Purity Online - The World For The Fallens

Purity Online - The World For The Fallens
Day 1: Kehangatan Desa Arafubi (Part 2)



"Ah ..., kenyang sekali," ucap Kakek Rato sambil mengelus perutnya.


"Sudah kenyang, Kek Rato?" ujar Ryugai sembari memadamkan api unggun yang tadi mereka gunakan untuk memasak daging kelinci hasil buruannya. Ryugai menggunakan batu yang telah diserpih dan diasah hingga tajam untuk menguliti kelinci tadi.


"Oh. Langsung memanggil dengan akrab, ya?" Kakek Rato menyahut sambil tersenyum. "Ternyata meski dingin, kau ini cepat akrab juga."


"Kau sendiri yang menyuruhku memanggilmu begitu, Kek," sahut Ryugai tanpa menolehkan kepalanya ke arah pria tua itu. "Atau kau ingin aku memanggilmu pak tua lagi?"


"Hei, hei .... Dingin sekali ...." Kakek itu tertawa. "Ngomong-ngomong, terima kasih. Aku hampir saja mati kelaparan tadi."


"Jangan salah sangka, kakek. Aku sama sekali tidak bermaksud berbuat baik kepadamu. Anggap saja aku membaginya karena tak mampu menghabiskannya sendirian." Ryugai masih tampak acuh. "Kalau aku bisa menghabiskannya sendirian, kau tak akan kubagi."


"Hahahahaha!!!" Kakek Rato tertawa terbahak-bahak, membuat Ryugai menatapnya dengan heran.


"Ada apa, Kakek?" tanya Ryugai.


"Tidak apa-apa," ucap Sang Kakek sambil menutup mulutnya, berusaha menahan tawanya. "Ternyata kau itu tipe tsundere, ya, Ryugai."


"A-Apa-apaan kakek ini?!" Ryugai langsung salah tingkah. "Untuk apa aku bersikap layaknya tsundere kepada sesama pria?!"


"Kenapa dia bersikap sok akrab begitu? Ah, ya. Dia belum tahu kalau aku adalah pembunuh. Seandainya dia tahu bahwa aku sudah membunuh lima orang di Osaka, Okinawa, dan Tokyo ..., akan seperti apa reaksinya?" batin Ryugai. "Tapi, sebaiknya aku tidak memberitahunya sekarang."


"Dan lagi, kenapa kakek-kakek tua sepertimu bisa tahu istilah itu?!"


Kakek Yurato tertawa kecil. "Begini-begini aku kakek gaul .... Oh, ya. Jangan pakai embel-embel 'kakek tua,' dong. Aku merasa sedikit terhina."


"Baiklah, baiklah," ucap Ryugai. "Mulai sekarang, aku akan memanggilmu Kakek Rato. Ngomong-ngomong, kita langsung ke pembicaraan intinya, ya. Kapan kita akan berangkat menuju desamu?"


"Tentu saja sekarang," ucap Kakek Rato sambil bangkit berdiri dan meregangkan tubuhnya, menghirup udara hutan yang masih segar dan alami. Namun, tak lama kemudian terdengar suara 'krak' dari dalam tubuhnya. Kedua mata pria tua itu pun membelalak lebar. Ia langsung mengaduh kesakitan.


"Aduh!! Duh!! Duh!! Duh!! Duh!! Aduh!!! Pinggangku!!! Aduh!! Duh!! Duh!!! Duh!!! Duh!!! Aduuuuhhhh!!!"


Melihat itu, Ryugai hanya terdiam dengan bulir keringat mengaliri keningnya. "Dasar. Sudah kakek-kakek, tapi masih sok muda."


——————————————————————————————————


Ryugai dan Kakek Yurato kini telah tiba di desa tempat tinggal kakek tersebut. Matahari telah berada di ufuk barat. Cahaya kemerahan menimpa jalan-jalan dan bangunan-bangunan. Langit kini berwarna jingga.


Meski disebut 'desa,' tapi ternyata ornamen-ornamen, desain-desain, jalan-jalan, dan penataan rumahnya cukup memanjakan mata. Sebuah air mancur tampak berada di perempatan jalan. Jalan ramai oleh orang-orang yang berlalu-lalang. Semuanya tersenyum dengan riang dan gembira. Setiap orang yang lewat menyapa Kakek Yurato dan Ryugai. Ada satu hal yang mengganjal di hati Ryugai, yaitu setiap orang yang lewat menyapa Kakek Yurato dengan sebutan 'Pak Kepala' atau 'Kakek Kepala.'"


