Purity Online - The World For The Fallens

Purity Online - The World For The Fallens
Day 2: Sang Pahlawan (Final Part of Day 2)



"Sial!!!" gerutu Otomura sambil bertumpu di ranting yang berada di puncak salah satu pohon. Sekujur tubuhnya gemetaran. Di depan kedua mata kepalanya sendiri, tersaji pemandangan yang mengerikan. Jasad-jasad prajurit bertebaran. Mereka tak bisa mendekat melebihi jarak 10 meter dari raksasa berkepala banteng itu. Para pemanah mencoba membidik matanya, yang merupakan kelemahan dari monster itu. Namun, Sang Minotaur dengan mudah menangkis dan menghempaskan semua anak panah itu ke tanah berlapis rerumputan, atau menangkapnya dengan telapak tangan dan langsung menghancurkannya menjadi serpihan-serpihan kayu dan logam. Beberapa magic caster mencoba menyerangnya dengan sihir, tapi tampaknya Minotaur itu dilindungi oleh semacam barrier anti-sihir.


"Matanya itu benar-benar sensor senjata, ya?" Kepala prajurit yang juga berperan sebagai pemanah dalam pertempuran kali ini melompat mundur dari dahan pohonnya ke puncak pohon yang ditempati Otomura, berdiri di samping pria berambut keemasan itu. Para pemanah dan magic caster ditempatkan di puncak pohon agar lebih leluasa memanah dan merapalkan sihir, sementara para petarung jarak dekat ditempatkan di bawah. "Sial .... Padahal gerakannya sudah terhenti, tapi kita tak bisa memancingnya untuk pergi dari hutan selatan ini."


Mendadak, suara langkah kaki terdengar dari belakang. Dedaunan rimbun dari pohon yang tengah dijadikan tumpuan oleh Otomura dan kepala prajurit bergoyang. Dari balik tumpukan daun hijau itu, sosok seorang pria muda berambut biru acak-acakan melompat keluar, kemudian bertumpu di puncak pohon. Kedua mata pemuda itu menatap tajam ke arah Sang Raksasa Banteng. Sebuah busur tergenggam di tangan kanannya dan kantung rotan berisi anak-anak panah tergantung di punggungnya. Senyum khas pahlawan terukir di bibirnya. "Maaf, apa aku terlambat?"


"Ryugai!! Sudah kuduga, kau takkan membiarkanku bertarung sendirian!!" Otomura berseru sembari tersenyum riang.


"Jangan salah paham. Aku cuma datang ke sini karena merasa tidak enak hati meninggalkan kalian yang sedang bertarung," sahut Ryugai. "Anggap saja ini balas budiku karena kalian sudah banyak membantuku."


"Hei, katamu tadi kau tidak akan pernah membalas budi?" Otomura menyikut bahu Ryugai. Pemuda berambut biru itu nyaris tersedak, termakan omongannya sendiri.


"Diam, ah." Ia memalingkan wajahnya.


"Jangan membohongi dirimu sendiri, Ryugai."


"Berisik. Sepulangnya kita nanti, akan kubunuh kau."


"Coba saja kalau bisa ...."


"Ngomong-ngomong, apakah Minotaur itu dilindungi barrier anti-sihir? Dari tadi sihir yang dilancarkan ke arahnya tak ada yang kena." Ryugai menatap lurus ke arah Sang Minotaur.


"Ya," sahut Otomura. "Area dalam radius 10 meter di sekitarnya adalah area anti sihir. Sihir tidak akan bekerja di sana."


"Termasuk sihir inventory?" tanya Ryugai.


"Tidak tahu. Mana ada yang pernah mencoba. Tidak ada yang sebodoh itu," sahut kepala prajurit. "Lagipula apa gunanya sihir inventory saat bertarung melawan Minotaur?"


Seolah mengabaikan pertanyaan kepala prajurit, Ryugai menoleh ke arah Otomura dan bertanya: "Apa kau bisa menggunakan sihir inventory sekarang?"


"Bisa," sahut Otomura sambil memunculkan lingkaran sihir berwarna biru muda yang kemudian menjelma menjadi lubang dimensi. Ryugai memasang anak panahnya di tali busur, kemudian memasukkan busur yang telah berada dalam posisi siap menembak itu ke dalam inventory. "Inventory adalah penyimpanan dimensi hampa. Dengan kata lain, busur ini juga takkan menembakkan anak panah sebelum keluar dari dimensi hampa ini, 'kan? Karena waktunya terhenti."


"Be-Benar juga ...," sahut Otomura sambil menutup lubang dimensi inventory.


"Tunggu!!" Kedua mata Otomura membelalak. Kepala prajurit juga tampak terkejut. Dua orang itu baru saja menyadari rencana Ryugai. "Jangan bilang kau mau-"


"Ya," sahut Ryugai. "Kujamin rencana ini pasti akan berhasil."


"Tapi, kita tidak tahu apakah area itu hanya peka pada sihir bertipe offense saja atau pada semua jenis sihir!!! Kalau salah sedikit saja, nyawamu bisa melayang, loh!!" cegah kepala prajurit. "Lagipula, kalau kau mendekatinya lebih dari radius sepuluh meter, itu sama saja bunuh di-"


Ucapan kepala prajurit itu terpotong. Belum sempat ia menyelesaikan ucapannya, Ryugai telah terlebih dulu melompat dari satu pohon ke pohon lainnya, mendekati monster berkepala banteng yang tengah berdiam diri entah karena apa. Pemuda itu mulai memasuki radius sepuluh meter di sekitar Minotaur, tapi tampaknya Minotaur itu sama sekali tak menyadari keberadaannya.


