Purity Online - The World For The Fallens

Purity Online - The World For The Fallens
[Season 2] Chapter 20: Quest yang Misterius



Sementara itu, di kediaman keluarga Yuzumoto.


"Hei, Kak. Ini sudah lebih dari tiga jam!!"


Aojin mencoba membangunkan kakaknya, tapi tak ada balasan. Merasa kesal, Aojin pun berjalan mendekati stop kontak dan hendak mencabut paksa Sphere Part. Namun, begitu ia menyentuh bagian itu, listrik bertegangan rendah langsung mengalir ke tubuhnya dan menyetrumnya, membuatnya terlonjak kaget.


"A-Apa ini?!" Kedua mata Aojin membelalak. "Aliran listrik? Apa alatnya rusak?"


"Hei, kakak?"


Dipanggilnya kakaknya itu sambil menggoyang-goyangkan tubuhnya, tapi tak ada jawaban maupun tanda-tanda terbangun. Dia mencoba melepas paksa Choker Neklace, tapi gagal juga. Aliran listrik kembali menyetrum tubuhnya. Anak itu langsung panik.


"Ini gawat!! Benar-benar gawat!!"


Dengan napas memburu, Aojin berlari menuju ruang tengah dan meraih gagang telepon.


"Aku harus memberitahukan ini kepada ayah dan ibu!!"


————————————————————————


Beberapa menit berselang, Ryugai dan Yuukaru pun tiba di rumah. Keduanya terlihat panik dan tergesa-gesa. Tubuh mereka bermandikan keringat dan napas mereka memburu. Aojin yang melihat kedatangan kedua orangtuanya langsung menuju kamarnya. Ryugai dan Yuukaru mengekor di belakangnya. Di kamar, tampak Yamamura sedang terbaring di kasurnya dengan Choker Neklace masih terpasang di lehernya.


"Kau tadi bilang aliran listrik bertegangan rendah mengaliri perangkatnya, 'kan?" tanya Ryugai memastikan. Pertanyaan itu segera dijawab oleh Aojin dengan anggukan kepala.


"Aneh sekali. Kalau memang rusak, seharusnya gear itu sudah mati total," batin Ryugai sembari menatap lampu di Sphere Part yang masih menyala, menandakan bahwa perangkat itu masih berfungsi.


Ryugai mengambil sepasang sarung tangan karet dan mencoba mencabut Sphere Part dari stop kontak, tapi gagal. Aliran listrik mengaliri tubuhnya, kali ini tegangannya lebih kuat dari yang tadi. Ryugai terlompat ke belakang, jatuh terduduk. Napasnya tak beraturan.


"Kok, bisa? Dia bisa mengaliri karet yang merupakan bahan isolator?" Ryugai tampak terkejut.


"Ini aneh ...," ucap Ryugai. "Pada dasarnya, listrik adalah elektron yang bergerak. Seharusnya listrik tidak bisa mengaliri benda bersifat isolator yang atomnya bisa mengikat kuat elektron. Apakah ... ini elektron jenis baru?"


(Readers: IPA terooosss


Author: Lha, biarin. 'Kan, biar belajar :v)


"Dan tegangan itu ..., kenapa lebih kuat daripada yang tadi?" Aojin tampak sama terkejutnya dengan ayahnya.


"Sepertinya setiap kali kita mencoba mencabut atau membongkar paksa perangkatnya, limiter-nya akan terbuka perlahan dan menyebabkan tegangan listriknya semakin lama semakin tinggi."


"Dan juga ..., seharusnya virtual gear seperti ini tidak bisa menampung listrik dalam jumlah besar, apalagi listrik jenis baru seperti ini. Alat ini harusnya sudah rusak sekarang. Apa dia juga menggunakan isolator khusus di dalamnya sebagai pembatas? Selain itu, di mana dia menyimpan listrik jenis baru ini? Apakah perangkat ini memiliki alat pengubah jenis elektron dan gauge di dalamnya?"


"Tapi, bagaimana cara si pelaku memodifikasi valensi elektronnya supaya tidak terikat oleh atom-atom pada bahan isolator?" ujar Yuukaru.


(Note: Valensi elektron adalah elektron yang berada di bagian terluar atom. Elektron ini mudah sekali berpindah dan elektron inilah yang menghasilkan listrik.)


"Makanya itu ...," sahut Ryugai. "Pelakunya mungkin adalah seseorang yang sangat jenius ...."


"Atau ... seorang dewa ...."


————————————————————————


Di suatu tempat ....


Yamamura terlihat sedang kewalahan menghadapi monster berwujud rusa di sebuah wilayah bersalju. Seluruh persenjataan dan armor miliknya sudah hancur dan sekarang dia terpaksa harus menggunakan tangan kosong. Napasnya tak beraturan. Tenaganya nyaris habis.


"Sial ...," gerutunya. "Sial!! Sial!! Sial!! Sial!! Siaall!!"


"Darah ...?! Jadi ini benar-benar dunia asli?! Bukan game lagi?!"


"Apa aku ... akan mati?"


"Tidak ...."


"Aku belum mau mati ...."


"Aku ... bahkan belum mengetahui apapun tentang dunia ini!!"


"Aku bahkan belum menjalin relasi di sini!!!"


Monster rusa itu bersiap-siap untuk kembali menyeruduk. Senyum bengis terukir di wajahnya. Kedua matanya bersinar merah menyala. Tanduk-tanduknya berlumuran darah. Mendadak, langit yang tadinya cerah menjadi mendung. Awan-awan merah menutupi cahaya matahari, kemudian membasahi daerah tersebut dengan hujan darah. Salju yang melapisi tanah di tempat itu langsung tertutup dengan cepat oleh genangan darah merah. Yamamura pun menjadi semakin ketakutan. Wajahnya pucat dan kedua matanya menatap tak percaya.


"KAU AKAN MATI!!!"


"Tidak ..., jangan ...."


"MATI!!!"


"Jangan lakukan ...."


"MATI!!!"


Sang monster rusa kembali melesat ke arah Yamamura, terlalu cepat hingga tak bisa dihindari.


"JANGAN!!!"


——————————————————————


"Hah!!!"


Yamamura terbangun dari tidurnya dengan tubuh yang dibanjiri oleh keringat. Napasnya masih terengah-engah. Wajahnya masih menyiratkan kengerian. Kelihatannya semua yang terjadi tadi hanyalah mimpi.


"Mimpi, 'kah?" ucap Yamamura. "Coba kulihat, kakiku masih napak gak?"


Bocah itu memandangi tubuhnya. Sama sekali tidak ada darah maupun luka. Tubuhnya masih utuh. Dirinya masih sehat dan bugar. Hanya saja, pakaiannya basah kuyup oleh keringat dingin. Ditengoknya kedua kakinya yang masih terpasang di tubuhnya.


"Syukurlah, kukira aku sudah mati dan menjadi hantu." Ia menghela napas lega.


"Tapi, seriusan. Aku masih hidup, 'kan?!"


Dengan panik, Yamamura bangkit berdiri dan berjalan ke arah cermin yang tergantung di dinding kamarnya. Bayangannya terlihat jelas di cermin itu. Untuk kedua kalinya, dia menghembuskan napas lega.


"Syukur, deh. Eh, sebentar. Apa itu?"


Pandangan Yamamura menangkap sebuah lambang lonceng kecil yang bergoyang perlahan di pojok kanan atas penglihatannya. Ia segera menekan lambang mungil itu dan sebuah jendela notifikasi quest muncul di hadapannya.


"Apa ini? Quest?"


"Tapi ..., dari siapa?"


To be continued