Purity Online - The World For The Fallens

Purity Online - The World For The Fallens
Day 63: Heart Battle 2 (Part 12)



"Despair?"


"Ya." Sosok bernama Despair tersebut menyeringai licik. "Kau sudah tiada. Kau gagal. Inilah alam kematian yang sebenarnya. Tidak ada surga maupun neraka. Itu semua hanyalah cerita karangan manusia yang bodoh. Yang ada hanyalah keputusasaan dan kegelapan. Di sinilah tempat di mana harapanmu akan kuhisap terus-terusan sampai sirna."


"Hanya kamilah eksistensi yang boleh berada di alam ini. Setiap emosi-emosi positif yang dibawa dari dunia akan dihisap terus-terusan sampai lenyap seluruhnya!!"


"Menghisap? Apa maksud-" Sebelum Iruna sempat menyelesaikan perkataannya, sebuah pusaran hitam telah terlebih dulu muncul dan menariknya masuk.


"Uwaaahh!!!"


Iruna berpindah tempat kembali. Kini ia berada di sebuah ruang hitam becek yang digenangi oleh air setinggi mata kaki.


"Di-Di mana ini?!" Kepanikan kembali menguasai hatinya. "Kakak?! Kakak?!"


Mendadak, mata-mata merah menyala muncul dari balik kegelapan, membuat gadis kecil itu ketakutan.


"Kau sudah gagal."


"KAU SUDAH GAGAL!!!"


"GAGAL!!!"


"HIDUPMU TIDAK BERGUNA."


"KAU HANYA MENJADI BEBAN BAGI KAKAKMU."


"GAGAL!!!"


"GAGAL!!!"


Kemudian seekor monster raksasa bermata satu muncul dari dalam air menariknya masuk ke dalam mulut menggunakan lidahnya yang panjang bagaikan lidah bunglon. Iruna berusaha melawan, tapi itu sia-sia. Dia kembali ditelan oleh kegelapan yang abadi.


"Kakak?! Kakak?!" Iruna berusaha berlari ke sana-kemari, tapi sama sekali tidak ada tanda-tanda jalan keluar ataupun orang lain. Genangan air yang dipijaknya mulai berubah menjadi darah. Sensasi lengket mulai merambati kakinya dan terus naik hingga ke tubuhnya, membuatnya berteriak kencang.


"Kyaaaaaaa!!!"


Perlahan, genangan darah itu naik dan terus naik sampai akhirnya menenggelamkannya. Iruna berusaha berteriak meminta tolong, tapi tidak bisa karena mulutnya dipenuhi oleh darah.


"TOLONG!!!" jeritnya dengan suara tertahan.


"KAU AKAN MATI!!!"


"MATI!!!"


"MATI!!!"


"TOLONG, KAKAK!!!"


"PERCUMA SAJA."


"KAU AKAN MATI."


"INI ADALAH AKHIR DARI SEGALANYA."


"Begitu, ya?"


"Tampaknya ini benar-benar akhir dari segalanya."


"Aku sudah mati."


"Selama hidupku, aku tidak bermanfaat sama sekali bagi orang lain."


"Sebaliknya, aku malah menjadi beban."


"Aku memang pantas mati."


"Ya, ini akhir dari kisahku."


"Tak ada artinya jika aku hidup."


"Lebih baik aku hidup di sini."


"Dalam jurang keputusasaan ini selamanya."


*tiitt tiitt tiiitt titititititititit tiiittt*


Mesin di samping ranjang rumah sakit di mana Iruna berada berbunyi dengan ritme yang kacau, membangunkan Otomura dari tidurnya. Di tengah suasana yang remang-remang, didapatinya tubuh adiknya sedang kejang-kejang. Kepanikan menghampiri jiwanya. Dia segera bangkit berdiri dan berlari memanggil dokter.


"Dok!!! Dokter!!! Dokter!!!"


Tak lama kemudian, Sang Dokter memasuki ruangan dengan tergesa-gesa ditemani oleh beberapa suster. Wajahnya panik. Ia bergegas menghampiri ranjang Iruna dan berusaha melakukan berbagai macam cara untuk menyelamatkan nyawanya yang sudah berada di ujung tanduk.


"Sial!! Padahal tadi kondisinya sudah stabil!!!" gerutu Sang Dokter.


Beberapa suster bolak-balik mengambilkan alat untuk dokter yang tengah sibuk bekerja tersebut. Melihat adiknya berada dalam kondisi seperti itu, Otomura hanya bisa diam terpaku. Tubuhnya seolah membeku hingga akhirnya salah seorang suster memegang bahunya, menyadarkan remaja lelaki itu.


"Maaf, tolong tunggu di luar. Tenang saja, kami akan berusaha sekuat tenaga untuk menyelamatkannya," ucap suster yang tadi meraba pundak Otomura.


"Ah. Ba-baik," ucap Iruna sembari membalikkan tubuhnya, kemudian melangkah meninggalkan kamar rawat itu. Ia duduk di kursi dekat pintu kamar. Gigi-giginya bergemeletuk kencang dan tangannya gemetaran. Digigitinya kuku-kuku jarinya. Perasaannya bercampur aduk antara panik dan takut. Harapan telah mulai sirna dari hatinya.


"Sial!! Sial!! Padahal aku mengharapkan keajaiban, kenapa yang terjadi malah musibah?! Sebegitu bencikah Dewa terhadap kami?!" jerit Otomura di dalam batinnya.


Dia sudah hampir putus asa, tapi mendadak kilasan memori melintas di benaknya. Sebuah memori yang dipenuhi cahaya oranye senja. Memori pada hari itu. Potret senyum tulus yang disunggingkan oleh Iruna pada sore hari itu kembali terproyeksi di pikirannya.


"Semangat, kakak!!"


"Aku akan terus berjuang, jadi kakak juga harus terus berjuang, ya?"


Senyum mulai terukir di wajah Otomura. "Ya, itu benar."


"Dia sudah banyak berjuang dan menyemangatiku."


"Sekarang giliran aku yang berjuang untuknya."


Otomura menundukkan kepalanya dan memejamkan kedua matanya. Kedua tangannya berada dalam posisi berdoa. Harapan yang tadinya nyaris sirna dari hatinya mulai terkumpul kembali.


"Keajaiban mungkin hanya omong kosong, tapi ...."


"Aku ... tidak bisa berhenti berjuang sekarang!!!"


"Dia sudah banyak berjuang untukku ...."


"Dan sekarang giliranku!!"


"Iruna, kau adalah adik yang sangat kuat."


"Kau tidak akan menyerah semudah itu, 'kan?!"


"Kau takkan kalah, 'kan?!"


"Kumohon, sampailah, sampailah."


"Sampailah!!!"


"Sinterklas, Dewa, Tuhan, atau siapapun ...."


"Sampaikan pesan ini kepadanya!!!"


To be continued


Yap, sekarang ini novel jadi mirip drama korea yak :v awokwokwokwok XD *ditabok readers* (Readers: DASAR AUTHOR PSIKOPAT!!!)


Lah kok marah? 'Kan, ini demi character development :v


Readers: PALA KAU CHARACTER DEVELOPMENT!!! *tampol author pake kertas koran*


Kabur aja ah :v *lari secepat flash*


Readers: WOI JANGAN LARI LU AUTHOR SIALAN!!!


Oke hiraukan saja amukan readers yang tadi :v Sekian untuk chapter kali ini dan terima kasih atas waktu yang telah kalian luangkan. Sampai jumpa di chapter selanjutnya!! Bye!! ^^


-Author