di benak Shiro. "Jika kakiku ini membuatku menjadi lambat, maka aku akan bergerak menggunakan tempurung!!!"


"Keberuntungan sepertinya menyelamatkanmu, TAPI ITU SIA-SIA SAJA!!! AKAN KUKIRIM KAU KE LUAR ARENA!!!" Sekali lagi, pemuda bernama Zenus itu melancarkan tinju ke arah Shiro, tapi Shiro berhasil menghindar dengan berguling menggunakan tempurungnya.


"Wah!! Shiro berhasil menghindar dengan cara berguling!! Apakah hasil dari pertandingan kali ini akan berbanding terbalik dengan tahun-tahun sebelumnya? Tampaknya ada sesuatu yang berbeda dalam diri pemuda kura-kura itu!!"


"Takkan kubiarkan kau!!!" Zenus melesat dan meninju Shiro ke tanah, membuat tempurung kura-kuranya setengah terbenam ke tanah.


"Kau lemah!!!" Zenus mengangkat tempurung Shiro, kemudian melemparnya ke tanah sekuat tenaga. Ia menaruh kakinya di atas tempurung Shiro. "Jangan pernah pikir kau bisa menang di turnamen kali ini, pecundang. Kelas Teknik Sihir Perburuan dan Pertarungan terlalu keras untuk anak manja sepertimu."


"Hentikan!! Hentikan!! Pertandingan dihentikan!!!" seru kepala sekolah. "Ada masalah etika di sini!!!"


Terpancing oleh emosi akibat perkataan Zenus tadi, Shiro keluar dari tempurungnya. Kedua matanya kini berwarna merah menyala.


Ketakutan mulai menghampiri Zenus. Wajahnya mendadak memucat. "Apa aku telah membangkitkan iblis dalam dirinya?"


"GRAAAARRGGHHH!!!" Shiro meraung dengan keras. Tempurungnya kini dilapisi oleh lapisan energi berwarna hitam kelam.


"AAAARRRGGHH!!!"


Gerakan Shiro mendadak menjadi lebih cepat. Ia menyerang Zenus dengan brutal dan beringas dari segala arah. Cakarnya memanjang. Taring kembar muncul di dalam mulutnya.


"GRAAAAARRRGGHH!!!"


"Huh!! Karena marah dan tak terkendali, pola seranganmu jadi asal-asalan. Aku bisa membacanya dengan mudah." Zenus tersenyum angkuh sambil terus menahan serangan Shiro menggunakan tangan kayunya. Ditinjunya pemuda kura-kura tersebut hingga terpental dan nyaris keluar dari arena untuk kedua kalinya.


Tak menyerah, Shiro kembali meraung marah. Cahaya kemerahan yang memenuhi kedua matanya menjadi semakin terang dan menyilaukan. "GRAAAARRRGGHH!!!"


"HENTIKAN!!!"


Suara tersebut membuat perhatian semua orang teralih, termasuk Shiro dan Zenus. Cahaya merah yang berkilau penuh kemarahan di mata pemuda berambut putih itu langsung hilang begitu ia melihat sumber dari suara tadi. Seorang pemuda berambut biru dengan gaya rambut acak-acakan tampak tengah berdiri di depan bangku-bangku tribun yang paling dekat dengan pagar arena. Pemuda itu adalah Ryugai.


"Kendalikan dirimu!!!" seru Ryugai. "Kemarahan malah akan membuat dirimu menjadi tak terkendali dan formasi seranganmu jadi kacau!! Tenanglah dan bertarunglah dengan lawanmu layaknya seorang pahlawan, bukan seperti seorang iblis!!!"


Kemarahan langsung lenyap dari wajah Shiro. Kini, yang terukir di wajahnya adalah senyum kecut. "Maaf, Ryugai. Aku terbawa emosi tadi."


Shiro mengarahkan kembali pandangannya ke lawannya, kemudian memasukkan keempat kakinya ke tempurung, menyisakan hanya kepalanya saja. Ia tersenyum penuh semangat. "Mari kita lanjutkan!!!"


"Hasilnya akan sama saja!!" seru Zenus sambil kembali meninju Shiro. Namun, kepalan tangan golemnya hanya menembus udara kosong.


"Huh? Apa?"


Zenus mengedarkan pandangannya ke segala arah dan mendapati bahwa Shiro sedang berada di belakangnya, sedang melompat menyerangnya.


"Di situ kau rupanya!!!" seru Zenus sambil kembali melancarkan pukulannya.


