
"SEKARANG ..., MARI KITA MULAI PERMAINANNYA."
Cuaca di tempat tersebut tiba-tiba berganti menjadi badai salju. Diiringi oleh hembusan angin kencang, Rudolf yang berada dalam wujud monster beserta teman-teman sesama rusa pembunuhnya keluar dari balik kegelapan, menampakkan tanduk, taring, dan cakar tajam mereka. Senyum ala psikopat menghiasi wajahnya.
"Kau ...," ucap Yamamura dengan nada penuh amarah. Ia bangkit berdiri. "Apa yang sebenarnya kau inginkan?!"
"Bersenang-senang denganmu. Itu saja," sahut Rudolf, masih dengan suara yang berat dan mengerikan.
"Kau menganggap semua ini permainan?! YANG BENAR SAJA, BR*NGS*K!!!" umpat Yamamura penuh amarah sembari mengepalkan tangannya erat-erat.
Dibakar oleh kemarahan, dia berlari ke arah kumpulan rusa monster yang haus darah itu tanpa senjata maupun armor sama sekali. Tindakan yang sangat gegabah.
Melihat kemarahan di mata sang bocah berambut emas, Rudolf tersenyum bengis.
"Api kemarahan yang bersinar di matamu itu ..., akan segera kupadamkan dan kuganti menjadi sesuatu yang lebih indah lagi."
"Yaitu ..., gelapnya keputusasaan."
"JANGAN BICARA OMONG KOSONG!!!" seru Yamamura sembari melayangkan tinjunya.
"Semuanya, serang." Rudolf memberi komando kepada teman-temannya sambil menunjuk Yamamura dengan kaki depannya.
Teman-teman rusa monsternya dengan cepat menyerbu Yamamura dan menerkamnya. Mengiris, menikam, mencabik, semua mereka lakukan dengan ganas layaknya sekawanan singa yang kelaparan. Yamamura yang shock dan tak berdaya hanya bisa melontarkan jeritan-jeritan penuh penderitaan, hingga akhirnya suaranya tak terdengar lagi.
"Hah?!"
Anak lelaki itu terbangun kembali di sebuah tempat yang gelap. Kepanikan tampak jelas di wajahnya. Napasnya tak beraturan.
"Di mana ini?"
"Sial .... Gelap sekali. Aku tak bisa melihat apapun."
"Ini ..., cuma mimpi buruk, 'kan?"
Yamamura mencoba menampar dan mencubit pipinya sendiri, tapi cara itu tak bekerja. Ini jelas bukan sekedar mimpi buruk. Dia sedang terperangkap di dunia ilusi buatan Nightmare Reindeer Rudolf dan sama sekali tidak tahu bagaimana caranya keluar.
"Bukan mimpi ...."
"Apa aku ... akan terjebak di dunia ini selamanya?"
"Atau jangan-jangan, barusan aku benar-benar mati?"
Tiba-tiba, sebuah cahaya muncul tak jauh dari adventurer muda itu, menampakkan sebilah pedang yang amat tajam.
Jari-jemari Yamamura bergerak perlahan, meraih dan menggenggam gagang pedang itu. Dia bersiap untuk menikam dadanya sendiri. Namun, mendadak ia berubah pikiran dan meletakkan kembali pedang tersebut di tempatnya tadi.
"Tidak .... Percuma saja."
"Kalau aku bunuh diri di sini, pasti aku akan dibangkitkan lagi di tempat mengerikan yang lain. Cara itu tidak akan bisa mengeluarkanku dari dunia sialan ini. Jadi, apa yang harus aku lakukan? Duduk diam di sini selamanya, dikelilingi oleh kegelapan?"
"Apa yang harus aku lakukan ...."
"Aojin ..., Ayah ..., Ibu?"
"Hahahahahahahahahaha!! Bagaimana, sudah menyerah?" Tawa psikopat Rudolf kembali terdengar.
"Itu kau, ya, Rudolf ...," ujar Yamamura dengan suara pelan sambil mengepalkan tangannya. Dia sangat kesal, tapi sama sekali tak punya kekuatan untuk melawan.
"Ya. Aku menyerah," ujarnya lagi. Dilemaskannya tangannya. Ia sudah kehilangan semangat. Mungkin memang inilah takdirnya.
"Bagus, bagus!! Diamlah di sana selamanya dan biarkanlah dirimu ditelan oleh kegelapan itu!!! Hahahahaha!!!"
"Kau tidak perlu melakukan perjuangan yang sia-sia dan tanpa tujuan lagi. Kau tidak punya, 'kan? Sesuatu untuk kau lindungi ...."
"Sesuatu ... untuk kulindungi ...," batin Yamamura.
"Aku memang tidak berjuang untuk siapapun. Aku tidak punya rekan. Aku tidak punya sesuatu untuk kulindungi sama sekali. Selama ini aku berjuang tanpa tujuan yang jelas. Aku selalu bersikeras untuk tidak lari, tapi aku bahkan tidak tahu untuk siapa aku terus berjuang."
"Hei ..., Ayah ..., Ibu ...."
"Apa perjuanganku selama ini ... adalah tindakan yang sia-sia?"
To be continued
Yak, tema chapter hari ini adalah keputusasaan, kehampaan, dan depresi :v *plak!!!*
Yamamura: WOY SAMPE KAPAN LU MAU NYIKSA GUA?!
Sampe saya puas, lah :v
Yamamura: Ampun, dah *tepok jidat* Kenapa aku bisa lahir dari karya author yang tak ada akhlak macam dia.
Next Chapter:
[Season 2] Chapter 35: Sesuatu Untuk Dilindungi (2)