Purity Online - The World For The Fallens

Purity Online - The World For The Fallens
Day 61: Berpartisipasi atau Tidak (Part 1)



"Cepat!! Kita harus segera mengungsi!!"


"Kamp pengungsian sudah disiapkan, 'kan?"


"Sudah. Tebing yang berada 500 meter di barat daya. Tebing itu cukup tinggi dan di dekat jalan naiknya ada laut, 'kan? Itu bisa jadi benteng alami. Lagipula, empat batalyon pasukan sudah ditempatkan di empat arah mata angin."


"Jadi, sudah aman, ya?"


"Ya. Masalahnya adalah desa ini."


"Tenang saja. Pasukan keamanan pasti akan bisa melindunginya. Mereka tak mungkin membiarkan desa ini hancur bersama kenangan-kenangan indahnya."


"Tapi, lawannya pasukan 99 ras monster, lho!!"


"Sudah kubilang, tenang saja."


Begitulah bunyi dari obrolan para warga desa yang tengah bersiap untuk mengungsi. Reaksi mereka beragam. Ada yang panik dan ada pula yang tenang, akan tetapi tetap waspada. Yuukaru, Kakek Yurato, dan Otomura juga sedang bersiap untuk pergi mengungsi dan tengah mengepak barang masing-masing.


"Hei, di mana Ryugai?" tanya Yuukaru sambil mengepak barangnya.


"Barang-barangnya juga tidak ada," sahut Kakek Rato. "Apa dia sudah pergi duluan, ya?"


"Entahlah," sahut Otomura.


————————————————————


Sementara itu, Ryugai sedang duduk sendirian di tebing di timur. Tebing yang sama dengan yang didatanginya pada waktu bimbang antara ikut bertarung melawan Minotaur atau tidak. Ya, tebing tersebut adalah tempat merenung favoritnya. Disinari oleh cahaya rembulan, diterpa angin malam, dan dikelilingi oleh pemandangan alam membuat roda-roda gigi di otaknya yang sebelumnya macet kini berputar dengan lebih lancar. Kali ini, yang direnungkannya adalah ikut berpartisipasi dalam perang atau tidak.


"Haruskah ... aku berpartisipasi?"


Sebenarnya, dia bisa saja menunggu di kamp pengungsian. Aman, hangat, dilindungi oleh alam, tidak ada jeritan penderitaan, tidak ada kematian, dan tidak ada darah. Namun, dia tak bisa diam begitu saja. Dia adalah pahlawan yang berhasil mengalahkan Minotaur. Dia satu-satunya harapan bagi pasukan pelindung desa. Dia harus berpartisipasi. Ryugai tahu kalau ini semua hanyalah storyline dari sebuah game VRMMORPG. Semuanya hanyalah kumpulan data. Semua hanya NPC. Namun, tetap saja dia tak bisa membiarkannya. Meskipun hanya data, semua yang dia alami sejak datang ke dunia Purity Online tidak palsu baginya. Semuanya nyata. Keramahtamahan dan pengalaman-pengalaman yang ia alami serta pelajaran-pelajaran berharga yang ia dapatkan telah mengubah dirinya. Itu semua bukan kebohongan. Mungkin bagi orang lain itu palsu, tapi baginya pengalaman-pengalaman tersebut sangat nyata.


Waktu Ryugai untuk berada di dunia Purity Online tinggal dua hari lagi. Berarti dia harus menyelesaikan perang sebelum jam 00:00 pagi hari ke-64. Itu sulit, tapi jika dia berjuang dengan sekuat tenaga maka itu bukan tidak mungkin. Ryugai adalah satu-satunya All-Rounder di desa. Tak ada warga atau prajurit lain yang bisa menguasai banyak role sekaligus sepertinya. Otaknya sangat cerdas, gerakannya sangat gesit, akurasinya sangat tinggi, dan sekarang dia sudah menguasai banyak sihir serta semua tipe senjata setelah masuk dan belajar di Akademi Sihir Zanz. Ryugai sudah berkembang dengan amat pesat. Tak hanya kepribadiannya yang berkembang, tapi kemampuan dan potensinya juga.


"Baiklah, aku sudah memutuskan." Ryugai bangkit berdiri. "Aku akan berpartisipasi supaya aku bisa melindungi desa ini. Aku tak peduli walau semua ini palsu dan hanyalah kumpulan data. Aku harus melindungi kenangan-kenangan palsu itu!!"


Tepat setelah keputusan tercetus dari dalam pikiran Ryugai dan perenungannya berakhir, sebuah notifikasi sihir komunikasi muncul di hadapannya. Pemuda itu segera menyentuh layar sihir tersebut. Beberapa detik kemudian, wajah kepala prajurit terproyeksi di sana.


"Kok bisa ngepas gini, ya?" Ryugai membatin sambil terkekeh.


"Ryugai-sama!! Kami membutuhkan bantuan anda dalam perang kali ini!! Tolong berpartisipasilah!!"


"Ya, ya. Aku juga baru saja memutuskan untuk berpartisipasi. Aku juga heran kenapa timing-nya bisa ngepas begitu," sahut Ryugai.


"Tapi, bukan sebagai prajurit."


"Hm?" Alis Ryugai terangkat. "Terus sebagai apa, dong?"


"Ahli Strategi."


Ryugai terperanjat seketika. "HEEEEEEEEHHHH?!!!"


To be continued