"Ini desamu, Kek?" tanya Ryugai sembari menoleh ke arah Kakek Yurato.


"Ya. Namanya adalah Desa Arafubi," sahut Kakek Rato.


"Kupikir desa tempat tinggalmu adalah desa primitif."


"Hei, hei. Jangan sembarangan. Desaku sudah lumayan maju, tahu."


"Ngomong-ngomong, kenapa dari tadi semua orang menyapa anda dengan sebutan 'Pak Kepala?'" Ryugai melontarkan pertanyaan kedua.


"Tentu saja karena akulah kepala desa dari desa bernama Arafubi ini," ucap Sang Kakek sembari mengangkat kepalanya dengan bangga, berharap Ryugai akan terkesan.


*krik krik\~\~* *krik- krik\~\~*


"Ka-Kau tidak kagum?! Atau minimal terkejut, begitu?!" Kakek Yurato terbelalak.


"Untuk apa aku terkejut hanya karena kau adalah kepala desa?" ujar Ryugai dengan cuek.


"Lu-Lupakan saja ...," ujar Kakek Yurato sembari tertunduk lesu. "Sial .... Dia ini dingin dan kaku sekali, sih."


"Hei. Dia orang baru, ya, Pak Kepala?" sapa dua pemuda berambut keemasan berpenampilan nyaris serupa sembari tersenyum ramah.


"Ya. Dia menolongku di hutan tadi. Namanya adalah Ryugai," ucap Kakek Yurato memperkenalkan pemuda berekspresi acuh dengan rambut biru di sebelahnya.


"Oh, begitu. Perkenalkan, aku Rascal," ucap salah seorang pemuda sembari mengulurkan tangannya.


"Dan namaku Rascarez. Aku lahir hanya satu jam lebih awal dari kakakku, Rascal," ucap pemuda yang satu lagi, Rascarez, mendahului Rascal mengulurkan tangannya.


"Hei, aku dulu, dong, Rascarez!!" protes Rascal.


"Memangnya kenapa?" ujar Rascarez dengan senyum menyebalkan terukir di wajahnya.


"Aku, 'kan, yang tertua!! Aku dulu!!"


"Memangnya kenapa? Umur tidak ada hubungannya dengan ini."


"Hei, hei. Sudahlah. Kalian ini ...." Kakek Yurato menengahi sembari menjewer telinga kedua pemuda itu.


"Adudududuh! Sakit, kakek!!! Adududududuh!!!"


"Maaf atas adegan konyol ini, Ryugai," ujar Kakek Rato.


"Ya. Maaf, Ryugai-san." Rascal dan Rascarez berujar sembari turut tersenyum ramah. Mereka berdua mengulurkan tangan mereka sekali lagi. "Sekarang, mari kita ulangi perkenalan."


"Na-Namaku Ryugai .... Salam kenal ...." Ryugai berujar dengan terbata-bata karena terkejut. Ia menyalami mereka berdua dengan kaku.


"Apa-apaan ini? Padahal aku sangat kasar, dingin, dan selalu bersikap acuh kepada mereka, tapi mereka .... Senyuman yang ramah dan tulus itu ..., itu jelas-jelas bukan senyuman yang disunggingkan karena terpaksa!!"


"Tadinya aku berniat membunuh mereka semua dan menjarah desa ini, tapi ...."


Namun, kemudian kebencian kembali menghampiri hati Ryugai begitu ia mengingat masa lalunya yang kelam.


"Sayangnya, aku sudah menutup hatiku dan mengusir kemanusiaan dari jiwaku sejak hari itu ...."


To be continued


Yap, chapter selanjutnya adalah backstory dari Ryugai sekaligus bagian terakhir dari Day 1!! Penasaran dengan masa lalu Ryugai? Makanya baca terus novel ini :v


Sekian untuk chapter kali ini. Terima kasih atas waktu yang telah kalian luangkan dan sampai jumpa di chapter selanjutnya. Jangan lupa tinggalkan jejak berupa kritik, saran, vote, dan comment, Bye!!!


-Author


Next Chapter:


Day 1: Masa Lalu yang Kelam (Final Part)