Purity Online - The World For The Fallens

Purity Online - The World For The Fallens
Day 63: Masakan Kenangan (Part 9)



"Wah!! Indahnya!!" Iruna tersenyum senang sambil menatap hiasan-hiasan kertas berwarna-warni yang menempel di seluruh sisi dinding ruang keluarga. Di salah satu sisi dinding, tergantung papan tulis bekas yang bertuliskan: 'Selamat atas kelulusanmu.'


"Ya, 'kan? Aku sengaja bangun lebih pagi untuk membuat ini semua, lho," timpal Otomura sembari menyeringai senang.


"Ya!!" Iruna menganggukkan kepalanya dengan riang. "Terima kasih banyak, kakak."


"Ngomong-ngomong, dari mana papan tulis ini?"


"Ah, aku menemukannya di gudang. Karena kupikir cocok dengan acara ini, kubersihkan saja dan kupasang."


"Kenapa? Kau tidak berpikir kalau aku menyusup ke sekolahan untuk mencolong papan tulis, 'kan?" Otomura terkekeh pelan.


"Tentu saja tidak," sahut Iruna sambil turut tertawa. "Mana mungkin kakak melakukan hal yang tidak terpuji seperti itu."


"Nah, mari kita bergegas menuju ruang makan. Nanti makanannya keburu dingin."


"Baik."


——————————————————————————


Di ruang makan.


"Wah, kelihatannya enak!!!" Air liur Iruna menetes. Kedua matanya berbinar-binar penuh kebahagiaan. Selera makannya segera bangkit begitu dia melihat berpiring-piring makanan yang tersaji di hadapannya. "Semua ini kakak yang masak?"


"Ya," sahut Otomura.


"Apa ini tidak termasuk pemborosan?"


"Haha. Sesekali makan enak, 'kan, tidak masalah. Asal jangan sering-sering."


"Ah. Sebentar, ya. Aku akan mengambil menu spesialnya dulu."


"Eh? Menu spesial?" Kedua alis Iruna tertaut.


Otomura meninggalkan meja makan sesaat, kemudian kembali lagi beberapa saat kemudian dengan sebuah piring di atas tangannya. Dia kemudian meletakkan piring tersebut di atas meja.


"Ah?!" Kedua mata Iruna membelalak lebar ketika dia melihat makanan yang tersaji di atas piring. Mata emasnya berkaca-kaca. Perlahan, air mata mengaliri pipinya, menetes jatuh hingga terpercik di permukaan masakan tersebut. Ini bukanlah masakan biasa. Masakan ini mengandung kenangan. Sebuah kenangan indah yang sangat berharga. Harta yang tak ternilai.


Waktu mulai berputar ke belakang. Ingatan dari masa lampau mulai terproyeksi di benak Iruna. Sebuah ingatan ketika kedua orangtuanya masih hidup. Saat-saat ketika takdirnya belum sepahit sekarang.


"Wah? Semuanya berbentuk sakura?"


"Ibu hebat!!"


"Nah, nah, silakan dimakan."


"Otomura ...!!"


"Eh, ba-baiikk!!"


"Hahaha, giliran sama ibu kakak takut."


"Diam, sialan!"


Iruna diam mematung. Wajahnya tertutupi oleh bayangan.


"Ini adalah hamburger ala Jepang, tapi bentuk ini .... Bentuk bunga sakura ini ...."


Ya, dugaan gadis itu benar. Tidak salah lagi. Itu adalah hamburger sakura yang dulu sering dibuat oleh ibunya saat musim semi tiba. Penampilannya sama persis. Ini bukan masakan biasa. Jutaan kenangan terdapat di dalamnya.


Perlahan, tangan mungil Iruna meraih sendok dan garpu. Dibelahnya hamburger tersebut, lalu dimasukkannya potongan hamburger yang berada di sendok ke dalam mulutnya. Kedua matanya membelalak sekali lagi. Tidak hanya penampilan, bahkan rasanya juga sama persis. Cita rasa khas masakan ibu kandungnya meleleh di lidah kecil milik Iruna, memenuhi hatinya dengan kesan nostalgia.


"Lezat ...," ucapnya dengan suara pelan. Senyum haru mulai terukir di wajahnya meski air matanya masih berlinangan.


"Hei, kakak."


"Ya."


"Terima kasih."


"Ya ..., sama-sama ...."


Otomura tersenyum bahagia. Ingatan lampau juga mulai berputar di otaknya. Ingatan yang timbul ketika dia menemukan resep hamburger sakura itu dari barang-barang peninggalan ibunya. Di balik kertas resep tersebut, tertulis sebuah pesan. Sebuah pesan yang akan menyentuh hati siapapun yang membacanya.


'Kepada Otomura anak sulungku yang tersayang.


Hei, Otomura. Ibu menulis ini dengan perjuangan yang menyakitkan di tengah sakit keras ibu. Ibu ingin menyampaikan, kalaupun ibu dan ayahmu tidak bisa selamat dari penyakit ini, tolong teruskan jejak ibu. Buatlah hamburger sakura ini sesuai langkah-langkah di resep setiap musim semi tiba supaya kalian tak melupakan kami. Mungkin itu juga bisa memberi semangat bagi adikmu, Iruna, untuk sembuh dari kelumpuhannya. Ingat, jangan menghabiskannya sendirian seperti yang dulu kau lakukan, ya. Hahaha. Bercanda. Anak sulung ibu sudah dewasa sekarang, mana mungkin kau melakukan hal seperti itu.


Otomura. Kau adalah anak sulung ibu yang kuat dan paling ibu banggakan. Kaulah yang kelak akan menjadi tulang punggung keluarga kecil ini. Tolong jaga Iruna. Ibu mengandalkanmu. Maaf sudah seenaknya menanggungkan beban berat ini kepadamu.


Ibu menyayangimu.


-Dari ibumu yang sangat mencintaimu.'


Air mata haru juga mulai mengaliri wajah Otomura. "Tenang saja, bu. Aku akan selalu merawat dan melindungi adikku yang tersayang itu," batinnya.


"Karena dia ... adalah harta keluarga kita ...."


To be continued