Purity Online - The World For The Fallens

Purity Online - The World For The Fallens
[Season 2] Chapter 64: Sang Petarung Tunggal



Rembulan telah mencapai puncak langit, menunjukkan bahwa malam semakin larut, bahkan nyaris mencapai dini hari. Suara-suara serangga malam yang lirih terdengar, mendamaikan hati siapapun yang mendengarnya. Seekor burung hantu yang hinggap di cabang pohon tampak sedang memerhatikan awan-awan kelabu yang melintas perlahan di langit berwarna biru gelap.


Seluruh lampu di rumah kayu dua lantai milik Bushida bersaudara telah padam. Sepertinya semua orang di dalamnya sudah tidur, kecuali satu orang. Orang itu adalah sang adik, Senshi Bushida, yang sedang berdiri sendirian di sisi rumah yang berlawanan dengan letak ruang penyimpanan daging. Pedang peninggalan ayahnya menempel di pinggulnya dalam kondisi tersarung.


"Tidak ada lampu yang menyala sejak aku pertama kali menjejakkan kaki ke tanah di luar rumah. Sepertinya mereka masih ketiduran karena kelelahan sehabis bekerja tadi," ucap Senshi. "Yah, baguslah. Aku tidak mau ada orang lain yang terlibat dalam hal ini. Aku harus memastikan ucapan adventurer itu dengan kemampuanku sendiri."


"Aku bisa saja mati di tangan kawanan serigala itu pada malam ini. Tapi, tidak masalah. Setidaknya aku akan bisa mendapatkan jawabannya. Entah apakah jawaban itu sesuai dengan ekspektasiku atau tidak."


"Setelah pemimpin dire wolf pack-nya tewas kemarin, pasti serigala yang akan datang nanti jumlahnya lebih sedikit dari kemarin karena hierarki kawanan mereka sudah terpecah. Ada juga kemungkinan mereka absen merampok hasil buruan kami untuk beberapa hari demi menstabilkan kembali kawanannya. Namun, tetap saja maju ke medan pertempuran tanpa strategi dan persiapan adalah tindakan yang bodoh."


Senshi menyandarkan punggungnya ke dinding sambil melipat kedua lengannya. Alisnya yang menekuk dan keningnya yang mengerut menandakan bahwa dia tengah berpikir keras.


"Aku tidak yakin kemampuan penyusunan strategiku bisa menandingi adventurer itu, sih..., tapi aku harus mencobanya."


Remaja berambut hitam tersebut menatap ke rerumputan yang terbentang di dekat kakinya. Sesekali dia mengibaskan tangannya untuk mengusir nyamuk-nyamuk haus darah yang mulai menghampiri tubuhnya. Mendadak, ia mendapat sebuah ide.


"Benar juga. Aku mungkin bisa menggunakan strategi buatan Yamamura yang kudapat dari cerita kakak sebagai referensi."


"Mulai dari sini, aku akan mencoba memulai kembali hidupku."


"[Game Start]- Tidak..., kurasa ini lebih seperti [Game Restart]."


"Apakah kali ini aku akan bisa melakukan [Game Change]?"


 ------------


Satu jam kemudian....


Suara lolongan serigala terdengar dengan nyaring, menyiratkan bahwa kawanan dire wolf itu sedang bersiap-siap untuk melakukan serangan.


"Itu mereka," batin Senshi sambil mengeratkan genggaman kedua tangannya pada gagang pedang dan menyiapkan kuda-kuda bertarungnya. Keringat dingin mulai mengalir turun di keningnya. Saat ini, dia sudah berada tepat di depan ruang penyimpanan daging, menunggu kedatangan para dire wolf.


"Ternyata mereka gigih juga. Padahal baru kemarin pemimpin kawanannya terbunuh bersama separuh pasukan penyerbu."


"Baiklah. Tak perlu panik walau harus menjadi petarung tunggal. Aku cuma perlu bertarung dengan mengikuti rencana. Persoalan menang atau kalah adalah urusan nanti. Kalaupun aku kalah dan terbunuh, setidaknya jawabannya akan tetap kudapatkan."


Suara-suara geraman dan gonggongan menggema di kejauhan, semakin lama semakin mendekat. Jantung Senshi berdebar semakin keras dan kedua kakinya mulai gemetaran. Gambaran jasad kedua orangtuanya kembali terlintas di benaknya.


