Purity Online - The World For The Fallens

Purity Online - The World For The Fallens
Day 63: Heart Battle 1 (Part 11)



"Pada saat itu, aku sempat berpikir ...."


"Seandainya saja, hari-hari kami akan indah dan berwarna-warni seperti ini selamanya ...."


"Tapi, ternyata kedamaian ini adalah awal dari sebuah badai petir."


"Aku tak pernah menduganya."


"Bahwa di tahun itu juga."


"Aku akan kehilangan ... hartaku yang paling berharga ...."


"Semuanya dimulai pada musim gugur."


"Pada suatu hari, keadaan Iruna mendadak memburuk, dan aku bergegas membawanya ke rumah sakit, tak peduli aku punya uang untuk membayar biaya pengobatannya atau tidak."


"Ini ternyata tak sesimpel yang kubayangkan."


"Ada kesalahan diagnosa. Dokter bilang kalau tabrakan itu bukan hanya mengakibatkan kelumpuhan sementara, melainkan juga melahirkan komplikasi-komplikasi yang berbahaya."


"Dia tampak sangat menderita, dan dari hari ke hari kondisinya semakin memburuk."


"Aku hanya bisa berdoa dan berharap semoga dia selamat."


"Meski sebenarnya aku sudah nyaris putus asa."


"Beberapa bulan kemudian, musim dingin tiba, dan salju telah memenuhi seluruh penjuru kota. Orang-orang bergembira karena hari natal sebentar lagi akan tiba. Lagu 'Jingle Bell' terus berputar di jalanan dan pohon natal berhiaskan lampu-lampu indah berwarna-warni terpasang di berbagai tempat. Suasananya sangat meriah, mencerminkan kebahagiaan. Benar-benar berbanding terbalik dengan suasana hatiku saat itu."


"Kondisi Iruna semakin memburuk. Dia masih belum sadarkan diri. Nyawanya sedang berada di ujung tanduk. Dokter bilang dia bisa diselamatkan dengan jalur operasi, tapi biayanya terlalu besar. Aku hanya bisa berharap, semoga Sinterklas memberi kesembuhan bagi Iruna sebagai hadiah natal kami."


"Hari-hari terus berlalu. Berbeda dengan sebelumnya, kali ini waktu dan pergantian hari seakan berlalu dengan sangat lambat."


"Hari ini adalah tanggal 24 Desember. Malam natal. Kuharap ada keajaiban yang terjadi pada malam ini. Sebuah keajaiban yang bisa menyembuhkan Iruna. Layaknya di film-film dan drama fantasi."


Iruna membuka kedua matanya. Ia kini berada di sebuah ruang hampa yang amat gelap dan dingin. Sekujur tubuhnya mulai menggigil seolah berada di tengah badai salju. Kebingungan menghampiri jiwanya.


"Kakak?" Ia menolehkan leher mungilnya ke kiri dan kanan. Kepanikan mulai tersirat di wajahnya. Dipandangnya bagian bawah dari tubuhnya. Tampak ia sedang berdiri tegak dengan kedua kaki yang harusnya gontai itu menopang tubuhnya dengan kokoh. Itu membuatnya terkejut.


"Eh? Aku ... bisa berjalan?"


"Kakak?" Gadis kecil tersebut mulai berlari ke sembarang arah secepat yang ia bisa, mencari sosok kakaknya. "Kakak di mana? Kakak? Kakak?!"


Namun, kelihatannya itu adalah usaha yang sia-sia. Ke manapun dia mencari, sosok kakaknya sama sekali tak dia temukan. Ia jatuh tersungkur. Keputusasaan mulai menguasai hatinya. Air mata menggenangi sudut matanya dan mengalir turun melewati pipinya. Dia tersenyum miris.


"Aku ... sudah tiada, ya?"


"Apa ... aku gagal selamat dari komplikasi-komplikasi itu?"


"Apa aku akan meninggalkan kakak untuk selamanya?"


"Kekhawatiranku selama ini ternyata benar." Air mata semakin deras mengaliri wajah kecilnya. "Aku tidak berhasil sembuh dari penyakitku. Aku gagal. Selama hidupku, aku hanya menjadi beban kakak. Aku hanyalah adik yang tidak berguna."


"Sekarang, aku sendirian lagi, dan kali ini untuk selamanya."


"Maafkan aku, kakak."


"Ya! Ya! Teruslah berputus asa!! Itu membuatku menjadi semakin kuat." Sebuah suara nyaring menggema dari balik kegelapan, disusul oleh sepasang mata merah menyala. Gorden kegelapan tersibak beberapa detik kemudian, menampakkan wujud asli dari pemilik mata itu. Sebuah sosok yang sama persis dengan Iruna, hanya saja sekujur tubuhnya terdiri dari bayangan hitam.


"Siapa kau?" Tatapan Iruna yang tadinya sendu mulai berganti menjadi waspada.


"Aku adalah kepribadian yang timbul dari tumpukan keputusasaanmu. Karena tidak memiliki tubuh, aku tinggal di dalam tubuhmu dan menyerap harapan dari hatimu perlahan-lahan," jawab sosok tersebut.


"Ini adalah alam bawah sadarmu. Alam imajinasi. Di mana eksistensi kami yang tidak memiliki wadah bisa menampakkan diri." Kedua mata merahnya bersinar terang. "Namaku ... adalah Despair."


To be continued