
"Apa maksudnya ini? Sang Penerawang? Sang Pencipta? Aku sama sekali tidak mengerti." Yamamura menggaruk-garuk kepalanya kebingungan.
"Lalu, apa yang harus kulakukan dengan simbol-simbol ini?"
Ia menyentuh salah satu simbol dengan jari telunjuk dan pinggiran dari simbol tersebut langsung bersinar.
"Eh?"
Bocah tersebut mencoba menggeser jarinya dan simbol itu ikut tergeser. Sebuah pemecahan seketika terlintas di otaknya.
"Pi-Pintu dan simbol-simbol ini ... berfungsi layaknya touchscreen?!"
"Menyatukan langit .... Matahari, petir, bulan, dan bintang, semuanya ada di langit. Apa ini artinya aku harus mengumpulkan semua simbol?"
Dengan jari telunjuknya, Yamamura mengumpulkan semua simbol itu di satu tempat. Sebuah lingkaran cahaya langsung muncul dan mengelilingi simbol-simbol itu. Lingkaran tersebut terdorong ke depan dan menjadi menonjol sehingga bisa dicabut. Yamamura mencabut lingkaran itu dan memandanginya. Senyum puas terukir di wajahnya.
"Jadi ini yang dimaksud dengan 'menyatukan langit.' Baiklah, selanjutnya adalah petunjuk kedua, yakni menantang dan mengalahkan Sang Penerawang."
"Tapi ..., siapa yang dimaksud dengan 'Sang Penerawang' di sini?" Yamamura berpikir keras sembari berpose layaknya seorang detektif.
"Simbol yang satu dengan simbol yang lain biasanya saling berkaitan. Simbol matahari, bulan, bintang, dan petir di sini adalah lambang dalam peradaban Mesir Kuno. Hmmm ...."
"Mesir Kuno, ya? Sang Penerawang ... artinya dia yang melihat segalanya dan maha mengetahui. Melihat segalanya ...."
Otak jenius Yamamura seketika menemukan penyelesaian yang brilian.
"Melihat segalanya ..., All-Seeing Eye ..., mata Dewa Horus!!!"
Secara refleks, bocah cerdas itu menjentikkan jarinya. "Itu dia!!!"
"Tapi, memangnya di sini ada simbol yang berkaitan dengan Dewa Horus?" Yamamura mencoba mengingat-ingat kembali simbol-simbol dan patung-patung yang dilewatinya di lorong dungeon tadi.
"Ah, iya!! Patung dan simbol itu!!!"
Tanpa membuang waktu lagi, Yamamura berlari menghampiri patung Dewa Horus dan simbol mata Horus yang tadi dilewatinya. Untungnya, patung dan simbol tersebut berjarak tidak terlalu jauh dari pintu besar tadi.
"Tunggu, pola ini .... Jangan-jangan ...."
Yamamura mendekati senjata yang digenggam oleh patung Dewa Horus dan mengamati ujung senjatanya dengan teliti. Bentuk ujung senjata itu mirip dengan bentuk lubang di simbol mata Horus yang tertempel di dinding.
"Menantang ... dan mengalahkan Sang Penerawang?"
"Bentuk ujung senjata dan lubang yang sama ...."
"Oh, aku tahu!!" Yamamura menjentikkan jarinya sekali lagi. "Pasti maksudnya aku disuruh mengambil senjata patung ini dan menusukkannya ke lubang di lambang mata Horus!! Ujung senjata itu berfungsi sebagai kuncinya!!"
Ia mencoba merebut senjata itu dari tangan patung Dewa Horus dan berhasil!! Senjata Horus sudah berada di tangannya sekarang. Yamamura tersenyum jahil bagaikan seorang detektif yang baru saja menyadari trik yang digunakan oleh pelaku pembunuhan, kemudian menusukkan senjata itu ke lubang di lambang Eye of Horus. Mata Horus bergeser perlahan dan terbuka layaknya pintu.
"Analisisku tepat!!" ucapnya dengan bangga.
Yamamura memasuki ruangan itu. Ruangan yang gelap dan hanya diterangi oleh beberapa obor. Patung Dewa Mesir Amon-Ra seukuran manusia dewasa tampak berdiri dengan tegak di sana, menempel di dinding.
"Amon-Ra, Dewa Pencipta Semesta dalam mitologi Mesir Kuno. Jadi ini, toh, yang dimaksud dengan 'Sang Pencipta.'" Yamamura mengangguk-anggukkan kepalanya sembari mencari tempat untuk meletakkan lingkaran berisi simbol-simbol benda langit. Karena tubuhnya yang pendek, dia langsung menemukan tempat menaruh simbol yang ternyata berada di dinding di antara kedua kaki sang patung.
"Begitu, ya!! 'Mempersembahkan dengan penuh rasa hormat' artinya dengan berlutut!! Memang, letaknya di bawah sehingga pasti akan lolos dari jangkauan mata orang dewasa jika melihatnya sambil berdiri tegak. Untung saja tubuhku pendek."
Yamamura segera meletakkan lingkaran batu berisi simbol-simbol itu di pola di dinding tadi, dan berhasil masuk dengan pas. Ruangan itu bergetar, menandakan bahwa pintu boss room tadi sudah mulai terbuka.
"Sudah terbuka, ya?" Yamamura tersenyum penuh semangat. Disiapkannya busurnya. Ia segera melangkah meninggalkan ruangan dan menuju pintu besar tadi.
"Aku datang, dungeon boss!!!"
To be continued
Next Chapter:
[Season 2] Chapter 25: Sang Boss Yang Sebenarnya