Purity Online - The World For The Fallens

Purity Online - The World For The Fallens
Day 62: Terdesak!! Strategi Kraken Balasan?! (Part 3)



“Slime?” Kepala Divisi meraba dagunya, tampak sedang berpikir keras. “Apa yang bisa mereka lakukan dengan sekumpulan slime? Bukankah itu monster tingkat bawah?”


Mendadak, kedua mata pria paruh baya itu membelalak lebar. “SLIME?! Jangan-jangan, mereka mau ....”


Sementara itu, di kapal utama, nakhoda yang juga merupakan ras skeleton masih berusaha membanting kemudi ke kanan dan kiri dengan panik. Tak peduli meski kapalnya harus oleng dan terombang-ambing. Yang berada di pikiran nakhoda tersebut saat ini hanyalah menjaga keseimbangan agar kapal tidak tenggelam. Sementara itu, Sang Paus Raksasa telah memporak-porandakan 100 kapal perang ras monster dan sedang menuju kapal utama, menciptakan gelombang kembar raksasa di sebelah kiri dan kanan tubuh besarnya itu. Raungan keras terdengar, amat memekakkan telinga. Seluruh prajurit yang berada di medan tempur pun otomatis menutup telinga mereka menggunakan jari.


“Kapten, dia sudah menghancurkan 900 kapal kita!! Armada kita sekarang cuma punya 100 kapal dan 50 monster air!!” seru nakhoda dengan panik.


“Kapten, kita mundur saja!! Ini sama saja bunuh diri!!!” seru Wakil Kapten.


“Tidak!! Greed pasti sudah memperkirakan ini semua.” Sang Kapten bersikeras untuk tetap maju dan bertempur. “Dia tak mungkin menipu dan memanfaatkan kita. Dia sahabat kita!!!”


“Kapten, dia semakin dekat!!!”


“Kapten, jaraknya cuma sekitar 10 meter lagi!!!”


“Gimana ini, Kapten?!”


Sang Kapten menggertakkan giginya kesal. Ia belum mau menyerah sekarang. “Serang dengan semua meriam!!!” perintahnya sambil menunjuk Sang Paus.


“Tunggu, Kapten. Kelihatannya itu tidak perlu lagi.” Wakil Kapten merentangkan lengan kanannya, menghalangi tubuh Sang Kapten.


Senyum terbit di wajah wakil kapten itu. Seutas senyum penuh kemenangan, tanda riang karena harapannya dikabulkan.


Paus itu kini sudah berada tepat di hadapan kapal utama, tapi anehnya dia tampak sama sekali tidak bisa bergerak. Ekornya bagai tertarik oleh sesuatu di dasar laut. Jeritan kesakitan terlontar dari mulutnya.


Beberapa detik kemudian, akhirnya penyebab dari efek stun terhadap Sang Paus terungkap. Cairan berwarna kehijauan yang memiliki ratusan mata naik ke atas permukaan air, perlahan menyelimuti seluruh tubuh paus raksasa itu dan memakannya. Si paus hanya bisa menjerit kesakitan sebelum akhirnya menjadi santap siang bagi para slime. Setelah selesai menyantap si paus, slime-slime itu saling memecah hingga kembali ke wujud asli mereka, yakni slime biasa yang berjumlah 700 buah. Slime-slime itu menghembuskan air dari mulut ke belakang, mendorong tubuh mereka ke arah berlawanan dengan arah hembusan air hingga mereka mampu berenang mengikuti arah kapal-kapal perang milik pasukan 99 ras monster.


“Bagus!!! Bagus!!! Hahahahahahahahahahaha!!!” Sang Kapten menyeringai bengis, kemudian tertawa terbahak-bahak. “Akhirnya bala bantuan datang juga .... Sekarang waktunya ....”


“PASUKAN GRIFFIN, TENEBRIS DRAGONS, HELL FALCONS, SPHINX, FALLEN PEGASUS, FALLEN ANGELS, DAN SKULL HAWKS!!! SERANG SEKARANG!!! ANGKAT SLIME-SLIME ITU KE UDARA DAN BANTU MEREKA MEMAKAN HABIS PARA PRAJURIT MANUSIA!!!”