"Apa yang kau takutkan, Senshi?! Kau sudah sering melakukan ini dulu. Kenapa baru sekarang kau takut mati?" ucapnya dalam hati, berusaha meyakinkan dirinya sendiri.


"Nah, sekarang. Majulah kalian!!"


Tabir kegelapan tersingkap, memperlihatkan para serigala yang langsung menerjang maju dengan buas sambil menggonggong dengan keras. Beberapa dari mereka memiliki bekas luka hasil pertarungan sebelumnya. Jumlah serigalanya memang lebih sedikit daripada kemarin malam, tapi kali ini mereka terlihat lebih dipenuhi amarah.


"Sudah kuduga, kematian pemimpin akan menimbulkan perpecahan di dalam kawanan kalian. Ada yang setuju untuk terus merampok dan ada juga yang memilih mencari sumber makanan lain," ujar Senshi.


"Tapi, kelihatannya amarah yang muncul karena Sang Pemimpin terbunuh bersama banyak anggota kawanan membuat kalian lebih bernafsu untuk menghabisi aku, kakakku, dan adventurer muda berambut emas itu. Ini akan sangat merepotkan."


"Maaf, ya. Saat ini, lawan kalian semua cuma aku."


Lima ekor serigala yang berada di garis depan langsung membentuk formasi lingkaran, lalu menyerbu Senshi secara bersamaan. Namun, dengan kecepatan tinggi pemuda itu menendang serigala pertama, membiarkan serigala kedua dan ketiga bertabrakan, lalu menyabet mata serigala keempat dan kelima untuk membuat keduanya buta.


"Langkah yang tepat," batinnya. "Kalau aku melompat ke atas, memang akan lebih mudah menghindari serangan lima serigala pertama. Tapi pergerakanku bakal jadi terbatas. Serigala-serigala lainnya pasti akan memanfaatkan kesempatan itu."


Serigala lain mencoba menerkam Senshi dari belakang, tapi lehernya segera teriris oleh mata pedang Senshi yang tajam. Dia terjatuh dan menggeliat sambil menggeram kesakitan. Hal terakhir yang dilihatnya sebelum meregang nyawa adalah sepasang mata Senshi yang memancarkan tatapan serius.


"Hal lain yang juga patut diperhatikan saat bertarung sendirian adalah mempertajam indra. Dan yang terpenting, jangan biarkan pedangmu tertancap jika kau merasa akan kesulitan mencabutnya. Selama pedangmu rajin diasah, sabetan maut sudah cukup."


Remaja berambut hitam kelam tersebut baru saja ingin bernapas sejenak ketika serigala kedua dan ketiga yang tadi bertabrakan melaju kencang ke arahnya dengan pandangan mata yang buas serta gigi-gigi setajam belati yang dibasahi air liur. Rambut di sekujur tubuh yang ditegakkan menandakan agresivitas kedua serigala tersebut dengan jelas.


"Mereka memang tidak ada habisnya," batin remaja itu.


Dia pun melanjutkan pertarungannya. Pedangnya yang tajam terus mengayun ke sana kemari, mencabut nyawa para canine besar itu bagaikan sabit malaikat maut. Jumlah serigala yang datang malam ini memang hanya seperempat dari jumlah serigala yang datang kemarin malam. Akan tetapi, keberingasan mereka membuat jumlahnya seolah bertambah menjadi dua kali lipat sehingga lama-kelamaan ia pun kewalahan.


Sambil mengatur napasnya dengan susah payah, Senshi mengelap keringat di pelipisnya memakai pergelangan tangan. Sementara itu, dire wolves yang mengerumuninya masih berdiri dalam diam, bersiap melancarkan serangan berikutnya. Cakar yang menempel di tepi bantalan telapak kaki mereka mulai menggores tanah.


"Kurasa ini waktunya menggunakan strategi itu," batin Senshi.


Dia melompat ke samping, menjauhi kawanan serigala yang sedang dihadapinya. Sekarang, ia berada semakin jauh dari halaman rumah yang remang-remang dan semakin dekat dengan kegelapan hutan yang mencekam.


"Nah, permainan berburu raja dimulai!!"


To be continued


Akhirnya Senshi debut juga setelah sekian lama AFK. Mampukah dia menandingi kelicikan kawanan dire wolf? Temukan jawabannya di chapter berikutnya.


Jangan lupa untuk vote dan comment, sampai jumpa lagi 🐦