
"Jadi ini ... kekuatan Nightmare Reindeer Rudolf yang sebenarnya? Kekuatan yang membuatnya dijuluki sebagai monster dan ditakuti oleh orang-orang ...."
"Kekuatan mimpi buruk!!"
Tawa jahat Rudolf terus terdengar, semakin lama semakin keras. Sekarang suara tawa tersebut terdengar dengan sangat nyaring, seolah-olah sang monster rusa tengah tertawa tepat di samping lubang telinga Yamamura. Rusa jadi-jadian itu bangkit berdiri dan otot-otot kekar muncul di tubuhnya. Gigi taring mencuat keluar dari mulutnya dan kuku-kuku setajam belati muncul dari tapal di kakinya.
"Tidak ..., ini semua pasti tidak nyata ...." Yamamura berusaha meyakinkan dan memberanikan dirinya sendiri meskipun sebenarnya hatinya kecut dan wajahnya masih pucat pasi.
"Ini semua tidak mungkin terjadi ...."
"Ini pasti cuma mimpi buruk!! Ya, aku pasti cuma bermimpi!! Mungkin dia sedang menghipnotisku atau semacamnya. Aku ... harus cepat-cepat keluar dari alam ilusi ini!!"
"Tapi ..., bagaimana caranya?! Aku sama sekali tidak tahu!! Aku bahkan tidak tahu apakah ini mimpi atau kenyataan."
"Apa ini nyata? Apa ... aku akan mati di sini? Tidak ..., aku tidak mau itu terjadi!!"
"Hahahaha. Wajah ketakutanmu itu sangat menggemaskan!! Aku jadi ingin merobeknya dengan taring dan cakarku ini," gertak Rudolf.
"Diam kau!!" hardik Yamamura sembari terus berusaha menyembunyikan rasa takutnya.
"Masih bisa menghardikku, ya? Hebat juga. Biasanya lawanku yang lain mungkin sudah shock, pingsan, atau yang paling parah, kena serangan jantung dan tewas di tempat."
"Diam!! Menjauhlah!!!" seru Yamamura. Ia melempari Rudolf dengan salju.
"Oh, kelihatannya kau sudah sangat ketakutan sampai tidak bisa berpikir. Mengecewakan. Padahal kupikir mentalmu lebih kuat sedikit. Kupikir kau berbeda dari para adventurer yang lain. Ternyata sama saja. Membosankan."
"Diam!! Jangan mendekat!! Pergilah!!!" seru Yamamura. "KUBILANG PERGI!!!"
"Aku ... sudah mati, ya?" batin bocah itu. "Tunggu dulu. Kenapa aku tidak merasakan sakit sedikitpun?"
Beberapa saat kemudian, bocah berambut keemasan tersebut terbangun di sebuah kamar. Dia mengenal baik kamar itu. Ya, itu adalah kamarnya. Berarti, ia sedang berada di rumahnya. Langit sore membentang di luar jendela. Cahaya matahari tak lagi seterik dan seterang siang. Tak jauh darinya, seorang anak berambut biru sedang duduk. Ya, anak itu adalah adiknya, Aojin.
"Oh, kau sudah selesai bermain, kakak?" tanya Aojin sambil tersenyum. "Selamat datang kembali di dunia nyata. Apakah game-nya menyenangkan?"
"Dunia ... nyata?" Yamamura menatap sekelilingnya dengan wajah yang menyiratkan kebingungan. "Apakah sebenarnya aku tidak pernah terjebak di dunia Neironius Online? Apa semua itu cuma mimpi buruk? Mungkin memang begitu ..., tapi kok rasanya ada yang aneh."
"Kalaupun memang mimpi buruk, lantas bagaimana aku bisa ter-logout dari game VRMMORPG itu? Apakah karena force close? Tidak .... Kalau memang itu benar, harusnya aku sudah terbangun dari tadi karena BeltSphere Diver diprogram untuk segera mengirimkan sinyal ke tubuh asli pemain begitu koneksi antara saraf tulang belakang dan otak dengan sistem produsen sinyal manipulator dari gear terputus." Dia memicingkan matanya, berpikir dengan keras.
(Author: Masih kecil, tapi jalan pikiran udah luas begitu. Mantap memang si Yamamura.
Ryugai: Woiya, dong. Anak siapa dulu πππ
Author: Dih geer _-" Padahal kan yang buat charanya saya)
"Ada apa, Kak?" tanya Aojin, menarik kembali kesadaran kakaknya itu ke alam nyata. "Kenapa kakak terlihat kebingungan dan panik begitu? Kakak baik-baik saja, 'kan?"
"Ah, tidak ada apa-apa. Aku baik-baik saja, kok," sahut Yamamura.
"Kurasa sekarang bukan saat yang tepat untuk mengungkapkan semua kecurigaanku ...."
To be continued