Seketika, dari dalam kapal utama yang luar biasa besar itu dan kapal-kapal perang lain yang masih tersisa, ratusan monster bersayap keluar dan menyambar serta mengangkat ketujuh ratus slime tersebut ke atas dengan kecepatan yang menyamai kilat. Para prajurit yang berada di garis terdepan di medan tempur kini sudah habis dimakan oleh para slime.


“I-Ini bohong, ‘kan?!” Kedua mata Kepala Divisi membelalak lebar. Ia hanya bisa menonton adegan kematian para bawahannya dengan tatapan tak percaya. Seribu dari anggota Angkatan Udara telah disantap oleh makhluk-makhluk hijau berlendir yang rakus tersebut. Saat ini, hanya 1500 orang yang tersisa.


Wakil Kepala Divisi menggigit bibirnya kesal, meratapi kegagalan strategi Kraken. Ia menoleh ke arah Kepala Divisi. “Kepala!!! Kita harus mundur!!!” serunya.


“Bukan itu, bodoh.” Kepala Divisi tertawa pelan. “Wakil Kepala Divisi menyuruh kita mundur supaya kita bisa melaksanakan Plan B.”


“Plan ... B?” Sang Prajurit memiringkan kepalanya dengan bingung.


“Ya,” sahut Wakil Kepala Divisi. “Sekarang, kita hanya perlu menunggu izin dari Sang Ahli Strategi, yakni Ryugai-sama.”


Sementara itu, di suatu tempat yang berada di pulau terpencil nan jauh, Greed tengah menatap layar yang menampilkan hasil dari rekaman partikel mata-mata di medan tempur. Ia tersenyum penuh kemenangan begitu melihat pasukan ras manusia tengah terdesak dan kewalahan serta kehilangan banyak prajurit.


“Bagaimana? Strategi Kraken yang kalian banggakan telah kupatahkan ... dengan Strategi Kraken Balasan, yaitu Strategi Slime ....”


Namun, mendadak sebuah layar sihir komunikasi menggantikan layar di hadapannya. Layar itu menampilkan sosok Ryugai beserta para petinggi kemiliteran.


“Hei, Greed! Strategi yang bagus!! Aku yakin kau sudah mengevolusikan slime-slime itu. Slime biasa tak mungkin bisa memakan paus, sudah begitu pausnya seukuran 10 kapal perang lagi. Selain itu, slime-slime tersebut berenang dengan menghembuskan air menggunakan prinsip aksi-reaksi. Tidak biasanya ada slime yang koordinatif dan pintar begitu.”


“Kenapa kalian tampak sangat tenang? Lihat, pasukan kalian lari kocar-kacir ketakutan seperti tikus!!” Keringat dingin mulai mengaliri kepala Greed. Mengapa? Karena jika para petinggi terlihat tenang, maka itu berarti mereka mempunyai rencana lain.


“Karena kami masih memiliki Plan B ....” Ryugai tersenyum penuh arti. Sebuah layar sihir komunikasi lain muncul di sampingnya, menampilkan sosok Kepala Divisi. Sayangnya, layar itu tidak masuk ke dalam jangkauan kamera sehingga Greed tak bisa melihatnya.


“Ryugai-sama, apa kami boleh mundur? Kalau begini terus, kita bisa kehilangan seluruh prajurit!!”


“Ya, mundur saja. Aku yang akan menangani sisanya.”


“Lihat? Mereka ketakutan seperti nyamuk yang dikejar oleh cecak.” Greed berusaha untuk tetap terlihat percaya diri. Dia tak boleh sampai kelihatan takut.


“Kau salah, Greed,” ujar Kepala Angkatan Udara Rai Asanobu sambil turut tersenyum. “Justru dengan begini ....”


“Plan B bisa dilaksanakan!!!”


To be continued


Next Chapter:


Day 62: Plan B!! Strategi Perfect Combo!! (Part 4)