
"Tunggu sebentar, Yuukaru!! Jangan menarik-narik tanganku seperti itu!! Memangnya kita mau ke mana?" tanya Ryugai seraya menapaki jalanan desa, mengikuti istrinya yang sedang melangkah dengan semangat. Di sebelah kanan dan kiri, rumah-rumah sederhana milik para penduduk desa berjejer dengan rapi dan teratur, dilindungi oleh pagar-pagar kayu dan pohon-pohon berdaun hijau yang rimbun.
"Ke suatu tempat yang tidak jauh dari sini," sahut Yuukaru.
Hanya selang beberapa menit, pasangan itu sudah tiba di perbatasan desa sebelah barat yang berupa sungai berdiameter cukup besar dengan sebuah jembatan kayu melintanginya. Di seberang sungai, terdapat hutan lebat yang penuh dengan pohon-pohon yang tinggi dan besar. Wajar saja mereka bisa tiba dalam waktu singkat, karena rumah bibi Yuukaru terletak tak begitu jauh dari pinggiran desa.
"Hei, kau yakin kita tidak akan nyasar?" Ryugai terlihat ragu.
"Tenang saja. Struktur hutan dan desa ini masih sama seperti ketika aku terakhir kali kemari, kok," ujar Yuukaru.
Ketika hendak menyeberangi jembatan, kedua mata Ryugai menangkap hutan yang gundul di tepi sungai yang jauh. Secara refleks, ia menghentikan langkahnya, membuat istrinya turut berhenti, menoleh ke arah yang sama, dan menajamkan matanya.
"Kenapa hutan di sebelah sana kelihatannya seperti bekas ditebang? Bukannya Gunung Shizen ini merupakan kawasan konservasi?" Ryugai menunjuk tanah kosong bekas hutan itu.
"Entahlah. Padahal dulu di sebelah sana juga pepohonannya masih rimbun. Pasti ulah para penebang liar." Yuukaru mengepalkan kedua tangannya erat-erat.
"Kenapa mereka masih mengincar kayu asli? Bukankah saat ini kayu sintetis sudah ada? Dan kualitas serta penampilannya setara dengan kayu asli," ucap Ryugai.
"Iya, tapi harga kayu asli lebih mahal daripada kayu sintetis. Mereka ingin menjual kayu-kayu asli dari hutan ini supaya mendapatkan uang yang banyak." Yuukaru tampak semakin kesal. Dia menundukkan kepala hingga wajahnya tertutupi oleh bayang-bayang.
"Mereka mengorbankan kekayaan alam hanya untuk memuaskan keserakahan .... Kalau sampai keindahan gunung ini jadi rusak karena pembalakan liar, mereka tidak akan kumaafkan."
Sadar bahwa wanita itu sedang geram, Ryugai buru-buru mengganti topik pembicaraan agar tidak berpengaruh pada bayi di dalam kandungannya.
"Daripada menggerutu soal itu, lebih baik kita lanjutkan perjalanan ke tempat yang ingin kau tunjukkan," ucap pria berambut biru tersebut.
"Cepat sekali suasana hatinya berubah ...," batin Ryugai dengan bulir keringat mengaliri keningnya.
Keduanya menyusuri hutan tersebut selama sekitar lima menit dan menemui sebuah pemandangan yang menakjubkan. Di depan mata mereka, danau berair sejernih kristal membentang luas. Di seberangnya, terdapat pepohonan sakura yang amat cantik. Puncak Gunung Shizen terlihat tepat di belakang kumpulan pohon sakura tersebut. Melihat itu, Ryugai dan Yuukaru serempak berseru kagum.
"Waaahhh!!!"
"Indahnya!! Seperti negeri di dalam dongeng!!" Kedua mata Ryugai berbinar-binar.
"Ternyata masih sama seperti 14 tahun yang lalu, ya. Aku jadi bernostalgia. Dulu, setiap kali musim semi tiba, aku selalu duduk di sini selama berjam-jam hanya untuk memandangi keindahan ini." Yuukaru melangkah mencari pohon tempat dirinya sering bersandar dulu, kemudian duduk dengan bersandarkan pohon itu.
"Memang indah," sahut Ryugai. Senyum gembira terukir di wajahnya. "Sebagai seseorang yang terlahir di kota, baru pertama kali aku melihat pemandangan seindah ini dalam hidupku."
"Kita ... bersama dengan warga-warga desa yang lain ... harus menjaga harta yang tak ternilai ini ...," ucap Yuukaru sambil tersenyum memandang langit biru yang terpantul di permukaan danau.
To be continued
Next Chapter:
[Season 2] Chapter 49: Kontraksi
Sekilas info. Sekitar 1-2 chapter lagi, Arc 4: Despair, Past, and Hope akan berakhir. Fokus ceritanya akan kembali mengarah pada kisah petualangan Yamamura.