
"Jadi di situ, ya!!"
"Sekarang, tinggal pakai strategi yang sama seperti adventurer berambut emas itu kemarin."
Setelah mengetahui letak liang yang diprediksinya sebagai tempat persembunyian si pemimpin dire wolves, Senshi pun menggiring serigala-serigala yang lain menjauh agar dia bisa membelakangi lubang itu, pura-pura merasa terpojok, dan mundur pelan-pelan ke arah lubang.
"Sebentar lagi... pasti dia keluar seperti laba-laba yang merasakan getaran di jaringnya...," batin remaja berambut hitam tersebut.
Benar saja. Beberapa detik berselang, serigala assassin kedua yang dicurigai sebagai pemimpin kawanan melompat keluar. Akan tetapi, bilah mata pedang Senshi yang dibasahi darah bergerak lebih cepat, mengubah posisinya dari vertikal menjadi horizontal supaya tidak terhalang tulang rusuk dan menikam jantung serigala itu sebelum dia sempat melancarkan serangan.
"Selesai."
Bocah itu mencabut pedangnya dari dada si serigala assassin dan berbalik menghadap serigala-serigala lain, mengira pertarungan sudah usai dengan kemenangan di pihaknya. Namun, justru yang dia lihat adalah sorot-sorot mata yang sama sekali tidak berubah, masih dipenuhi keinginan untuk balas dendam. Tidak ada sedikitpun ekspresi yang menunjukkan kalau nyali mereka ciut.
"Apa?!" Kedua mata emas milik Senshi melebar, pertanda bahwa dirinya terperanjat. "Bagaimana mungkin-"
Sebelum Senshi sempat memikirkan langkah berikutnya, salah satu dari para serigala yang berbadan paling kekar menyemburkan es dari dalam mulutnya, membuat bagian tubuh anak lelaki itu dari dada hingga telapak kaki menjadi beku hingga tak bisa digerakkan. Dia memanfaatkan kesempatan emas saat Senshi lengah karena terkejut.
"Benar juga...." Senshi mulai menyadari kebenaran di tengah kepanikannya. Dia teringat akan isi buku yang pernah dibacanya.
"Dalam dunia hewan, biasanya yang jadi pemimpin kawanan adalah yang paling kuat. Dengan demikian, jika mau, sebenarnya si pemimpin tak perlu bersembunyi dan bisa terjun langsung ke medan perang! Serigala ketua kawanan yang sebelumnya mungkin sebenarnya juga kuat, tapi karena tidak mau mengambil risiko, dia justru mati tanpa sempat bertarung. Bagaimana bisa aku tidak memasukkan hal sepenting itu dalam perhitunganku?"
"Ditambah lagi, aku tidak pernah menduga kalau pemimpin kawanan serigala yang baru itu punya sihir berelemen es. Sial..., kalau sudah begini, apa yang harus kulakukan?!"
Sebuah anak panah berapi muncul dari sisi lain halaman rumah, melesat menuju arah mata sang pemimpin kawanan, tapi sebuah zirah es dengan cepat melapisi sekujur tubuhnya. Senshi segera mengenali panah tadi. Ignis Arrow, anak panah dari skill milik Yamamura. Adventurer tersebut ternyata sedang mengawasinya bersama Yamarashi dari balik tembok, entah sejak kapan dan untuk tujuan apa. Mungkin mereka juga ingin melihat sejauh mana potensi asli dari Senshi.
Sebagian dari serigala-serigala yang tersisa berlari ke arah datangnya panah tadi. Namun, Yamamura berhasil menghabisi mereka, walau ia harus jatuh tersungkur dan meraung kesakitan setelahnya.
"Ini berbahaya...," ucapnya. "Bayaran bagi emergency mode adalah energi kehidupan yang hanya bisa dipulihkan setelah pertarungan selesai dengan kemenangan di pihakku. Tapi, kalau situasinya begini, lama-kelamaan aku akan terbunuh oleh kekuatanku sendiri."
Anak muda dengan rambut berwarna keemasan itu menundukkan kepala hingga wajahnya tersembunyi di balik bayangan. Sorot matanya menyiratkan keputusasaan yang mendalam.
"Semua sudah berakhir...."
"Tidak, masih belum!!" Yamarashi berseru, menolak untuk menyerah. "Walau sekujur tubuhnya dilapisi armor es, pasti bagian dalam mulut, tenggorokan, dan kerongkongannya tidak. Ditambah lagi, dia tadi lebih memilih menyuruh anak buahnya untuk menyerang kita daripada menyemburkan es, artinya serangan itu punya cooldown!"
"Kau benar," sahut Yamamura. "Kita bisa memanfaatkan momen itu untuk menembakkan panah ke mulutnya. Namun, dari yang kulihat sekilas tadi, bagian dalam mulutnya juga dilapisi es yang memanjang turun sampai ke saluran di bawahnya."
