Purity Online - The World For The Fallens

Purity Online - The World For The Fallens
[Season 2] Chapter 3: Ziarah dan Bintang Jatuh



Matahari belum lama terbit. Ia masih berada di dekat cakrawala, seolah-olah dirinya masih malas untuk menyinari bumi. Meski fajar baru saja tiba, jalan-jalan di kota Tokyo yang berteknologi maju ini sudah padat oleh orang-orang yang siap untuk beraktivitas. Baik yang menggunakan kereta ultra magnetic levitation, kendaraan bertenaga solar, magnet, dan listrik, maupun orang-orang yang memilih untuk berjalan kaki karena alasan kesehatan atau keuangan.


Peradaban di tahun 2090 ini sudah sangat maju. Bahkan sudah ada ilmuwan yang mencoba membuat rancangan pesawat luar angkasa warpdrive, teleporter, mesin waktu, dan peralatan-peralatan canggih lainnya. Sayangnya, semua rancangan itu gagal karena efek samping dan hambatan yang ada terlalu banyak. Kesalahan koordinat, keterbatasan sumber energi, efek-efek yang dihasilkan oleh perjalanan waktu, dan lain sebagainya.


Saat ini, manusia cuma punya pesawat antarplanet tiga awak yang hanya bisa menuju satu planet dalam sekali pengisian energi dan memiliki kapasitas maksimal tiga astronot. Mereka sudah bisa mengirim manusia ke Mars dan Venus, tapi masih memiliki kesulitan untuk membangun pemukiman di sana karena iklimnya yang kejam. Umat manusia berhasil membangun pemukiman di bulan. Namun, yang bisa tinggal di sana hanya golongan elit dan bangsawan saja.


Di sebuah pemakaman, terlihat Otomura tengah berjalan di jalan setapak yang diapit oleh batu-batu nisan yang ditimpa cahaya matahari pagi. Dia tersenyum riang karena akhirnya bisa menghirup udara segar setelah sekian lama dikurung di dalam kamar untuk mengerjakan naskah.


"Akhirnya aku punya waktu luang juga. Dikurung di kamar hotel seperti itu rasanya seperti di penjara," ucapnya.


"Waktu pertama kali memutuskan untuk menjadi seorang novelis, aku sama sekali tidak menyangka kalau para editorku akan sekejam itu."


Dia menoleh ke kiri dan kanan, seolah sedang mencari sesuatu. Wajahnya tampak kebingungan. "Tu-Tunggu!! Jangan bilang aku lupa tempatnya di mana!!"


Otomura menepuk dahinya. "Aghh ..., siaaalll .... Pasti gara-gara kebanyakan nulis naskah, nih. Otakku jadi error."


"Apa boleh buat. Kucari saja, deh." Pria itu melangkahkan kakinya, melintasi jalan setapak sambil terus menoleh ke kiri dan kanan. Kelihatannya yang dia cari adalah makam adiknya, Iruna Yamato. "Seingatku ada di sekitar sini, kok."


Setelah berjalan beberapa saat, akhirnya Otomura menemukan apa yang dicarinya. Nisan adiknya, masih sama seperti saat terakhir kali dia berziarah. Hanya saja sekarang terlihat sedikit tidak terurus. Dia membersihkannya, lalu berjongkok di dekatnya. Senyuman sendu terlukis di wajahnya.


"Maaf, ya, Iruna. Akhir-akhir ini kakak sibuk, jadi tidak bisa sering-sering ke sini."


"Sudah 22 tahun berlalu sejak kejadian itu, ya ...."


"Hei. Terima kasih, Iruna. Jika bukan karena dirimu ..., mungkin aku tidak akan pernah bisa keluar dari dalam kegelapan dan kebencian."


"Terima kasih atas hari-hari yang sudah kau berikan."


"Kaulah yang mengajarkanku ... bagaimana caranya menghadapi hidup yang kelam."


Otomura menatap langit biru berhiaskan awan dengan senyuman masih terukir di wajahnya. Hari-hari itu .... Hari-hari yang dia habiskan bersama adiknya terasa seperti baru kemarin berlalu. Masa-masa di mana dia dan adiknya berjuang bersama, saling mengobati luka batin masing-masing. Masa-masa di mana mereka saling menyatukan tangan untuk menghadapi takdir yang kejam.


"Terima kasih sudah memberiku semangat untuk hidup, Iruna."


"Hei .... Kau masih mengawasiku sampai saat ini, bukan?"


Tak ada jawaban. Hanya hembusan angin pagi yang menjawab pertanyaan Otomura.


(Supaya feelsnya nambah, bacanya bisa sambil dengerin soundtrack ini. https://youtu.be/hWVuQbcvADw)


"Begitu, ya." Otomura tersenyum sekali lagi. "Kau memang ... tidak pernah berubah ...."


"Teruslah menyemangatiku. Jangan biarkan aku kalah dari kejamnya takdir. Ajarkanlah kepadaku bagaimana caranya supaya bisa menjadi pribadi yang tegar dan tangguh sepertimu. Ya, Iruna?"


"Itu tentunya bukan waktu yang singkat ...."


"Kebanyakan orang pastinya sudah berubah ...."


"Tapi kita berdua ... tidak pernah berubah sama sekali."


"Kita masih sama seperti di hari itu."


"Kita masih ... dua anak polos yang berjuang demi menjalani hidup."


Secara tak sengaja, pandangan Otomura menangkap cahaya kecil yang melintasi langit biru. Satu, dua, tiga. Banyak sekali cahaya yang melintas. Kelihatannya ini adalah hujan meteor.


"Bintang jatuh, ya?" ucap Otomura. "Ah, ya. Sekarang sudah masuk periode hujan meteor Ursid, dan waktunya pas." Dia menatap jam tangan hologram miliknya yang menunjukkan pukul enam lewat.


"Menurut orang-orang ..., jika kita memohon pada bintang jatuh ..., maka permohonan kita akan menjadi kenyataan."


"Keinginan ... bisa jadi kenyataan, ya ...."


Otomura sempat merenung sejenak, tapi akhirnya dia memutuskan untuk hanya menonton hujan meteor itu sambil tersenyum dengan mulut terkatup.


"Keinginan bisa jadi kenyataan ..., itu memang hebat ...."


"Tapi ...."


"Aku sudah tidak memiliki keinginan lagi."


"Impianku sudah tercapai. Semua keinginanku sudah terpenuhi. Aku tak perlu lagi mengutuk dan mengeluh atas semua yang telah terjadi."


"Aku sudah tidak punya permintaan apapun, jadi kurasa aku tidak memerlukan keajaiban lagi. Aku akan menjalani hidupku dengan bahagia."


"Semuanya baru saja dimulai. Aku tidak boleh cepat puas atas pencapaianku. Aku akan terus berjuang."


"Doakan aku, ya ...."


"Iruna ...."


To be continued


Cie yang depresi :v *ditabok readers*