Shiro memasukkan kepalanya dan segera menghindar, kemudian berputar-putar dengan kecepatan tinggi di sekeliling Zenus. Kecepatannya nyaris menyamai kilat.


Senyum kemudian terukir di wajahnya, seolah-olah kunci menuju kemenangan telah tergenggam di tangannya. Dikepalkannya kedua tangan golem kayunya dengan erat. "Pengecut sepertimu tak mungkin menyerang dari depan, jadi pasti ...." Zenus melancarkan tinjunya ke arah belakang tubuhnya. "Dari belakang!!!"


Namun, tinju Zenus hanya mengenai udara kosong. Keterkejutan menghampiri dirinya. "Hah?! K-K-Kok bisa?!"


Tanpa ia sadari, Shiro telah berada di belakang punggungnya. Mulutnya menganga, siap menembakkan pancaran cahaya berwarna putih bersinar. Zenus hendak menghindar, tapi terlambat. Pancaran cahaya itu telah terlebih dahulu mengenainya, mendorong tubuhnya hingga terlempar keluar dari arena dan terperosok ke parit dangkal yang merupakan pembatas.


"Mu-Mustahil!!" Pemuda kekar tersebut menatap Shiro yang sedang tersenyum penuh kemenangan dengan tatapan tak percaya. "Mustahil!! Aku kalah dari pemuda kura-kura yang lemah ini?!"


"Pemenangnya ialah ... Sang Pemuda Kura-Kura, Shiro Airzaleif dari kelas 2-A!!!"


"Ooooooooo!!!"


Seruan Sang Komentator segera disambut oleh sorakan meriah dari para penonton di tribun. Mereka berulang-ulang meneriakkan nama Shiro.


"Shiro!!! Shiro!!! Shiro!!!"


"Jadi ..., beginilah rasanya menjadi seorang pemenang ...." Shiro tersenyum haru. "Akhirnya kerja kerasku selama ini membuahkan hasil ...."


"Menggunakan trik psikologis, ya? Ternyata kalau sudah berpikir serius, si bodoh itu bisa jadi jenius juga," ucap Ryugai sambil tersenyum senang. Ia melambaikan lengannya dan mengacungkan jempolnya. "OOOIII!!! SHIRO!!! KERJA BAGUS!!!"


"Ya!!!" balas Shiro sambil turut melambaikan tangannya.


"Hari ini ..., aku belajar ...."


"Bahwa kelemahan besar tidak akan bisa menghalangi kita untuk menggapai mimpi ...."


"Dan bahwa kemarahan bukanlah penyelesaian atas semua masalah ...."


"Aku harus lebih sering lagi berlatih mengendalikan emosiku ...."


Shiro mengangkat kepalanya dengan bangga."Ayah ... ibu ...."


"Sekarang, aku bukan pemuda yang lemah lagi ...."


"Kura-kura yang tadinya selalu bersembunyi di balik tempurung ... kini sudah berani keluar dari tempurungnya dan melangkah melewati padang rumput luas yang penuh rintangan, untuk pergi ke sungai dan bertemu dengan teman-temannya, yakni para kura-kura lainnya."


"Walau masih dengan langkah yang gontai dan lamban ...."


"Keempat kaki kecilnya ... tak akan pernah berhenti melangkah ...."


"Sampai ia tiba di tempat tujuannya ...."


To be continued


Yoooo kembali lagi bersama author!!! Wah, tumben chapter ini bisa panjang ya :v Biasanya author kalo ngetik 1 chapter jarang nembus 1000 kata lho.


Kali ini author ingin mencoba prinsip yang baru, yakni prinsip ketenangan. Prinsip yang berbeda dari anime dan novel-novel shounen pada biasanya. Biasanya, 'kan, di novel-novel dan anime shounen alasan charanya menang adalah karena 'kau sudah membuatku marah' atau 'the power of friendship' dan prinsip itu membuat muak para readers karena mereka sudah bosan dan ingin membaca sesuatu yang berprinsip berbeda. Nah, author ingin mewujudkannya. Di sini, setiap charanya tidak akan menang dengan 'power of friendship' atau dengan 'kau sudah membuatku marah,' tapi dengan 'kesantuyan' dan 'strategi.’ Semakin santuy seorang chara, semakin jernih pikirannya dan itu akan membuat dia lebih mudah menyusun strategi. Artinya, jalan menuju kemenangan!!


Sekian untuk chapter kali ini. Terima kasih atas waktu yang telah kalian luangkan untuk membaca chapter ini dan sampai jumpa di chapter berikutnya ^^


Bye!!


-Author