Purity Online - The World For The Fallens

Purity Online - The World For The Fallens
Day 63: Otomura Yamato (Part 4)



"Maksudnya apa, sih?" Yuukaru terlihat sangat bingung.


"Tunggu!!" Yuukaru mendadak menyadari sesuatu. Kedua matanya membelalak lebar. "Tadi katanya, aku akan berada di dunia virtual ini selama 9 jam di dunia nyata dan 63 jam di dunia virtual-reality ini?! Berarti aku akan tidur di dalam kapsul selama sembilan jam?!"


"A-Apa mereka akan melakukan sesuatu terhadap kapsul untuk menghukumku?! Meledakkannya?! Menggunakan gelombang listrik berbahaya untuk menyetrum otakku dan menghabisiku?!" Keringat dingin mulai membanjiri sekujur tubuh Yuukaru. Berbagai spekulasi yang terkesan agak berlebihan timbul di pikirannya.


"Tu-Tunggu, ini hanyalah kekhawatiran yang berlebihan. Kau hanya terlibat kasus penganiayaan, Yuukaru!! Bukan pembunuhan. Mustahil sampai dihukum mati. Keadilan memanglah sampah, tapi hukum tidak sekonyol itu." Yuukaru berusaha menenangkan pikirannya. Dielus-elusnya dadanya. "Tenanglah, Yuukaru ..., tenang .... Itu cuma kekhawatiran yang tidak beralasan."


"Tapi, untuk apa aku dikirim ke dunia virtual ini? Me-Mereka tidak merencanakan skenario yang aneh-aneh, 'kan?!" Wajah Yuukaru kembali memucat. "Jangan-jangan mereka mau menyiksaku secara online?! Melakukan simulasi kematian virtual secara berulang-ulang kepadaku menggunakan AI berupa kawanan bandit, kiamat meteor, bencana alam, dan sebagainya?! Atau memberiku hukuman pembuangan secara virtual?!"


"Kalau aku mati di sini, apa aku akan mati di dunia nyata, ya? Bisa gawat kalau sampai jika aku mati di sini maka aku juga akan mati di dunia nyata. Tu-Tunggu, mustahil jika itu sampai terjadi. Tapi, bagaimana kalau itu benar? Bagaimana kalau mereka memang berniat menghukum mati diriku? Sialan. Aku masih ingin hidup."


"Sial. Mana bangunnya di hutan rimba begini. Aku tidak punya kemampuan untuk berburu, pula. Lariku juga tidak cepat," keluh Yuukaru sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru hutan. "Kuharap aku tidak mati kelaparan terlebih dahulu sebelum masa tesnya berakhir."


Yuukaru menatap buah-buah yang bergelantungan di ranting-ranting pepohonan. Buah-buah itu amat menggoda. Dia sangat ingin memakannya, tapi ia takut kalau-kalau buah-buah yang menggiurkan tersebut sebenarnya beracun. Dia tak punya pengetahuan apa-apa tentang hutan virtual ini. Kalau ini benar-benar sebuah permainan kematian, bisa-bisa dia juga mati di dunia nyata ketika avatar dari dirinya mati di dunia ini karena keracunan.


"Ah, ya. Mungkin di sini ada desa virtual. Mungkin aku bisa mencari makanan di sana." Yuukaru bangkit dari posisi duduk menuju posisi berdiri. Ditepuk-tepuknya pakaiannya yang dikotori oleh dedaunan kering dan rerumputan. Gadis itu kemudian mulai melangkah ke sembarang arah, hanya mengandalkan intuisi. Disibakkannya semak-semak yang menghalangi jalannya.


"Kuharap aku tidak malah masuk semakin dalam dan tersesat di hutan virtual ini. Aku tak mau mati kelaparan."


—————————————————————————————


Suara serangga menguasai suasana. Sesekali terdengar juga suara burung hantu. Kegelapan mulai memenuhi hutan yang rimbun. Langit biru tua terbentang di angkasa. Matahari telah terbenam, tapi Yuukaru belum juga menemukan jalan keluar dari hutan lebat ini. Dia juga belum makan dari tadi siang, hanya meminum air segar di sungai dan mata air yang sesekali dia temukan. Semua pohon, semak, dan batu di sini kelihatan sama. Tampaknya dari tadi dia hanya berputar-putar saja. Sesekali terdengar juga lolongan serigala yang membuat bulu kuduknya berdiri. Kelelawar-kelelawar juga kadang melintas di atas kepala. Rasanya seperti berada di dalam sebuah film horor. Namun, ketakutan itu berhasil teratasi karena bintang-bintang yang berkilauan warna-warni dan bulan separuh yang tergantung di langit mampu menenangkan hatinya.


"Sial. Jangan-jangan aku tersesat," ucap Yuukaru sambil menyibakkan sesemakan yang menghalangi jalannya untuk kesekian kalinya. "Yang benar saja!! Aku tak mau mati kelaparan."


Mendadak, pandangan Yuukaru menangkap sekumpulan asap yang membubung tinggi ke langit. Dihampiri oleh secercah harapan, sontak gadis itu berlari secepat yang ia bisa ke arah asap tersebut. Disibakkannya semak-semak yang menghalangi jalannya dengan cepat. Dirinya semakin dekat dengan sumber asap itu. Yuukaru mempercepat larinya. Secercah cahaya oranye timbul di kejauhan. Api! Ya, itu adalah api unggun! Berarti ada manusia!!


Harapan kecil di hati Yuukaru mulai membesar dan menguasai hatinya. Dia semakin dekat dengan api unggun. Disibakkannya semak terakhir yang menghalangi dirinya dengan api unggun itu. Tampak seorang pria muda berambut pendek berwarna keemasan tengah duduk di dekat api unggun yang dialasi kayu bakar sambil membakar sepotong besar daging mentah. Di sampingnya tergeletak sebilah batu tajam berlumuran darah dan beberapa potongan daging yang telah matang. Ada juga beberapa potongan besar daging yang masih mentah.


"Ah, apa kau juga peserta alpha test?" tanya Yuukaru.


"Ya," sahut pria muda itu dengan raut wajah datar.


"Ah, kalau begitu syukurlah!!" Yuukaru tersenyum ramah. "Namaku Yuukaru. Kalau kau?"


Pemuda itu mengangkat potongan daging yang telah matang dari atas api unggun, kemudian meletakkannya di sampingnya. "Otomura Yamato," sahutnya tanpa menatap wajah Yuukaru.


To be continued