"Sudah kuduga," ujar Ryugai sambil tersenyum, merasa puas akan keberhasilan rencananya. "Dari awal aku sudah curiga, sejak Otomura mengatakan kalau kedua matanya yang berwarna merah menyala seperti buah stroberi itu bagaikan sensor senjata. Dari awal, matanya tidak diprogram untuk melihat ke sekeliling. Dengan kata lain, Minotaur ini sebenarnya buta!! Dia bisa mengetahui keberadaan musuhnya dengan mendeteksi unsur logam dari senjata-senjata yang dibawa oleh para prajurit!! Dia memang tidak memiliki mata, tapi memiliki sensor senjata di sistem otaknya!!"


"Developer dari game ini cerdas juga. Dia menggunakan trik psikologis di mana tidak mungkin ada orang yang menghampiri monster berbahaya tanpa membawa senjata. Orang-orang desa itu tidak menyadari kalau sebenarnya dengan menggunakan tangan kosong saja justru mereka akan bisa menghabisi Minotaur ini!! Hmp. Terkadang hal yang meragukan serta dianggap tindakan bodoh dan tidak masuk akal justru bisa menjadi solusi, ya?"


"Sekarang, masalahnya adalah apakah Minotaur itu peka terhadap semua jenis sihir atau hanya sihir bertipe ofensif saja. Aku harus mencari tahu dengan cara menjadikan diriku sendiri sebagai kelinci percobaan, meski itu berarti nyawaku menjadi taruhannya!!!" seru Ryugai sambil melompat ke bahu Sang Monster, kemudian memanjat hingga ke puncak kepala dari Minotaur itu.


Notifikasi sihir komunikasi muncul di sebelah Ryugai, menampilkan wajah Otomura. "Ryugai? Haruskah kubuka lubang dimensi inventorynya sekarang?" tanyanya.


"Ya. Buka saja," sahut Ryugai sambil menghela napas lega karena rupanya tebakannya benar. Barrier anti-sihir yang mengelilingi Minotaur itu hanya peka terhadap sihir tipe ofensif. "Minotaur ini sebenarnya buta dan tuli. Satu-satunya indra yang ia miliki adalah sensor logam di otaknya. Dia melindungi dirinya dengan kekuatannya yang destruktif dan barrier anti-sihir yang ia pasang dalam radius 10 meter di sekitar tubuhnya. Namun, kelihatannya dia hanya memprogram barrier itu untuk meredam fungsi sihir tipe ofensif. Buktinya, kita bisa dengan leluasa menggunakan sihir komunikasi ini di sini tanpa dia sadari, 'kan?"


Otomura tersenyum. "Jadi rupanya tindakan yang mustahil adalah solusinya, ya?"


"Daripada kuliah, lebih baik kau cepat buat lubang dimensi inventory tepat di depan mata Minotaur itu dan keluarkan busur tersebut dari inventory-mu!! Nanti dia keburu bergerak lagi," sela kepala prajurit.


"Ah, baik," sahut Otomura. Pemuda itu langsung memunculkan lubang dimensi inventory di depan mata kiri Sang Minotaur. Karena dimensi hampa bertemu dengan dimensi non-hampa, dimensi hampa itu pun terisi oleh waktu dan ruang sehingga waktu kembali berjalan. Dengan cepat, anak panah yang terpasang di tali busur milik Ryugai melesat dan menusuk tepat di mata kiri Minotaur itu. Raksasa tersebut sempat mendeteksi adanya benda yang mengandung unsur logam yang tengah melesat ke arah matanya, tapi sudah terlambat. Sebelum ia sempat melakukan apapun, nyawanya sudah terlebih dahulu minggat dari tubuhnya. Anak panah tadi menghabisinya dalam sekejap, membuat tubuh perkasa itu langsung tumbang menimpa pepohonan rimbun di hutan selatan. Raungan nyaring terdengar disusul oleh suara benturan keras.


Suasana hening selama beberapa saat, sebelum akhirnya kesunyian itu digantikan oleh sorakan dari seluruh petualang dan pasukan keamanan. Semua prajurit dan petualang yang berada di sana segera menghampiri Ryugai yang sedang berdiri di atas jasad Minotaur tadi.


"Kerja bagus, anak muda," ucap kepala prajurit sambil meraba bahu Ryugai. "Kau adalah pahlawan. Aku harus segera memberitahukan kabar baik ini kepada kepala desa yang sekarang sedang mengurus pengungsian di utara."


"Tidak kusangka, kau ternyata jenius juga!!!" Otomura menepuk punggung Ryugai dengan keras, membuatnya mengaduh kesakitan.


"Sakit, tahu!!!" ketus Ryugai.


"Hei, begitu saja sakit?"


"Kau ingin coba juga?!"


*plak!!!*


"Aduh, sakit!!!"


"Sakit, 'kan?"


"Tapi bercanda, weeee ...."


"Kau mengajakku berkelahi?!"


"Ayo!!"


"Haaahh ..., dasar anak-anak muda zaman sekarang ...."


Suasana di hutan selatan pada malam hari itu dipenuhi oleh sorakan kemenangan yang berpadu dengan canda tawa dari Ryugai dan Otomura. Ya, tawa. Untuk pertama kalinya sejak hari itu, Ryugai bisa kembali tertawa terbahak-bahak dengan wajah riang.


"Jadi, ini rasanya menjadi seorang pahlawan ...."


"Ayah, ibu, kakak ...."


"Tampaknya ..., hatiku yang tadinya mati telah hidup kembali."


To be continued