Purity Online - The World For The Fallens

Purity Online - The World For The Fallens
Day 45: Pengakuan (Final Part of Day 45)



Fajar baru saja datang. Cahaya kemerahan masih mewarnai langit. Jam masih menunjukkan pukul 05:45. Namun, anak-anak kelas Teknik Sihir Perburuan dan Pertarungan telah berdatangan ke sekolah. Wajar saja, karena kelas mereka mulai jam enam. Salah satu di antara murid-murid yang berdatangan itu adalah Genbu Mikazaki. Ia datang dengan perasaan takut bercampur puas. Puas karena akhirnya berhasil membalaskan dendamnya kepada Ryugai, tapi takut ketahuan oleh polisi dan kemudian dipenjara. Senyumnya tak tertahankan lagi. Tawa penuh kemenangan mulai terlontar dari mulutnya. Namun, tawa tersebut segera terhenti begitu seorang pria berseragam polisi menghentikannya.


"Maaf. Bisa ikut saya sebentar?"


Genbu menjadi panik. Tanpa pikir panjang, ia melemparkan tasnya hingga membentur wajah sang polisi dan menghalangi pandangan polisi tersebut. Cepat-cepat pemuda itu lari ke arah yang berlawanan. Satu polisi menghadangnya dan berhasil ia singkirkan menggunakan tinju naga kegelapan. Namun, polisi-polisi lain sudah mengepung dari segala arah dengan pistol sihir tergenggam di tangan.


"Menyerahlah. Kau takkan bisa lari. Kau tak bisa melakukan sihir peledak tanpa tongkatmu, 'kan? Sekarang tongkat sihir itu ada di lokermu yang sedang dijaga ketat oleh anggota-anggota kami. Lebih baik jangan melawan dan ikut kami ke ruang operasi SSL. Mungkin hukumanmu bisa jadi lebih ringan," ucap inspektur.


Genbu tertunduk. Dengan perasaan takut bercampur malu, ia melangkah dengan dikawal oleh kawanan polisi tadi menuju ruang SSL. Sesampainya di sana, tampak Ryugai sedang terduduk di kursi menanti kedatangannya. Perban membalut luka-luka di tubuhnya.


"Ryu ..., Ryugai ...."


Ryugai menunjukkan kertas hitam bergambar jejak sol sepatu milik Genbu. "Bagaimana? Kau mau mengaku? Atau perlu dilakukan pencocokan bentuk sol sepatu?"


Genbu kembali tertunduk lesu. "Tidak .... Tidak perlu."


"Jadi, memang kau yang melakukan ini?"


"Ya ...."


"Tapi kenapa, Genbu? Aku tahu kalau kau benci kepadaku, tapi aku tak tahu kalau kau akan berbuat sejauh ini."


"Karena ... aku tak ingin tenggelam di balik bayang-bayang ...."


"Hm?" Alis Ryugai terangkat.


"Sebenarnya, saat baru masuk ke Akademi Sihir ini, aku terus-menerus menjadi korban perundungan. Aku sudah melapor kepada guru, tapi tampaknya popularitas dan prestasi mereka membuat guru-guru tak mau bertindak. Hari-hariku dipenuhi oleh penderitaan. Kemudian, aku menyadari bahwa untuk bisa mencapai kebahagiaan dan kepuasan abadi, aku harus berada di bagian teratas dari ekosistem sekolah ini. Aku berlatih dengan sangat keras. Aku bahkan menjadi pemenang Turnamen Maximus Potentia tahun lalu. Kutebarkan pengaruh dan kekuasaanku dengan cara melakukan hal yang sama dengan para perundung itu. Kejam? Aku tidak peduli. Pada akhirnya, keadilan hanyalah sampah. Yang ada hanyalah kepuasan abadi bagi para penjahat dan penderitaan abadi bagi orang-orang benar. Untuk bisa mencapai kebahagiaan abadi dan menjadi kuat, aku harus berada di posisi teratas. Dunia ini keras. Kau tak bisa bertahan jika kau tidak menodai dirimu sendiri."


"Kemudian, kau datang. Kau mengambil semuanya dariku. Popularitas, posisi terdepan, dan semuanya. Dan sekarang bahkan kau ingin mengambil posisi juara pertamaku di turnamen. Aku tak bisa diam saja. Kalau dibiarkan, aku pasti akan lenyap ditelan oleh bayang-bayangmu ..., karena itu ..., aku ...."


"Aku ... tak ingin kau mengambil kekuatanku .... Aku tak ingin kembali ... ke hari-hari itu ...."


Ryugai tersenyum iba. Kisah pemuda ini hampir sama dengan dirinya. Melihat remaja yang senasib dengan dirinya menangis terisak-isak cukup menyayat hatinya. Ia mendekat, kemudian diletakkannya tangannya di bahu Genbu.


"Jadi ... selama ini ...."


"Ini yang kau sembunyikan di balik tampang sangarmu?"


"Kau tak perlu berada di posisi teratas untuk menjadi kuat," ujar Ryugai. "Kau sudah kuat dari awal. Jika orang biasa menjalani hidup yang sama sepertimu, mungkin dia sudah bunuh diri sekarang. Namun, kau berhasil menjalani semua itu dengan hati yang kuat dan menyembunyikan kesedihanmu di balik wajah sangar dengan sempurna. Bagiku itu luar biasa."


"Bodoh. Jangan menghiburku." Genbu tersenyum miris. "Aku hanyalah seorang berandalan yang hina."


"Tidak ada yang jahat atau baik di dunia ini. Tidak ada putih atau hitam. Semuanya abu-abu. Tidak ada yang benar dan salah. Semuanya hanyalah korban dari ketidakadilan takdir." Ryugai mengulurkan tangannya yang masih dibalut perban. "Tapi, bersaing dengan curang seperti itu bukan gaya kita. Jadi bersainglah dengan jujur. Aku memaafkanmu. Kita akan selesaikan masalah ini secara kekeluargaan. Kau adalah temanku juga, 'kan?"


"Sekarang ini, kau tak perlu memendam semuanya lagi di balik tampang sangar itu. Keluarkan semuanya sebelum mereka membusuk di dalam dirimu. Ya, menangis memang bukan gaya seorang laki-laki ...."


"Tapi, itu adalah pantas bagi semua manusia. Itu adalah hal yang manusiawi. Jadi, lepaskanlah saja semuanya. Jangan kenakan topeng lagi."


"Memang aku tidak pantas untuk dipercayai ..., tapi ... bisa kujamin kalau ini takkan bocor ke teman-teman kita. Aku takkan bilang-bilang, kok."


"Hwaaaaaaaaaaa!!!" Genbu langsung menangis tersedu-sedu layaknya bayi sambil mencengkeram bahu Ryugai. Tangisan pertama Genbu. Untuk pertama kalinya, ia menunjukkan kepribadian aslinya. Ryugai adalah orang pertama yang melihat wajah asli dari Genbu. Ya, ini adalah wajah aslinya. Tanpa topeng selapispun. Sifatnya yang sebenarnya.


"Jadi ini ...."


"Wajah asli dari Genbu?"


To be continued