"Ketiga bagian tersebut jarang terekspos, jadi melapisi mereka dengan lapisan es yang kuat hampir tidak ada gunanya. Artinya, itu sekedar lapisan es tipis, jejak yang ditinggalkan oleh semburan es waktu melintas!" Yamarashi mencoba menganalisa. "Lapisan itu bisa kau lenyapkan menggunakan panah api yang digabungkan dengan panah kendali yang pernah kau ceritakan padaku."
"Itu lebih baik daripada mati konyol karena emergency mode milikmu, 'kan?" potong Yamarashi sembari tersenyum lebar. "Jika kau butuh waktu, serahkan saja padaku."
Yamarashi kemudian menolakkan kakinya dan berlari dengan cepat ke arah medan perang. Sangat cepat dan mendadak sehingga Yamamura terbelalak kaget.
"Hei!! Kau mau ke mana-"
Kembali ke sisi Senshi. Remaja tersebut sedang menenggak ludah dengan jantung berdetak kencang. Tepat di hadapannya, sang pemimpin kawanan dire wolf berjalan mengitar, seolah ingin memberinya cukup waktu untuk menderita ketakutan dulu sebelum mati. Dia memejamkan mata, bersiap untuk meregang nyawa. Suara kaki serigala yang beradu dengan tanah berumput terdengar dengan jelas setelahnya, diikuti oleh suara rintihan dari seseorang yang sangat dikenalnya. Merasa heran, Senshi pun membuka mata dan mendapati kakaknya sedang berdiri menghadap dirinya, menahan terkaman pemimpin dire wolf. Darah merah yang menimbulkan bau karat besi mengalir dari punggung si kakak yang dikoyak oleh taring, menuruni pinggang hingga jatuh menodai rumput-rumput hijau di bawah.
Detik itu juga, Yamamura menyadari bahwa Yamarashi sengaja berkorban demi melindungi adiknya, mengulur waktu, sekaligus mengalihkan perhatian para serigala supaya dirinya bisa menggabungkan skill Ignis Arrow dan Controller Arrow. Tanpa ragu-ragu lagi, adventurer tersebut pun memulai percobaan penggabungan skill. Dia tidak bisa diam saja setelah melihat rekannya bertaruh nyawa seperti itu.
"Kau.... Kenapa...?" tanya Senshi dengan nada pilu. "Padahal aku sudah bersiap-siap seandainya aku tewas di tangan dire wolves malam ini...."
Yamarashi terbatuk, mengeluarkan sedikit darah dari mulutnya. Beberapa detik berselang, dia merespon pertanyaan adiknya sambil tersenyum.
"Hei, Senshi.... Kau pernah mengatakan ini, 'kan? Penjalinan relasi antara dua orang atau lebih cuma akan memberi beban dan penderitaan ketika salah satu dari mereka tiada, jadi lebih baik kita hidup dengan ikatan batin sesedikit mungkin."
"Menurutku, itu salah. Justru semakin hebat penderitaan batin saat orang yang menjalin relasi dengan kita tiada, artinya semakin besar pengaruh yang diberikan orang itu pada diri kita. Seberapa besar pengaruh tersebut dan seberapa banyak orang yang terkena pengaruhnya, itulah standar ukur nilai hidup seseorang."
"Sedangkan kau..., semenjak ayah dan ibu tiada, kau menjalani hidupmu dengan tidak membangun maupun mempererat relasi dengan sesama manusia selain aku. Kalaupun kau mati sekarang, paling-paling yang akan menangisimu cuma aku. Yamamura tidak akan berminat melakukannya sama sekali."
"Jadi..., hiduplah lebih lama lagi, Senshi. Untuk mengubah nilai hidupmu. Jangan lagi menolak untuk menjalin relasi dengan orang baru. Melangkahlah keluar dari masa lalu yang pahit, dan buatlah masa depan yang jauh lebih indah. Ikutlah dengan adventurer jenius itu. Jelajahi dunia luas di luar hutan ini dan hiduplah setidaknya sampai kau menemukan masyarakat yang bisa menerima dirimu."
"Tidak masuk akal." Senshi tertawa masam, berusaha menahan air matanya yang sudah menggenang di sudut mata. "Kenapa kau sampai sejauh ini demi orang sepertiku?"
"Kenapa... masih tanya?" Kini, giliran Yamarashi yang tertawa. Napas remaja berambut coklat cepak itu tinggal beberapa akibat darahnya yang terkuras banyak. "Alasannya simpel..., karena... kita adalah keluarga.... Tidak ada alasan lain."
Remaja itu kemudian membisikkan sesuatu sebelum akhirnya menutup mata dengan senyum damai di wajah. Nyawanya telah minggat dari raganya. Walau tak bisa mendengar kalimat terakhir kakaknya, tapi Senshi bisa membacanya dari pergerakan mulut. Kalimat itu berbunyi kira-kira demikian:
"Hiduplah semaksimal mungkin, Senshi."
To be continued
Udah lama gak nulis adegan chara wafat, sekalinya nulis lagi rasanya kayak ada truk yang nyangkut di tenggorokan, njir :'(
-Author YHLBlizzard